Ekonomi Makro

Modal Asing Masuk, Rupiah Stabil Meski Fed Tak Turun

141
Modal Asing Masuk, Rupiah Stabil Meski Fed Tak Turun
BI catat aliran modal asing Rp8,04 triliun karena ekspektasi Fed tak turun, mendukung stabilitas rupiah di tengah kondisi global.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa berkurangnya ekspektasi penurunan suku bunga acuan The Fed mendorong investor asing menyimpan modalnya di Indonesia.

Data BI periode 17-20 Februari 2025 mencatat aliran modal asing melalui Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp6,96 triliun dan melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp1,08 triliun, sehingga total modal asing yang masuk mencapai Rp8,04 triliun.

Pengaruh Ekspektasi Suku Bunga Terhadap Modal Asing

Momentum Investasi Jangka Panjang

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Edi Susianto, menyatakan bahwa ekspektasi penurunan suku bunga yang semakin berkurang membuat investor asing memilih aset dengan tenor jangka panjang.

“Saya melihat asing memanfaatkan momentum ekspektasi penurunan suku bunga sehingga preferensinya di aset bertenor jangka panjang.

Hal ini juga menggambarkan bahwa Indonesia masih dianggap menarik dan risikonya manageable,” ungkap Edi pada Senin (24/2/2025).

Dampak Positif pada Nilai Tukar Rupiah

Dengan aliran modal asing yang tinggi, suplai valuta asing di pasar meningkat, memberikan dampak positif bagi nilai tukar rupiah.

Edi menambahkan bahwa kenaikan modal ini membantu menjaga stabilitas rupiah meski tekanan eksternal dari pasar global masih terus ada.

“Peningkatan modal asing akan memperkuat supply valuta asing, yang pada akhirnya mendukung pergerakan nilai tukar rupiah ke level yang lebih stabil,” jelasnya.

Peran SBN dan SRBI dalam Aliran Modal

Data dan Kontribusi Instrumen Keuangan

Berdasarkan data BEI, total volume perdagangan mencapai 33,68 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp12,18 triliun.

Meskipun terdapat 351 saham yang mengalami penurunan, aksi jual investor asing menghasilkan net sell jumbo sebesar Rp3,47 triliun. Namun, pada saat yang sama, instrumen SBN dan SRBI berhasil menarik pembelian yang signifikan, sehingga menghasilkan total modal masuk sebesar Rp8,04 triliun.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pasar mengalami tekanan, investor asing tetap melihat peluang di aset keuangan Indonesia, terutama melalui instrumen yang lebih aman dan stabil.

Sentimen Risk-On dan Perdagangan Global

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, peningkatan pembelian SBN dipengaruhi oleh sentimen risk-on di pasar global.

Pernyataan ini sejalan dengan pengumuman Trump mengenai kemungkinan perjanjian dagang antara AS dan China, yang memberikan sinyal positif bagi pasar obligasi.

“Dukungan BI terhadap kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) turut mendorong ekspektasi peningkatan stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Josua. Meskipun demikian, dampaknya terhadap rupiah tetap terbatas, dengan nilai tukar berkisar antara Rp16.200 hingga Rp16.330 per dolar AS.

Strategi Investasi dan Harapan Pasar

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version