Aksi Korporasi Strategis Dorong Lompatan Modal BVIC
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Bank Victoria International Tbk (IDX:BVIC) tengah bersiap mencetak sejarah baru dalam struktur permodalan perbankan nasional.
Perusahaan milik Suzanna Tanojo ini menargetkan lonjakan modal inti signifikan hingga menembus Rp4 triliun pada laporan keuangan kuartal II-2025.
Angka tersebut merepresentasikan kenaikan sekitar Rp400 miliar dibanding kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar Rp3,6 triliun.
Langkah agresif ini menjadi bukti bahwa BVIC tengah mengakselerasi posisinya untuk menembus klasifikasi bank kelompok KBMI 2.
Menurut regulasi OJK, bank perlu memenuhi syarat modal inti minimum Rp6 triliun untuk naik ke kategori KBMI 2.
Wakil Direktur Utama BVIC, Rusli, menyebut pencapaian ini patut disambut positif karena sudah Rp1 triliun di atas ambang minimum perbankan nasional.
Dua Aksi Korporasi Kunci Dorong Pertumbuhan
Kenaikan modal BVIC tak terjadi secara organik, melainkan buah dari dua strategi korporasi krusial yang digelar pada Juni 2025.
Aksi pertama ialah divestasi sebagian kepemilikan pada anak usaha syariahnya, PT Bank Victoria Syariah (BVS).
Dalam transaksi tersebut, BVIC melepas 19,8% saham BVS kepada PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN/IDX:BBTN).
BVIC mengantongi nilai transaksi senilai Rp322,5 miliar dengan keuntungan bersih sebesar Rp100,66 miliar.
Langkah kedua adalah pelaksanaan waran Seri VII (BVIC-W), yang menjadi instrumen tambahan permodalan berbasis pasar.
Hasil exercise waran tersebut memberi suntikan modal segar senilai Rp256,66 miliar ke struktur keuangan perseroan.
Kinerja CAR Menguat, Efek Langsung Modal Inti
Pertumbuhan modal inti BVIC tidak hanya berdampak pada posisi KBMI, tetapi juga memperkuat struktur permodalan lewat rasio kecukupan modal (CAR).
Selama lima tahun terakhir, CAR BVIC menunjukkan tren menguat sebagai refleksi disiplin manajemen risiko dan permodalan.
Pada akhir tahun 2021, rasio CAR BVIC masih berada di angka 17,49%.
Namun memasuki Maret 2025, CAR BVIC sudah melonjak ke posisi 21,02%.
Hal ini menunjukkan kapasitas bank dalam menyerap risiko operasional maupun ekspansi usaha semakin solid.
Rusli menegaskan bahwa peningkatan CAR ini juga didorong oleh efisiensi operasional dan optimalisasi portofolio aset.
Target KBMI 2, Realistis atau Ambisius?
Dengan capaian Rp4 triliun saat ini, jarak menuju syarat KBMI 2 sebesar Rp6 triliun semakin terpangkas.
Namun, tambahan Rp2 triliun tetap menjadi tantangan yang perlu strategi agresif lanjutan.
Kombinasi antara akuisisi investor strategis dan peningkatan laba ditahan bisa menjadi opsi akumulatif dalam semester berikutnya.
Sementara itu, keberhasilan divestasi dan waran baru-baru ini menjadi sinyal kuat bahwa investor melihat BVIC sebagai entitas yang layak tumbuh lebih besar.
Pelaku pasar kini menanti langkah selanjutnya dari manajemen BVIC untuk menjaga momentum tersebut.
Konsistensi pertumbuhan modal inti dan rasio CAR menjadi bahan bakar utama menuju transformasi menjadi bank KBMI 2.
BVIC masih punya ruang manuver luas di paruh kedua 2025 untuk merealisasikan ambisinya.
Tantangan tetap besar, tapi BVIC telah memulai lonjakan dari landasan yang meyakinkan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










