Dampak MRT Jakarta Tak Lagi Sebatas Moda Transportasi
JAKARTA, BursaNusantara.com – Kehadiran MRT Jakarta semakin membuktikan peran strategisnya dalam transformasi mobilitas perkotaan, bukan hanya sekadar moda transportasi baru, tapi juga instrumen pengurai kemacetan ibu kota.
Riset yang dilakukan bersama Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI) menunjukkan, MRT Jakarta telah berhasil menurunkan tingkat kemacetan di ibu kota sebesar 3%.
Penurunan itu tercermin dari peningkatan kecepatan rata-rata di sejumlah ruas jalan utama Jakarta, yang sebelumnya stagnan akibat kepadatan lalu lintas.
Direktur Operasi dan Pemeliharaan MRT Jakarta, Mega Tarigan mengungkapkan, kontribusi MRT terhadap perbaikan lalu lintas kini turut menggeser posisi Jakarta dalam indeks kota termacet di Indonesia.
Jakarta kini tidak lagi menempati posisi puncak kemacetan nasional, bahkan Bandung disebut telah melampaui Jakarta dalam hal tingkat kemacetan.
Mega menegaskan bahwa indikator tersebut bukan hanya persepsi, melainkan berbasis data empiris dari pemantauan lalu lintas yang dilakukan tim riset independen.
Hal ini diamini pula dengan pernyataan bahwa Jakarta kini berada di peringkat kelima dalam indeks kemacetan, jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
MRT Sumbang Efisiensi Ekonomi Rp2,2 Triliun
Selain berdampak pada kelancaran lalu lintas, MRT Jakarta juga diklaim menyumbang penghematan ekonomi yang signifikan.
Total penghematan berdasarkan waktu tempuh masyarakat pengguna MRT diperkirakan mencapai Rp1,9 triliun per tahun.
Angka ini berasal dari nilai waktu yang sebelumnya terbuang akibat kemacetan, namun kini bisa dialihkan ke aktivitas produktif berkat percepatan perjalanan.
Tak hanya dari sisi waktu, efisiensi juga muncul dari penurunan emisi udara, terutama partikel PM10 yang dilaporkan turun sebesar 18% di wilayah Jakarta.
Jika dikonversi ke dalam nilai ekonomi, penghematan akibat membaiknya kualitas udara mencapai Rp2,2 triliun.
Mega menyebutkan, tren positif ini mencerminkan peningkatan kualitas hidup masyarakat Jakarta yang tinggal di sekitar jalur MRT.
Bandung Kini Lebih Padat dari Jakarta
Dalam konferensi pers di Transport Hub, Jakarta, Mega turut menyoroti realitas baru bahwa kemacetan terparah kini bukan lagi milik ibu kota.
Bandung, yang selama ini dianggap lebih lengang, kini justru dilaporkan memiliki tingkat kemacetan lebih tinggi dari Jakarta.
Mega menyebutkan bahwa lonjakan penggunaan kendaraan pribadi serta minimnya moda transportasi publik massal menjadi penyebab utama lonjakan indeks kemacetan Bandung.
Perpindahan posisi ini menjadi sinyal bahwa reformasi transportasi berbasis rel seperti MRT bisa menjadi model yang layak diadopsi kota-kota lain di Indonesia.
MRT Jakarta terus menyiapkan ekspansi dan pengembangan layanan untuk menjaga momentum ini agar dampak sosial dan ekonominya semakin meluas.
“Kalau dikalkulasi dari nilai polusi udara, penghematannya mencapai Rp2,2 triliun,” ujar Mega sambil menutup sesi konferensi dengan optimisme soal masa depan transportasi publik perkotaan.











