Gaya HidupOlahraga

MU Rancang Sistem PSL, Suporter Ancam Gelar Protes Massal

408
MU Rancang Sistem PSL, Suporter Ancam Gelar Protes Massal
Manchester United diprotes fans akibat rencana sistem PSL yang dinilai mengusir suporter setia demi keuntungan finansial.

Rencana PSL Manchester United Tuai Penolakan Keras

JAKARTA, BursaNusantara.com – Wacana Manchester United menerapkan sistem lisensi kursi pribadi atau Personal Seat Licence (PSL) memicu kemarahan suporter dan ancaman protes besar-besaran di musim mendatang.

Berdasarkan laporan Mail Sport, sistem ini akan mengharuskan fans membayar hingga £4.000 atau sekitar Rp87 juta hanya untuk hak membeli tiket musiman.

Jumlah tersebut belum termasuk harga tiket musimannya sendiri, menjadikan total pengeluaran suporter semakin membengkak.

Jika diterapkan, Manchester United akan menjadi klub Premier League pertama yang mengadopsi skema ala klub NFL di Amerika Serikat tersebut.

Langkah ini dinilai sejumlah pihak sebagai upaya klub mencari keuntungan besar dengan mengorbankan loyalitas para pendukungnya.

Kritik Pedas dari Kelompok Suporter The 1958

Kelompok suporter garis keras, The 1958, menyuarakan penolakan keras terhadap rencana PSL yang dianggap sebagai bentuk pemaksaan keluar bagi fans setia.

Mereka menuduh manajemen klub lebih mementingkan keuntungan ketimbang menjaga hubungan jangka panjang dengan komunitas pendukung lokal.

“Ini bukan tentang permainan atau suporter — ini tentang keuntungan dan keserakahan,” ujar juru bicara The 1958 dalam pernyataannya.

Mereka bahkan menuduh klub “tidak dapat dipercaya sepatah kata pun”, menyebut MU hanya menjadi tolok ukur keserakahan yang akan ditiru klub lain.

Aksi protes dalam skala besar pun tengah dirancang untuk diluncurkan pada awal musim mendatang.

Warisan Protes Panjang Suporter terhadap Manajemen Klub

Protes terhadap kepemilikan klub bukanlah hal baru di tubuh Manchester United.

Sejak lama keluarga Glazer menjadi sasaran kemarahan fans, dan kini grup Ineos pimpinan Sir Jim Ratcliffe turut menuai sorotan.

Musim lalu, ribuan fans turun ke jalan memprotes kenaikan harga tiket serta desain stadion baru yang dinilai menyerupai “sirkus modern”.

Puncaknya terjadi pada Maret 2025, di mana protes terbesar pasca akuisisi 27,7% saham oleh Ratcliffe mengguncang atmosfer klub.

Kali ini, rencana PSL menjadi pemantik utama amarah fans yang selama ini merasa terpinggirkan oleh keputusan manajemen yang elitis.

Ancaman Terhadap Optimisme Musim Baru

Gelombang ketidakpuasan terhadap kebijakan klub muncul di saat Manchester United tengah membangun momentum positif.

Klub baru saja merekrut dua pemain anyar, Matheus Cunha dan Bryan Mbeumo, serta mencatat performa impresif selama tur pramusim di Amerika Serikat.

Namun, jika protes massal jadi digelar, hal tersebut dapat merusak atmosfer internal tim dan mengganggu fokus menjelang laga awal musim.

Pihak manajemen bersikeras bahwa rencana PSL masih dalam tahap konsultasi, bukan keputusan final.

Namun fakta bahwa perusahaan konsultan asal AS, CSL International, telah melakukan pembahasan dengan fans, mengindikasikan langkah klub sudah lebih dari sekadar wacana.

Bagi banyak suporter, langkah ini menunjukkan jurang makin lebar antara Manchester United sebagai institusi bisnis dan komunitas fans sebagai akar tradisional klub.

Aksi protes berikutnya diperkirakan lebih besar dan terorganisir, menandai babak baru ketegangan antara klub elit dan publik pendukungnya.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version