JAKARTA, BursaNusantara.com – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan performa Neraca Perdagangan Januari 2026 tetap berada di jalur positif dengan catatan surplus sebesar USD 0,95 miliar.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa pencapaian ini menandai konsistensi surplus perdagangan Indonesia selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Kinerja positif pada bulan pertama tahun ini ditopang secara dominan oleh surplus komoditas non-migas yang menyentuh angka USD 3,22 miliar.
Berdasarkan paparan Ateng dalam konferensi pers pada Senin (2/3/2026), lemak dan minyak hewan nabati menjadi salah satu pilar utama penyumbang surplus di sektor non-migas tersebut.
Komoditas bahan bakar mineral serta produk besi dan baja turut memberikan kontribusi signifikan dalam menjaga momentum pertumbuhan ekspor nasional.
Performa solid pada sektor-sektor manufaktur dan sumber daya alam ini mampu meredam tekanan defisit yang berasal dari pengadaan energi fosil di pasar internasional.
Dinamika Komoditas Migas dan Faktor Penyumbang Defisit
Kondisi sebaliknya terjadi pada neraca perdagangan komoditas migas yang masih mencatatkan defisit sebesar USD 2,27 miliar pada awal tahun ini.
Menurut riset BPS, beban defisit sektor energi ini bersumber dari impor minyak mentah, berbagai produk hasil minyak, serta gas untuk kebutuhan domestik.
Meskipun sektor migas mengalami tekanan, daya saing komoditas unggulan lainnya memastikan total neraca perdagangan barang tetap berada di zona hijau.
Kesenjangan antara performa ekspor non-migas yang kuat dan defisit migas menjadi gambaran struktur perdagangan Indonesia yang masih sangat bergantung pada sektor energi luar negeri.
Pemerintah terus memantau fluktuasi harga komoditas global yang memengaruhi variabel-variabel perdagangan migas dan non-migas tersebut.
Penguatan hilirisasi pada sektor besi dan baja serta minyak nabati tetap menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas Neraca Perdagangan Januari 2026.
Peta Mitra Dagang Utama dan Kontribusi Geografis
Amerika Serikat kembali mengukuhkan posisinya sebagai mitra dagang penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia dengan nilai mencapai USD 1,55 miliar.
India berada di peringkat kedua dengan kontribusi surplus sebesar USD 1,07 miliar, diikuti oleh Filipina yang menyumbang USD 0,69 miliar pada periode yang sama.
Data BPS juga menunjukkan surplus non-migas secara spesifik ke Amerika Serikat mencapai USD 1,81 miliar dan India sebesar USD 1,10 miliar.
Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan perdagangan dengan China yang mencatatkan defisit sebesar USD 2,47 miliar di tengah tingginya arus impor barang dari negara tersebut.
Australia dan Prancis turut menjadi negara penyumbang defisit bagi perdagangan Indonesia dengan nilai masing-masing USD 0,96 miliar dan USD 0,47 miliar.
Pemetaan distribusi surplus dan defisit antarnegara ini memberikan gambaran strategis bagi para pelaku usaha untuk melakukan diversifikasi pasar ekspor di masa mendatang.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












