Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Nilai Tukar Rupiah Menguat ke Rp16.800 di Tengah Tarif AS

10
×

Nilai Tukar Rupiah Menguat ke Rp16.800 di Tengah Tarif AS

Sebarkan artikel ini
Nilai Tukar Rupiah Menguat ke Rp16.800 di Tengah Tarif AS
Nilai tukar rupiah menguat tipis ke level Rp16.800 per USD pada Rabu (25/2). Simak pengaruh tarif impor AS dan peringkat terbaru Moody’s terhadap rupiah.

Dinamika Kebijakan Global dan Sentimen Domestik Moody’s

JAKARTA, BursaNusantara.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) ditutup menguat tipis pada perdagangan Rabu (25/2/2026). Mata uang Garuda tercatat terapresiasi sebesar 29 poin atau sekitar 0,17 persen menuju level Rp16.800 per USD di tengah ketidakpastian perdagangan global.

Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan ini dipicu oleh respon pasar terhadap kebijakan tarif impor global sementara sebesar 10 persen oleh pemerintah AS. Ketidakpastian meningkat seiring upaya Donald Trump menaikkan tarif tersebut menjadi 15 persen guna memicu inflasi dan menekan arus dagang.

Langkah Washington memperkenalkan kembali tarif berdasarkan otoritas hukum alternatif ini menyusul pembatalan bea masuk darurat oleh Mahkamah Agung AS pekan lalu. Kondisi tersebut memaksa pasar melakukan penyesuaian terhadap aset-aset emerging markets termasuk rupiah.

Implikasi Tarif Impor AS dan Suku Bunga The Fed

Sentimen eksternal juga dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran menjelang pertemuan di Jenewa pada hari Kamis. Meskipun ada sinyal kesediaan Iran untuk mencapai kesepakatan, potensi bentrokan militer tetap menjadi perhatian utama para pelaku pasar uang.

Di sisi lain, ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat diperkirakan akan bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama. Presiden Federal Reserve Boston, Susan Collins, menyatakan bahwa perbaikan pasar tenaga kerja mengharuskan suku bunga tetap di level saat ini untuk meredam risiko inflasi.

Kebijakan moneter AS yang restriktif ini menjadi penahan laju penguatan nilai tukar rupiah lebih jauh di pasar spot. Para investor cenderung berhati-hati menunggu data ekonomi terbaru yang dapat mengubah proyeksi kebijakan bank sentral AS ke depan.

Ketahanan Ekonomi Nasional dalam Tinjauan Moody’s

Dari dalam negeri, Moody’s Ratings memberikan peringkat Baa2 untuk obligasi pemerintah Indonesia senilai USD10 miliar dalam denominasi yuan dan euro. Ibrahim Assuaibi dalam risetnya menyebutkan bahwa Moody’s masih memandang positif ketahanan ekonomi nasional yang didukung kekayaan sumber daya alam.

Pertumbuhan ekonomi riil Indonesia diprediksi bertahan di level 5 persen dengan defisit fiskal yang terjaga di bawah ambang batas 3 persen PDB. Meskipun rasio utang diproyeksikan stabil pada angka 40 persen, lembaga pemeringkat tersebut menyoroti melemahnya prediktabilitas kebijakan dalam setahun terakhir.

Pemerintah kini menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan ekspansi belanja publik untuk program ketahanan pangan dan perumahan dengan basis penerimaan pajak yang sempit. Kurangnya komunikasi kebijakan yang efektif disebut berkontribusi pada peningkatan volatilitas di pasar valuta asing.

Berdasarkan kondisi tersebut, nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif pada perdagangan mendatang. Pergerakan kurs diperkirakan berada dalam rentang Rp16.800 hingga Rp16.830 per USD dengan kecenderungan ditutup menguat tipis.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan