JAKARTA, BursaNusantara.com – Northvolt, produsen baterai kendaraan listrik (EV) asal Swedia, resmi mengajukan kebangkrutan pada Rabu (12/3). Keputusan ini menjadi pukulan besar bagi ambisi Eropa untuk mengurangi ketergantungan terhadap China dalam industri baterai. Perusahaan yang didukung oleh Volkswagen dan Goldman Sachs ini mengalami kesulitan keuangan meskipun telah menerima pendanaan lebih dari US$10 miliar sejak didirikan pada 2016.
Northvolt Resmi Bangkrut
Keputusan pengadilan distrik di Stockholm menempatkan Northvolt sebagai salah satu kebangkrutan terbesar dalam sejarah Swedia, sebanding dengan kejatuhan Saab Automobile lebih dari satu dekade lalu.
Ketua Northvolt, Tom Johnstone, dalam konferensi pers menyatakan bahwa perusahaan telah mencoba berbagai cara untuk menghindari kebangkrutan, tetapi akhirnya langkah ini menjadi solusi terbaik bagi keberlangsungan bisnis dan para pemangku kepentingan.
Berdasarkan dokumen kebangkrutan di AS, Northvolt tercatat memiliki utang lebih dari US$8 miliar dari berbagai entitasnya yang terdampak kebangkrutan.
Pukulan bagi Industri Baterai dan Otomotif Eropa
Northvolt sebelumnya dipandang sebagai harapan besar bagi industri otomotif Eropa, terutama dalam mengurangi ketergantungan terhadap pemasok China seperti CATL dan BYD. Namun, kebangkrutan ini membuat masa depan industri baterai di kawasan tersebut semakin tidak pasti.
Dengan lebih dari 5.000 pekerja yang terancam kehilangan pekerjaan, serikat pekerja IF Metall menyebutkan bahwa kegagalan Northvolt disebabkan oleh kesalahan strategi dan manajemen yang kurang baik.
Operasi di AS dan Jerman Tetap Berjalan
Meskipun Northvolt mengajukan kebangkrutan di Swedia, operasinya di Amerika Serikat dan Jerman tidak termasuk dalam permohonan ini. Menteri Ekonomi Jerman, Robert Habeck, masih berharap ada investor yang dapat menyelamatkan pabrik Northvolt di negaranya.
“Pembicaraan masih berlangsung, masih ada kemungkinan bagi Northvolt untuk tetap bertahan,” ujar Habeck.
Sementara itu, dokumen internal yang diperoleh Reuters menunjukkan bahwa anak perusahaan Northvolt di Polandia juga tidak terdampak kebangkrutan ini.
Dampak Besar bagi Investor dan Mitra
Sejumlah mitra bisnis Northvolt kini mulai mencari alternatif pemasok. Porsche, yang sebelumnya memiliki kontrak pasokan dengan Northvolt, telah meninjau ulang kerja samanya. Volkswagen, sebagai pemegang saham utama, masih mempertimbangkan langkah lanjutan terkait investasi mereka di perusahaan tersebut.
Beberapa pemegang saham bahkan telah menulis ulang valuasi saham mereka menjadi nol, sementara mitra seperti Scania telah mengamankan pemasok baterai baru.
Northvolt sempat menerima pinjaman hijau senilai US$5 miliar untuk ekspansi pabrik, tetapi pendanaan ini akhirnya dibatalkan akibat memburuknya situasi keuangan. BMW juga membatalkan kontrak pasokan senilai US$2 miliar pada tahun lalu karena Northvolt gagal memenuhi komitmennya.
Akhir Perjalanan Ambisius Northvolt
Pendiri Northvolt, Peter Carlsson, yang merupakan mantan eksekutif Tesla, telah mengundurkan diri dari posisi CEO setelah perusahaan mengajukan Chapter 11 di AS. Carlsson menyatakan bahwa Northvolt membutuhkan dana segar sebesar US$1,2 miliar untuk menyelamatkan bisnisnya.
“Keputusan ini diambil setelah semua opsi pendanaan darurat tidak memungkinkan,” ujarnya.
Jenny Askfelt Ruud dari 4 to 1 Investments, salah satu investor terbesar Northvolt, mengatakan bahwa kebangkrutan ini bukan hanya kerugian finansial, tetapi juga kehilangan besar bagi ekonomi Swedia.
Dengan proses kebangkrutan yang kini diawasi oleh pengadilan, masa depan Northvolt dan industri baterai Eropa masih dipenuhi ketidakpastian.












