BankHeadlineKeuangan

NPL KPR Meningkat, Pertumbuhan Kredit Melambat

127
NPL KPR Meningkat Pertumbuhan Kredit Melambat
Rasio NPL KPR industri perbankan naik menjadi 2,84% per Januari 2025. Simak penyebab dan strategi bank mengatasi lonjakan kredit macet.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Perbankan Indonesia menghadapi lonjakan rasio kredit macet atau non-performing loan (NPL) pada sektor kredit pemilikan rumah (KPR). Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), per Januari 2025, rasio NPL KPR industri perbankan mencapai 2,84%, meningkat dari 2,53% pada periode yang sama tahun lalu.

Meskipun NPL KPR meningkat, total outstanding kredit KPR tetap mengalami pertumbuhan 10,80% secara tahunan (year-on-year/YoY). Namun, pertumbuhan ini melambat dibandingkan Januari 2024 yang mencatatkan kenaikan 12,59% YoY. Perlambatan ini menunjukkan adanya tekanan dalam sektor perumahan akibat faktor ekonomi yang memengaruhi kemampuan bayar debitur.

Faktor Penyebab Lonjakan NPL KPR

Dampak PHK dan Daya Beli yang Melemah

Executive Vice President (EVP) Consumer Loan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA, Welly Yandoko, mengungkapkan bahwa lonjakan NPL KPR dipicu oleh beberapa faktor utama, seperti:

  • Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang tinggi.
  • Melemahnya daya beli masyarakat akibat tekanan ekonomi.

Di BCA, kenaikan NPL KPR terjadi sejak kuartal kedua 2024. Namun, pada akhir tahun, NPL KPR BCA turun ke 1,26%, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri yang mencapai 2,61%.

Strategi Bank dalam Mengatasi NPL KPR

Langkah Mitigasi Risiko BCA

Untuk menekan kenaikan NPL, BCA menerapkan beberapa strategi mitigasi risiko, seperti:

  • Monitoring ketat terhadap kualitas kredit untuk tindakan korektif yang lebih cepat.
  • Pendekatan Know Your Customer (KYC) guna memastikan kemampuan bayar calon debitur.
  • Pemanfaatan analisis data dan credit scoring untuk menyaring nasabah berisiko tinggi.

Dengan strategi ini, BCA optimistis rasio NPL KPR tetap terkendali pada 2025.

BTN Alami Kenaikan NPL, Fokus pada Debitur Berisiko Rendah

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) atau BTN juga mencatat kenaikan NPL KPR baik untuk segmen subsidi maupun nonsubsidi sepanjang 2024.

  • NPL KPR subsidi naik dari 1,5% (Desember 2023) menjadi 1,7% (Desember 2024).
  • NPL KPR nonsubsidi meningkat lebih signifikan, dari 2,0% menjadi 3,7% pada periode yang sama.

Menurut Director Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, kenaikan NPL disebabkan oleh debitur yang sebelumnya mengikuti program restrukturisasi pandemi tetapi belum mampu kembali ke skema pembayaran normal.

“Kondisi ekonomi makro, termasuk tren suku bunga tinggi dan PHK yang meningkat, turut memperburuk rasio kredit macet KPR,” ujar Setiyo.

Untuk menekan angka NPL, BTN menerapkan langkah-langkah strategis, seperti:

  • Seleksi ketat calon debitur dengan fokus pada segmen risiko rendah hingga moderat.
  • Memprioritaskan debitur dengan histori kredit baik, seperti first home buyer dan pegawai tetap.
  • Meningkatkan penggunaan teknologi dalam manajemen risiko, seperti decision engine untuk analisis kredit dan updating credit scoring otomatis.
  • Memperkuat unit kerja penagihan dengan menambah tenaga kerja dan mengoptimalkan teknologi dalam strategi penagihan.

Setiyo memperkirakan pertumbuhan NPL KPR BTN pada 2025 akan berada di kisaran 5-10%, seiring dengan program pemerintah “3 Juta Rumah” yang tetap mendorong ekspansi kredit perumahan secara selektif.

Adapun nilai outstanding NPL KPR BTN pada 2024 mencapai:

  • KPR subsidi: Rp 2,96 triliun.
  • KPR nonsubsidi: Rp 1,59 triliun.

Dengan meningkatnya rasio NPL KPR, perbankan diharapkan dapat terus menyeimbangkan pertumbuhan kredit dengan strategi mitigasi risiko yang efektif agar stabilitas sektor perumahan tetap terjaga.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version