JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah atmosfer pasar yang berubah cepat, tren penurunan suku bunga justru memicu semangat baru di ranah investasi pendapatan tetap.
CEO Sucor Sekuritas Bernard Wijaya menyebut pasar obligasi Indonesia kini tengah mengalami momentum “emas kedua” yang jarang terjadi dan para investor, katanya, mulai bergerak cepat menangkap peluang ini.
Obligasi Makin Menggoda, Bunga Turun Jadi Katalis
Bernard menilai, sinyal dua kali penurunan suku bunga dalam waktu singkat menjadi bahan bakar optimisme di pasar pendapatan tetap.
Baca Juga: Petrosea (PTRO) Terbitkan Obligasi & Sukuk Rp1,5 Triliun, Simak Rinciannya
Obligasi baik konvensional maupun syariah mendadak menjadi buruan investor karena imbal hasilnya kini terlihat lebih menarik ketimbang instrumen lain yang tertekan tren suku bunga rendah.
“Ini bukan sekadar momentum biasa. Di saat bunga turun, justru obligasi naik daun. Dan ini terlihat jelas dari peningkatan signifikan dana kelolaan reksa dana, terutama pada pasar uang dan instrumen fixed income,” ujar Bernard dalam seremoni pencatatan Sukuk Ijarah I BUMA Tahun 2025 di BEI, Kamis (27/3/2025).
Sektor ‘Kurang Seksi’ Kini Jadi Magnet Investor
Yang tak kalah menarik, lanjut Bernard, adalah bagaimana sukuk dari sektor yang sebelumnya dianggap “kurang seksi” pun kini jadi incaran.
Baca Juga: Bank Muamalat Indonesia Wealth Prosperity: Peluang Investasi di Tengah Tantangan Ekonomi 2025
Contohnya adalah sukuk ijarah dari BUMA, perusahaan jasa kontraktor batubara. Meski bukan sektor favorit, permintaan investor melonjak hingga oversubscribe 1,1 kali.
“Ini menandakan investor mulai lebih rasional dan menyasar fundamental, bukan sekadar tren sektoral. Artinya, pasar kita semakin matang,” paparnya. Ia menyebut fenomena ini sebagai sinyal bahwa landscape investasi di Indonesia telah mengalami pergeseran paradigma.
Data BEI: Pasar Sukuk Tumbuh Dua Digit
Dalam kesempatan yang sama, Direktur BEI Kristian Manullang membeberkan data menarik: selama 2024, pasar sukuk korporasi tumbuh 12,9% secara tahunan, dengan total nilai penerbitan mencapai Rp 19,95 triliun dari 28 emisi baru. Saat ini, BEI mencatat ada 136 emisi sukuk ijarah yang aktif dengan nilai total Rp 59,84 triliun.
Baca Juga: Penerbitan Efek Utang Rp3,14 Triliun: Momentum Bursa Pekan Ini
Hal ini, menurut Bernard, adalah bukti bahwa kepercayaan pasar terhadap instrumen syariah bukan tren sesaat, melainkan arah baru bagi investasi yang lebih berkelanjutan.
Momentum Baru di Pasar Pendapatan Tetap
Dengan tren ini, Bernard optimistis pasar obligasi termasuk sukuk ijarah akan terus menjadi penopang utama investasi di Indonesia.
Ia juga menyebut bahwa pengelolaan dana yang semakin profesional, likuiditas pasar yang stabil, serta regulasi yang akomodatif, menjadi faktor kunci dalam menopang pertumbuhan yang lebih besar di masa depan.
Baca Juga: Pemerintah Terbitkan Sukuk Tabungan ST014, BCA Optimistis Tingginya Minat Investor
“Investor hari ini jauh lebih cerdas, dan mereka tahu di mana harus menaruh dana untuk bertumbuh dengan aman. Obligasi dan sukuk menjawab kebutuhan itu,” tegas Bernard.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










