Ekonomi Makro

OECD: Ekonomi RI 2025 Tumbuh 4,7%, Jauh dari Target

70
OECD Ekonomi RI 2025 Tumbuh 4,7%, Jauh dari Target
OECD, IMF, dan Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia 2025 hanya tumbuh 4,7%, terpaut dari target 5,2% akibat ketidakpastian fiskal dan ekspor lesu.

Proyeksi OECD dan Lembaga Global Picu Alarm Ekonomi RI

JAKARTA, BursaNusantara.com – Laju ekonomi Indonesia tahun ini menghadapi tekanan ganda dari ketidakpastian kebijakan fiskal dan perlambatan ekspor.

Dua faktor utama itu menjauhkan target pertumbuhan nasional dari ambang 5,2% yang dicanangkan pemerintah.

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperkirakan ekonomi Indonesia 2025 hanya akan tumbuh 4,7%. Sementara pada 2026, laju tersebut naik tipis menjadi 4,8%.

OECD menyoroti pelemahan sentimen bisnis dan konsumsi akibat ketidakpastian fiskal serta tingginya biaya pinjaman. Hal ini menjadi beban utama terhadap konsumsi dan investasi swasta sepanjang paruh pertama 2025.

Inflasi dan Defisit Transaksi Jadi Tekanan Tambahan

OECD juga memproyeksikan inflasi di angka 2,3% untuk tahun 2025, dan naik menjadi 3% pada 2026. Pelemahan rupiah menjadi penyumbang utama kenaikan harga barang konsumsi.

Di sisi eksternal, defisit transaksi berjalan diperkirakan mencapai 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025. Angka ini akan melebar menjadi 2,4% pada 2026.

Kebijakan moneter diperkirakan akan longgar selama dua tahun ke depan. Hal ini mempertimbangkan inflasi yang terkendali di tengah perlambatan ekonomi yang berkelanjutan.

IMF dan Bank Dunia Juga Tak Optimistis

Laporan World Economic Outlook Dana Moneter Internasional (IMF) edisi April 2025 juga mencerminkan nada pesimis. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,7% baik pada 2025 maupun 2026.

Angka itu turun dari proyeksi Januari 2025 yang mencapai 5,1%. Sementara itu, Bank Dunia menyampaikan estimasi serupa: 4,7% di 2025 dan 4,8% pada 2026, dengan inflasi stabil di kisaran 2,3% dan 2,6%.

Ketiga lembaga global tersebut seolah menyampaikan sinyal kuat bahwa target pertumbuhan pemerintah terlalu ambisius dalam kondisi global yang tidak menentu.

Tantangan Struktural dan Ketergantungan Ekspor Komoditas

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai proyeksi OECD adalah cerminan kondisi realistis. Ia menyebutkan bahwa perlambatan ini bukan sekadar tren siklikal, melainkan cerminan masalah struktural mendalam.

“Tanpa intervensi kebijakan yang kuat, mencapai pertumbuhan 5% akan sangat menantang,” ujarnya.

Menurut Josua, kendati inflasi terkendali dan kondisi keuangan membaik, daya beli kelas menengah belum sepenuhnya pulih. Ini akan menghambat laju konsumsi dan investasi domestik.

Diversifikasi Ekspor Lemah, Ketergantungan Masih Tinggi

Ekspor Indonesia masih sangat bergantung pada komoditas mentah seperti batu bara dan sawit. Hal ini membuat kinerja ekspor sangat rentan terhadap fluktuasi harga dan kebijakan negara mitra.

“Rendahnya porsi ekspor manufaktur berteknologi tinggi menandakan bahwa upaya untuk meningkatkan kualitas ekspor belum membuahkan hasil berarti,” tegas Josua.

Ia juga menyebutkan bahwa target jangka panjang pemerintah untuk mendorong pertumbuhan hingga 8% dan menghapus kemiskinan ekstrem tampak terlalu optimistis di tengah kenyataan fiskal dan struktural saat ini.

Perlambatan Konsumsi dan Investasi Jadi Titik Lemah

Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyoroti pertumbuhan yang stagnan di kuartal I-2025. Ia menyebut pertumbuhan hanya mencapai 4,87%, jauh dari proyeksi ideal.

Menurutnya, konsumsi rumah tangga dan investasi sebagai dua pilar utama ekonomi menunjukkan perlambatan signifikan. Tanpa intervensi langsung dari pemerintah, pertumbuhan 5% hanya akan menjadi angan-angan.

“Stimulus yang menyasar langsung pada konsumsi dan investasi perlu segera dijalankan jika pemerintah tetap ingin mengejar target tahun ini,” ucap Yusuf.

Ia menegaskan bahwa ketergantungan pada permintaan domestik semata tidak cukup kuat untuk menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional.

Dorongan Reformasi Fiskal dan Pengakuan Realitas

OECD juga menekankan pentingnya disiplin fiskal serta reformasi struktural jangka menengah. Pengakuan terhadap kondisi aktual ekonomi disebut dapat memperkuat kredibilitas kebijakan nasional.

Tanpa penyesuaian realistis terhadap kondisi global dan domestik, perekonomian Indonesia bisa terus tersandera oleh ekspektasi berlebihan dan ketidaksiapan menghadapi tekanan struktural.

Dalam jangka pendek, fokus perlu diarahkan pada strategi fiskal yang menstimulus konsumsi rumah tangga dan sektor manufaktur, sekaligus mendorong diversifikasi ekspor ke produk bernilai tambah lebih tinggi.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version