KeuanganMultifinance

OJK Pesimis, Target Kredit 2025 Tetap Dipatok 11%

388
OJK Pesimis, Target Kredit 2025 Tetap Dipatok 11%
OJK pesimis soal pertumbuhan kredit, meski tetap menargetkan 9–11% di 2025. Kredit dan DPK melambat, LDR naik tajam jadi sinyal ketatnya likuiditas perbankan.

Target Tinggi di Tengah Pelambatan Kredit

JAKARTA, BursaNusantara.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersikap pesimis terhadap prospek pertumbuhan kredit perbankan pada 2025, meskipun tetap bertahan dengan target 9–11% yang telah ditetapkan sebelumnya.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyebut kredit perbankan per Mei 2025 hanya tumbuh 8,43% yoy menjadi Rp7.998 triliun.

Angka tersebut melambat dibandingkan April 2025 yang tumbuh 8,88% yoy dan belum menunjukkan sinyal percepatan menjelang semester kedua tahun ini.

Pelemahan terjadi merata di berbagai segmen, termasuk kredit korporasi yang kini tumbuh 11,92% yoy, namun mulai kehilangan momentum.

Sementara itu, kredit UMKM hanya mampu mencatatkan kenaikan 2,17% yoy, mempertegas lemahnya daya serap pembiayaan di sektor produktif mikro.

Mahendra mengakui kondisi tersebut menjadi tantangan untuk mencapai proyeksi optimistis yang telah ditetapkan.

Dalam Rapat Kerja bersama Pemerintah, Gubernur BI, dan Komisi XI DPR di Jakarta, Mahendra menegaskan bahwa target tetap dipertahankan di kisaran 9–11%.

Namun ia memberi sinyal kuat bahwa realisasi di akhir tahun kemungkinan hanya akan berada di batas bawah kisaran tersebut.

Ketimpangan Sektor dan Lemahnya DPK Jadi Sorotan

Kinerja kredit sejauh ini masih ditopang oleh sektor pertambangan, transportasi, dan rumah tangga, meski kontribusi sektor pertambangan terindikasi melemah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Pertumbuhan kredit yang tersentralisasi pada sektor tertentu memperlihatkan pola intermediasi yang belum inklusif dan rawan tekanan eksternal.

Lebih memprihatinkan, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) justru mencatat kinerja paling rendah sejak pandemi, hanya naik 4,29% yoy menjadi Rp9.072 triliun per Mei 2025.

Fenomena ini memicu tekanan likuiditas dan menciptakan ketidakseimbangan antara permintaan dan suplai dana di sistem perbankan.

Mahendra menyoroti dinamika tersebut sebagai faktor utama yang membentuk loan to deposit ratio (LDR) menjadi 88,16%, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Tingginya LDR mempertegas bahwa bank semakin bergantung pada penghimpunan DPK yang stagnan, sementara kebutuhan pembiayaan terus bertambah.

Risiko Likuiditas Mengintai, Tapi OJK Optimistis Masih Ada Ruang

Tingginya rasio LDR menjadi penanda bahwa ruang ekspansi kredit semakin terbatas tanpa dukungan kuat dari sisi pendanaan.

Namun OJK menilai angka LDR tersebut masih dalam batas aman jika manajemen risiko likuiditas dijalankan secara disiplin.

Mahendra menekankan bahwa tekanan likuiditas belum sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan, meskipun tren ke depan menuntut kehati-hatian.

Ruang ekspansi kredit dinilai masih terbuka terutama bagi bank yang memiliki struktur dana murah (CASA) kuat dan mampu menjaga kualitas aset.

OJK juga akan memantau lebih ketat pergerakan DPK dan kredit sektoral untuk mencegah tekanan sistemik pada sektor perbankan.

Dengan target yang tetap dipertahankan, tantangan bagi pelaku industri adalah menjaga pertumbuhan kredit tetap sehat di tengah kondisi pasar yang tidak bersahabat.

Keseimbangan Baru Diperlukan di Semester Kedua

Memasuki paruh kedua tahun 2025, fokus perbankan akan bergeser ke strategi efisiensi biaya dana dan optimalisasi portofolio kredit.

Kebijakan suku bunga acuan yang relatif tinggi dari Bank Indonesia (BI) masih menjadi hambatan struktural bagi ekspansi kredit baru.

Bank-bank besar kemungkinan akan lebih selektif menyalurkan pembiayaan, terutama ke sektor-sektor yang mampu menghasilkan margin tinggi dengan risiko terkendali.

Kredit korporasi akan tetap menjadi penopang utama, namun diversifikasi sektor menjadi kunci untuk mempertahankan momentum.

Dari sisi regulator, OJK tengah menyiapkan bauran kebijakan penguatan permodalan dan stimulus sektoral agar kredit bisa tumbuh sesuai target.

Dalam konteks makro, permintaan kredit akan sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global dan realisasi belanja fiskal domestik.

Jika sektor riil masih tertahan, maka pertumbuhan kredit perbankan berisiko tidak mencapai ekspektasi meskipun target tetap tinggi.

Ketegangan Antara Optimisme Target dan Realita Lapangan

Optimisme target OJK berhadapan langsung dengan tekanan realita lapangan yang ditandai oleh permintaan lemah dan likuiditas ketat.

Bank menghadapi dilema antara mendorong kredit dengan risiko tinggi atau menjaga kualitas aset dengan pertumbuhan yang melambat.

Ketimpangan antara pertumbuhan kredit dan DPK menjadi isu sentral yang perlu segera diatasi untuk menghindari ketidakseimbangan struktural.

Mahendra menegaskan, OJK tidak akan merevisi target meskipun indikator saat ini menunjukkan tren yang belum kondusif.

Pernyataan ini menjadi cerminan tekanan politis dan psikologis bagi sektor keuangan untuk terus tumbuh di tengah keterbatasan fundamental.

Namun demikian, industri perbankan dituntut untuk melakukan transformasi model bisnis agar bisa merespons situasi ini secara adaptif dan berkelanjutan.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version