Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

OPEC+ Guncang Harga Minyak: Produksi Naik, Brent Ambruk

71
×

OPEC+ Guncang Harga Minyak: Produksi Naik, Brent Ambruk

Sebarkan artikel ini
OPEC+ Guncang Harga Minyak Produksi Naik, Brent Ambruk
Harga minyak dunia anjlok usai OPEC+ sepakat naikkan produksi 2,5 juta bph mulai September, memicu kekhawatiran surplus dan guncang pasar global.

Strategi Agresif OPEC+ Tekan Harga Minyak Dunia

JAKARTA, BursaNusantara.com – Keputusan agresif OPEC+ untuk menaikkan produksi minyak mentah sebesar 2,5 juta barel per hari (bph) mulai September 2025 mulai mengguncang pasar global, dengan harga minyak Brent dan WTI langsung terpeleset pada awal pekan.

Langkah ini menandai pembalikan tajam dari strategi pemangkasan yang selama ini menopang harga, menciptakan tekanan baru pada ekspektasi pasar dan menguji kembali ketahanan permintaan global.

Sponsor
Iklan

Kapan dan Seberapa Besar Dampaknya Terjadi?

Pasar minyak mulai menunjukkan respons negatif sejak pembukaan perdagangan Asia pada Senin (4/8/2025), dengan Brent turun 43 sen ke US$ 69,24 per barel dan WTI melemah 39 sen ke US$ 66,94.

Penurunan ini memperpanjang koreksi harga sekitar US$ 2 per barel yang telah terjadi sejak penutupan Jumat sebelumnya, menandakan ketidakpastian pasar terhadap rencana pasokan baru OPEC+.

Volume tambahan produksi sebesar 547.000 bph secara resmi diumumkan sebagai fase pertama, namun angka riil diperkirakan melonjak ke 2,5 juta bph akibat peningkatan terpisah dari Uni Emirat Arab.

Langkah ini disebut-sebut sebagai sinyal kuat bahwa OPEC+ tidak lagi pasif menghadapi tekanan geopolitik dan mencoba merebut kembali pangsa pasar global dari pesaing non-OPEC.

Pengumuman dilakukan pada hari Minggu (3/8), kurang dari 24 jam sebelum pembukaan pasar, menciptakan reaksi spontan dan mencerminkan tingkat sensitivitas pasar terhadap dinamika pasokan.

Siapa Pemain Kunci di Balik Kenaikan Produksi Ini?

Arab Saudi dan UEA menjadi penggerak utama dalam percepatan produksi, dengan kapasitas cadangan yang memungkinkan lonjakan output tanpa kendala logistik berarti.

Analis RBC Capital Markets, Helima Croft, menegaskan bahwa meski angka utama tampak besar, sebagian besar kontribusi berasal dari dua negara tersebut.

“Taruhan bahwa pasar mampu menyerap tambahan pasokan tampaknya membuahkan hasil,” ujar Helima, menyiratkan bahwa produsen besar mulai menguji batas daya serap global.

OPEC+ juga tampaknya menggunakan momentum ini untuk mengoreksi ketergantungan pasar pada narasi gangguan pasokan akibat konflik Rusia yang sebelumnya menahan harga tetap tinggi.

Dengan kata lain, strategi ini bukan hanya soal volume, tapi juga mengenai dominasi naratif di pasar energi global, yang selama ini lebih dikendalikan oleh kekhawatiran ketegangan geopolitik.

Apa Alasan OPEC+ Mengambil Risiko Ini Sekarang?

Dalam pernyataan resmi, OPEC+ menyebutkan dua alasan utama di balik keputusan tersebut: kondisi ekonomi global yang tetap sehat dan persediaan minyak yang relatif rendah.

Keduanya dijadikan dasar keyakinan bahwa pasar global akan mampu menyerap tambahan pasokan tanpa menyebabkan lonjakan surplus yang signifikan.

Namun, keputusan ini juga bisa dibaca sebagai langkah taktis untuk mengantisipasi potensi kehilangan pangsa pasar di tengah masuknya produsen alternatif seperti AS dan Brasil.

Dengan menggenjot produksi lebih awal, OPEC+ tampaknya ingin mengunci permintaan dari negara-negara konsumen utama, sebelum tekanan kompetitif meningkat lebih jauh.

Hal ini menjadi semacam perang psikologis terhadap pasar: menekan harga agar produsen berbiaya tinggi kesulitan bertahan, sambil menegaskan kembali dominasi OPEC+ atas pasokan global.

Bagaimana Reaksi Pasar dan Potensi Risikonya?

Pasar minyak merespons negatif dalam jangka pendek, namun potensi fluktuasi lanjutan diprediksi bergantung pada faktor eksternal seperti konflik Rusia dan arah kebijakan The Fed.

Harga Brent dan WTI memang belum jatuh bebas, namun titik kritis berada pada level psikologis US$ 65 per barel untuk WTI, dan US$ 68 untuk Brent.

Jika level ini ditembus dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin gelombang aksi jual lanjutan akan muncul dari pelaku hedge fund dan spekulan pasar energi.

Selain itu, reaksi konsumen besar seperti Tiongkok dan India juga menjadi faktor penentu apakah surplus baru ini akan langsung diserap atau justru memperparah tekanan harga.

Investor kini menghadapi pilihan sulit: bertaruh pada pemulihan permintaan atau mengantisipasi gelombang pasokan berlebih yang dapat memicu perang harga jilid baru.

Ke Mana Arah Harga Minyak Dalam Jangka Menengah?

Jika strategi OPEC+ berhasil, pasar bisa kembali stabil pada kisaran US$ 70–75 per barel, dengan asumsi bahwa permintaan global terus tumbuh di atas ekspektasi.

Namun, jika ekspektasi tersebut meleset, terutama akibat penurunan permintaan dari Tiongkok atau kebijakan moneter ketat AS, harga minyak bisa kembali ke level US$ 60.

Kondisi ini membuka peluang arbitrase untuk pelaku pasar yang cermat membaca ritme pasokan dan konsumsi, khususnya dalam sektor derivatif dan komoditas berjangka.

Skenario terburuk adalah jika tambahan pasokan OPEC+ bertepatan dengan perlambatan ekonomi global, maka efek ganda dapat mendorong harga minyak ke zona bearish dalam waktu singkat.

Yang pasti, keputusan OPEC+ ini telah menggeser dinamika pasar dari isu geopolitik ke persaingan antar produsen besar, dengan implikasi strategis bagi seluruh ekosistem energi dunia.

Artikel ini akan terus diperbarui mengikuti perkembangan terbaru dari pasar energi dan kebijakan produksi OPEC+ di paruh kedua 2025.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.