Geser Kebawah
BisnisHeadlinePerdagangan & Industri

Optimisme Industri Besi dan Baja Indonesia di Tahun 2025

592
×

Optimisme Industri Besi dan Baja Indonesia di Tahun 2025

Sebarkan artikel ini
optimisme industri besi dan baja indonesia di tahun 2025 kompres
Optimisme industri besi dan baja Indonesia di 2025 meningkat berkat kebijakan strategis pemerintah. Potensi pertumbuhan dalam negeri pun jadi sorotan.

Menyongsong Optimisme Industri Besi dan Baja di Tahun 2025

JAKARTA, BursaNusantara.com – Tahun 2024 telah berlalu, meninggalkan jejak tantangan ekonomi global dan domestik. Namun, industri besi dan baja Indonesia menatap optimisme di tahun 2025, meskipun dihadapkan pada sejumlah tantangan. Bagaimana kebijakan pemerintah dan dinamika pasar dapat mendorong industri ini menuju pertumbuhan berkelanjutan?

Kilasan Ekonomi 2024: Pelajaran Berharga

Tahun 2024 menjadi tahun penuh tantangan bagi ekonomi global dan Indonesia. Konflik geopolitik berkepanjangan, pergantian kepemimpinan nasional, dan dinamika pasar membuat banyak investor memilih sikap “wait and see”. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia berhasil bertahan di angka 5%, memberikan harapan bagi masa depan yang lebih cerah.

Sponsor
Iklan

Industri besi dan baja, sebagai salah satu sektor strategis nasional, juga merasakan dampak ini. Dalam catatan Kementerian Perindustrian, produksi crude steel nasional mencapai 16,85 juta ton pada tahun 2023, meningkat 87% dibandingkan 2019. Kapasitas produksi pun diproyeksikan naik dari 21 juta ton menjadi 27 juta ton pada 2029.

Kontribusi Proyek Strategis Nasional

Proyek-proyek besar seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) telah menyerap produksi besi dan baja domestik hingga 330.000 ton pada 2024. Dengan total kebutuhan nasional mencapai 1,1 juta ton, proyek ini menyumbang sekitar 30% dari konsumsi besi dan baja nasional.

Namun, industri ini masih menghadapi tantangan besar, seperti tingginya impor baja murah dari China yang membanjiri pasar domestik. Harga predatory (predatory pricing) membuat banyak produsen lokal sulit bersaing, menurunkan utilisasi pabrik hingga 60%.

Strategi Kebijakan Pemerintah: Harapan Baru

Menyongsong 2025, pemerintah melalui kabinet Presiden Prabowo Subianto telah menyusun berbagai kebijakan strategis untuk melindungi industri lokal. Beberapa langkah yang telah diajukan meliputi:

  1. Penerapan Tarif Masuk dan Anti-Dumping: Langkah proteksi seperti yang dilakukan Amerika Serikat terhadap baja impor diharapkan dapat melindungi produsen lokal.
  2. Pengawasan Ketat Impor: Regulasi tata niaga impor diharapkan dapat mempersempit celah masuknya baja murah dari luar negeri.
  3. Dukungan Infrastruktur Domestik: Alokasi anggaran infrastruktur sebesar Rp400 triliun di APBN akan membuka ruang lebih besar bagi pemanfaatan besi dan baja lokal.

Ekonomi Makro dan Industri Besi Baja

Menurut Rizal Taufik Rohman, Kepala Pusat Riset Makroekonomi dan Keuangan INDEF, sektor industri manufaktur, termasuk besi dan baja, tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Dengan kontribusi sektor manufaktur mencapai 19% terhadap PDB, potensi industri ini untuk berkembang sangat besar.

Namun, ia menekankan pentingnya pemerintah untuk berani mengambil langkah proteksionisme, tanpa melanggar aturan perdagangan internasional. “Kita harus melindungi pasar domestik, sambil tetap menjaga semangat kerja sama bilateral,” ujarnya.

Potensi dan Tantangan 2025

Akbar Johan, Chairman Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA), menyoroti bahwa tantangan utama terletak pada rendahnya utilisasi pabrik. Dengan kapasitas produksi nasional sebesar 20 juta ton per tahun, banyak pabrik hanya beroperasi pada 60%-65% kapasitasnya.

“Peningkatan serapan baja lokal oleh proyek infrastruktur nasional menjadi solusi utama. Namun, tanpa regulasi tata niaga impor yang tegas, pasar lokal akan terus tergerus oleh produk impor murah,” kata Akbar Johan.

Menuju Masa Depan yang Berkelanjutan

Industri besi dan baja nasional memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung pembangunan Indonesia. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, sektor ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga bersaing di pasar internasional.

Peningkatan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci utama. Selain itu, penerapan teknologi canggih dalam proses produksi akan meningkatkan efisiensi dan daya saing.

Kesimpulan: Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi industri besi dan baja Indonesia. Dengan optimisme yang dibangun melalui kebijakan strategis, kolaborasi yang erat, dan dukungan penuh dari pemerintah, sektor ini siap menyongsong pertumbuhan berkelanjutan di masa depan.