Guncangan Proyeksi Kredit: Mengapa Moody’s Mulai Meragukan Disiplin Fiskal Nasional?
JAKARTA – Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service baru saja memberikan peringatan keras bagi stabilitas ekonomi tanah air. Moody’s secara resmi mengubah Outlook Moody’s Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Februari 2026.
Keputusan ini muncul sebagai respons atas kekhawatiran global terhadap manajemen anggaran dan kepastian hukum di Indonesia.
Meskipun Moody’s masih mempertahankan peringkat kredit pada level Baa2, perubahan prospek ini mengisyaratkan risiko penurunan peringkat tahun depan.
Pemerintah kini menghadapi tekanan besar untuk membuktikan kembali komitmen disiplin fiskalnya di mata investor global. Jika otoritas gagal melakukan perbaikan, aliran modal asing berpotensi meninggalkan pasar keuangan domestik secara masif.
Sorotan Tajam pada Defisit APBN dan Danantara
Moody’s menyoroti secara khusus pengelolaan defisit anggaran yang kini mendekati batas aman konstitusi sebesar 3%. Realisasi defisit APBN 2025 yang mencapai 2,92% memicu keraguan mengenai ruang gerak fiskal pemerintah pada masa mendatang.
Selain itu, kemunculan badan baru seperti Danantara menambah kompleksitas pertanyaan seputar transparansi tata kelola lembaga.
Ketidakpastian kebijakan ini semakin memburuk dengan adanya catatan mengenai lemahnya penegakan hukum dalam sektor perizinan bisnis. Moody’s menggarisbawahi kasus pembatalan izin lahan secara mendadak yang merusak rasa aman para investor jangka panjang.
Oleh karena itu, konsistensi antara regulasi dan implementasi di lapangan menjadi faktor penentu kembalinya Outlook Moody’s Indonesia ke level stabil.
Guncangan Yield SBN dan Kepercayaan Pasar Modal
Sentimen negatif dari penurunan prospek ini langsung memicu tekanan pada instrumen utang negara. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) mencatat kenaikan dari level 6,3% menuju angka 6,4% dalam waktu singkat.
Kenaikan ini memaksa pemerintah membayar biaya utang yang jauh lebih tinggi demi menarik minat investor.
Pasar modal kini berada dalam posisi waspada sambil memperhatikan langkah dua lembaga pemeringkat besar lainnya, Fitch dan S&P.
Mayoritas investor masih memegang harapan bahwa fundamental ekonomi domestik mampu meredam guncangan sentimen ini. Namun, volatilitas nilai tukar Rupiah tetap membayangi pergerakan pasar seiring dinamika indeks dolar global.
Strategi Pemerintah Mengembalikan Kredibilitas Global
Kementerian Keuangan bergerak cepat untuk meredam kekhawatiran dunia melalui pemaparan fundamental ekonomi yang kuat.
Pemerintah menargetkan penurunan defisit APBN 2026 ke level 2,68% guna memulihkan kepercayaan pemegang mandat Outlook Moody’s Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1% pada tahun lalu menjadi modal utama untuk meyakinkan lembaga internasional bahwa Indonesia tetap layak investasi.
Otoritas terkait juga mulai mematangkan integrasi teknologi digital untuk menjamin transparansi penyaluran subsidi dan jaminan sosial.
Langkah strategis ini bertujuan menghapus celah kebocoran anggaran yang sering kali menjadi sorotan negatif lembaga rating global. Akhirnya, keberhasilan pemerintah tahun ini akan menentukan apakah status kredit Indonesia akan tetap kokoh atau justru terjun bebas ke level spekulatif.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












