Geser Kebawah
BisnisPerdagangan & Industri

Pam Mineral (NICL) Optimistis Jaga Kinerja di Tengah Tekanan Harga Nikel

179
×

Pam Mineral (NICL) Optimistis Jaga Kinerja di Tengah Tekanan Harga Nikel

Sebarkan artikel ini
Pam Mineral (NICL) Optimistis Jaga Kinerja di Tengah Tekanan Harga Nikel
Pam Mineral (NICL) tetap fokus produksi dan efisiensi meski harga nikel global tertekan akibat kelebihan pasokan dan perang tarif internasional.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Emiten nikel PT Pam Mineral Tbk (NICL) menunjukkan sikap optimistis dalam menghadapi gejolak pasar komoditas global di tahun 2025.

Meski harga nikel mengalami penurunan akibat melimpahnya pasokan dan ketegangan dagang internasional, NICL tetap menjaga fokus pada efisiensi dan peningkatan produktivitas.

Sponsor
Iklan

Dampak Tekanan Global terhadap Harga Nikel

Tahun 2025 dimulai dengan tren penurunan harga nikel yang dipicu oleh kelebihan pasokan dari sejumlah negara produsen utama.

Hal ini ditambah dengan lesunya permintaan dari Tiongkok dan masih tingginya stok global.

Direktur Utama Pam Mineral, Ruddy Tanaka, mengungkapkan bahwa kondisi ini telah menekan harga nikel kembali ke kisaran US$ 15.000 per ton.

Penurunan ini juga dipicu oleh kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang memicu perang dagang baru.

“Investasi baru di sektor nikel mulai terhambat karena tekanan global yang masih tinggi,” ungkap Ruddy dalam paparan publik daring.

Strategi Bertahan: Efisiensi dan Produksi Maksimal

Menghadapi tantangan tersebut, NICL menegaskan bahwa strategi utama mereka adalah efisiensi operasional dan optimalisasi produksi.

Fokus ini juga mencakup konservasi sumber daya agar tetap kompetitif di tengah ketidakpastian harga.

Untuk tahun 2025, NICL menetapkan target produksi sebesar 809.875 wet metrik ton (wmt) nikel.

Sementara anak usaha mereka, PT Indabakti Mustika, diperkirakan memproduksi hingga 1.798.791 wmt.

Secara total, produksi gabungan keduanya ditargetkan mencapai 2,61 juta wmt, naik signifikan dari realisasi tahun lalu yang hanya 1,96 juta wmt.

Dari sisi penjualan, NICL dan entitas anak membidik volume sebesar 2.608.666 ton ore nikel dengan kadar nikel antara 1,3% hingga 1,65%, meningkat dari 2,3 juta ton yang berhasil dijual pada tahun sebelumnya.

Proyek Akuisisi Tambang Jadi Prioritas

Selain memperkuat lini produksi, NICL juga menargetkan rampungnya proses akuisisi tambang nikel milik PT Sumber Mineral Abadi.

Proses akuisisi yang sudah dimulai sejak 2024 ini berada pada tahap akhir dan menunggu persetujuan resmi dari Kementerian ESDM.

Total nilai transaksi akuisisi diperkirakan mencapai Rp 300 miliar.

“Kami targetkan akuisisi ini bisa selesai pada tahun ini,” ujar Ruddy.

Harapan Pemulihan dan Dukungan Hilirisasi Domestik

Meskipun tekanan eksternal masih membayangi, potensi pemulihan tetap terbuka.

Investment Analyst Edvisor Provina Visindo, Indy Naila, menilai bahwa jika tensi tarif global mereda, arus investasi dapat kembali masuk dan memberikan dorongan positif bagi emiten seperti NICL.

Ia menyebut bahwa saham NICL layak dikoleksi untuk strategi jangka pendek dengan rekomendasi trading buy di harga target Rp 490—500 per saham.

Sementara itu, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, turut memberikan rekomendasi speculative buy dengan level support Rp 438 per saham dan resistance di kisaran Rp 460, serta target harga Rp 470—478.

Dengan latar belakang proses hilirisasi nikel yang terus dikembangkan, terutama untuk sektor baja dan baterai kendaraan listrik, posisi NICL dinilai cukup kuat untuk tetap menjadi pemain utama di industri tambang nikel nasional.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru