Proteksi Kedaulatan Ekonomi Digital di Tengah Banjir Produk Impor
JAKARTA, BursaNusantara.com – Ketidakberdayaan produk lokal di Pasar E-Commerce Indonesia kini memasuki babak krusial yang mengancam kedaulatan ekonomi nasional.
Banjir barang impor yang difasilitasi oleh platform digital luar negeri memaksa pelaku UMKM domestik menghadapi persaingan harga yang berat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons ancaman tersebut dengan merancang strategi penguatan posisi lokapasar dan UMKM dalam negeri.
Langkah strategis ini diambil menyusul kekhawatiran atas masifnya penguasaan platform digital oleh entitas asing yang memicu limpahan barang impor.
Mengapa Siaran TikTok Menjadi Sinyal Alarm Darurat Bagi Menkeu?
Rancangan strategi proteksi ekonomi ini lahir setelah Purbaya menerima keluhan langsung dari masyarakat saat melakukan siaran langsung di platform TikTok.
Keluhan utama masyarakat berkisar pada sulitnya produk lokal bersaing di tengah dominasi modal dan barang kiriman dari China.
Menkeu menilai platform lokapasar besar seperti Tokopedia telah dikuasai oleh pihak asing secara menyeluruh.
Sistem digitalisasi dinilai justru memberikan akses langsung bagi raksasa teknologi China untuk melakukan ekspansi pasar ke konsumen domestik.
Purbaya menekankan pentingnya kehadiran kompetitor lokal yang tangguh untuk menjaga kedaulatan ekonomi digital di dalam negeri.
“Ada banyak keluhan-keluhan yang untuk marketplace, katanya dikuasai sana semua ya. Saya lagi mikir gimana kembalikan marketplace-nya. Enggak hanya yang dikuasai China, misalnya kan Tokopedia dikuasai China kan semuanya. Tiktok mau ke sini juga,” ujar Purbaya saat ditemui di Kantor Pusat DJP, Sabtu (21/3/2026).
Sanggupkah Pemain Lokal Merebut Kembali Pasar E-Commerce Indonesia?
Pemerintah kini sedang mengkaji keberadaan perusahaan domestik yang dapat dihidupkan kembali untuk menjadi kompetitor penyeimbang.
Langkah pembentukan penantang lokal ini dinilai mendesak untuk meredam cengkeraman platform asing di pasar domestik.
Laporan dari konsultan Bain and Company memperkuat kekhawatiran atas penguasaan pasar digital ini.
Berbagai platform asal China kini dilaporkan menguasai hampir 50 persen pasar e-commerce di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Dominasi penguasaan platform asal China tersebut mencakup pasar Indonesia yang memiliki nilai transaksi Gross Merchandise Value (GMV) sangat besar.
Nilai transaksi pasar lokapasar pada tahun 2024 sendiri tercatat mencapai angka USD 62 miliar atau setara dengan Rp1.031 triliun.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












