Geser Kebawah
Nasional

Pasien BPJS Meninggal: Ketika Dokter Tak Lagi Punya Nurani

72
×

Pasien BPJS Meninggal: Ketika Dokter Tak Lagi Punya Nurani

Sebarkan artikel ini
Pasien BPJS Meninggal di RSUD Cibabat, Suami Protes “Mentang-Mentang BPJS”
Kematian Ulfa Yulia Lestari di RSUD Cibabat picu debat publik soal wajah layanan medis Indonesia yang kaku dan dingin terhadap pasien BPJS.

Ketika Nyawa Harus Menunggu Jadwal Dokter

CIMAHI, BursaNusantara.com – Tangisan Nandang Ruswana di lorong rumah sakit bukan hanya jerit kehilangan, tapi juga simbol kemarahan publik atas wajah dingin layanan medis negeri ini yang dianggap telah lama kehilangan sisi manusiawinya.

Sponsor
Iklan

Ulfa Yulia Lestari, 30 tahun, meninggal di RSUD Cibabat pada Minggu (29/6/2025) siang setelah dua hari dirawat akibat komplikasi radang usus dan tumor jinak yang menyebabkan perutnya membengkak oleh cairan.

Namun, yang memicu kemarahan publik bukan hanya kematian itu sendiri, melainkan kesan bahwa Ulfa tak ditangani segera hanya karena ia pasien BPJS dan insiden itu terjadi saat akhir pekan.

Dalam video berdurasi 1 menit 49 detik yang viral di media sosial, Nandang terdengar histeris, menuduh tenaga medis RSUD Cibabat mengabaikan permintaan penyedotan cairan sejak Jumat pagi.

Permintaan itu disebut hanya dijawab dengan kalimat “dokternya belum datang” dan tak satu pun perawat berani bertindak.

Wajah Dingin Sistem Medis yang Sudah Terlalu Biasa

Di balik insiden ini, masyarakat seolah hanya mengangguk: “Sudah biasa.”

Tenaga medis di rumah sakit negeri memang telah lama dikenal bukan karena kehangatannya, melainkan karena sikap formalistis yang kaku, nyaris tanpa empati.

Sistem birokrasi pelayanan yang berbelit dan ketergantungan pada instruksi dokter menciptakan situasi di mana nyawa pasien seolah bisa ditunda, asalkan masih di dalam SOP.

Ketika pasien BPJS masuk IGD, sebagian besar publik sudah paham—akan lebih lama, akan lebih rumit, dan jangan berharap senyum ramah.

Dan yang tragis, citra “raja tega” ini tidak dibantah, hanya dibungkus oleh jawaban resmi rumah sakit: “Kami sudah sesuai prosedur.”

RSUD Cibabat: “Kami Tidak Menelantarkan”

Direktur RSUD Cibabat, Sukwanto Gamalyono, membantah keras tuduhan bahwa pihaknya lalai.

Ia menegaskan bahwa tim medis sudah bertindak profesional dan bahkan melakukan upaya resusitasi saat Ulfa mengalami henti napas.

Audit klinis disebut akan dilakukan demi transparansi dan klarifikasi.

Namun, bagi masyarakat, klarifikasi seperti ini justru terasa makin menjauhkan institusi medis dari empati publik.

Karena prosedur yang dijalankan tidak serta-merta membatalkan kenyataan bahwa pasien kritis dibiarkan dua hari tanpa tindakan karena “dokter belum ada”.

Pemerintah Daerah Bergerak, Tapi Apakah Cukup?

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, merespons cepat dengan memerintahkan audit terhadap manajemen RSUD Cibabat.

Dinas Kesehatan dan Inspektorat diminta menyelidiki apakah ada unsur diskriminasi terhadap pasien BPJS.

Namun reaksi pemerintah ini datang di tengah skeptisisme publik: karena masalah utamanya bukan pada satu rumah sakit, tapi pada sistem kesehatan kita yang telah lama memproduksi budaya dingin dan mekanistik.

Audit mungkin menemukan prosedur, tapi publik ingin keadilan.

Realitas BPJS: Layanan Setara, Tapi Tidak Sama

Fenomena ini bukan baru. Pasien BPJS sudah terlalu akrab dengan antrean panjang, ruang tunggu padat, serta keputusan medis yang lambat.

Status BPJS sering kali menjadi pembeda yang tidak tertulis namun dirasakan: yang satu bisa bayar, yang satu menunggu.

Dan ketika hari berganti akhir pekan, semua menjadi lebih rumit. Dokter spesialis sulit dijangkau, dan tenaga medis di lapangan hanya menjalankan protokol tanpa mengambil risiko.

Dalam sistem seperti ini, pasien kritis bukan dilihat sebagai prioritas, melainkan sebagai potensi tanggung jawab hukum jika salah prosedur.

Padahal, di titik kritis, justru nurani dan keputusan cepatlah yang bisa menyelamatkan nyawa.

“Jangan Ada Korban Kedua,” Harap Suami Almarhumah

Yang paling menyayat dalam tragedi ini bukan hanya kematian Ulfa, tapi sikap keluarganya yang tak menuntut, hanya meminta perubahan.

Nandang, suami Ulfa, menyampaikan dengan suara bergetar bahwa ia ikhlas atas kepergian istrinya, namun tidak ingin ada keluarga lain yang mengalami luka yang sama.

“Biar istri saya saja yang jadi korban. Jangan ada yang lain. Mentang-mentang BPJS, jangan sampai diperlakukan beda,” ujarnya.

Pernyataan ini bergema di hati masyarakat luas, karena menyuarakan harapan sederhana yang belum juga terpenuhi dalam sistem pelayanan medis kita: kemanusiaan.

Tragedi Biasa di Negeri yang Sudah Terlalu Terbiasa

Tragedi Ulfa adalah satu dari sekian banyak kisah yang mungkin tak masuk headline media nasional jika tidak diviralkan dengan emosi.

Tapi kisah ini mencerminkan akar persoalan yang lebih dalam: ketika pelayanan medis lebih takut pada regulasi daripada kehilangan nyawa pasien.

Ketika SOP dijunjung lebih tinggi dari naluri menyelamatkan hidup.

Ketika profesi yang seharusnya merawat justru menciptakan trauma kolektif pada masyarakat kelas bawah.

Kini publik hanya bisa berharap: semoga tangisan Nandang tidak hanya menjadi tontonan viral, tapi menjadi pemicu perombakan sistem yang telah lama kehilangan nuraninya.