Geser Kebawah
KeuanganMultifinance

Pembiayaan Investasi Multifinance Mulai Terkoreksi

298
×

Pembiayaan Investasi Multifinance Mulai Terkoreksi

Sebarkan artikel ini
Saham Multifinance Bergerak Variatif, Saham Ini Paling Tangguh
Saham emiten multifinance bergerak variatif hingga Juni 2025. BFIN dinilai paling menjanjikan di tengah tantangan industri.

Tekanan Makroekonomi Ancam Laju Pembiayaan Investasi

JAKARTA, BursaNusantara.com – Setelah mencatat pertumbuhan yang mengesankan pada awal 2025, tren pembiayaan investasi perusahaan multifinance mulai menunjukkan tanda-tanda pelambatan seiring tekanan makroekonomi yang terus membayangi.

Pada Mei 2025, PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) membukukan pembiayaan investasi sebesar Rp 794 miliar.

Sponsor
Iklan

Jumlah tersebut tumbuh 54% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencerminkan permulaan tahun yang kuat.

Namun secara kuartalan, performa CNAF justru cenderung stagnan dan bahkan terkoreksi tipis sebesar Rp 316 juta dari kuartal I.

Presiden Direktur CNAF, Ristiawan Suherman, menyebutkan rasio pertumbuhan juga melambat dari 76% di kuartal I menjadi 54% pada Mei 2025.

Fenomena ini disebutnya sebagai dampak dari meningkatnya kehati-hatian pelaku usaha di tengah gejolak eksternal dan lemahnya daya beli domestik.

Sikap Hati-Hati Pelaku Usaha Picu Stagnasi

Tren pelemahan pembiayaan investasi juga dialami oleh PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance/IDX:ADMF) yang mencatatkan nilai Rp 1,7 triliun per Mei 2025.

Meskipun nilai ini tetap signifikan, kontribusinya hanya sekitar 13% terhadap total portofolio Adira.

Angka tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menandakan adanya tekanan lanjutan pada sektor ini.

Chief Financial Officer Adira Finance, Sylvanus Gani menyebut situasi pasar belum sepenuhnya pulih dan pelaku usaha kini cenderung mengambil posisi wait and see.

Menurutnya, permintaan pasar yang masih lemah dan daya beli yang belum membaik memperbesar ketidakpastian keputusan investasi.

Ancaman Eksternal Mulai Terasa Jelang Semester Kedua

Direktur Ekonomi Digital dari Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda menjelaskan bahwa dorongan musiman seperti Ramadan dan Lebaran menjadi faktor utama yang mendukung ekspansi investasi pada kuartal I.

Namun, ia menilai efek positif tersebut bersifat temporer dan tidak cukup kuat menahan tekanan eksternal yang mulai membayangi pada paruh kedua tahun ini.

Ia menyebut indeks bisnis yang melemah serta kekhawatiran resesi global dan konflik geopolitik berpotensi menghambat laju ekspansi investasi lebih lanjut.

Kondisi suku bunga tinggi akibat inflasi global juga dinilai akan memperlemah permintaan pembiayaan, terutama untuk sektor investasi yang bersifat jangka panjang.

“Ini adalah skenario yang membuat pelaku usaha menahan diri, karena risiko kontraksi di depan mata,” ujar Nailul.

Prospek Pembiayaan Akan Bergerak Moderat Hingga Akhir Tahun

Dalam konteks tekanan makroekonomi yang belum mereda, prospek pembiayaan investasi dari sektor multifinance diperkirakan tidak akan sekuat semester I.

Adira Finance, melalui CFO-nya, memperkirakan bahwa pertumbuhan akan bergerak dalam rentang moderat hingga penutupan tahun fiskal.

“Kami tetap optimis namun realistis, berharap pemulihan ekonomi mendorong konsumsi dan permintaan investasi kembali tumbuh,” ujar Sylvanus Gani.

CNAF pun mengambil pendekatan serupa dengan tetap mempertahankan prinsip kehati-hatian dan selektivitas tinggi terhadap sektor-sektor prioritas.

Pelaku usaha dinilai lebih fokus pada efisiensi dan penguatan struktur keuangan daripada ekspansi agresif pada periode penuh risiko ini.

Sektor Riil Masih Bergantung Pada Pulihnya Permintaan

Menurut Nailul Huda, strategi multifinance ke depan akan sangat dipengaruhi oleh arah pemulihan konsumsi domestik dan stabilitas makro global.

Jika permintaan tidak segera pulih, maka sektor pembiayaan akan tetap menghadapi tekanan, khususnya di area investasi yang memiliki risiko lebih tinggi.

Ia menambahkan bahwa multifinance tidak bisa hanya mengandalkan momentum sesaat, melainkan harus merumuskan strategi jangka menengah yang adaptif terhadap perubahan global.

“Stabilitas dan keyakinan pasar akan jadi kunci, bukan hanya stimulus musiman,” tegasnya.

Dengan asumsi tekanan suku bunga tetap tinggi dan geopolitik belum membaik, pelaku pasar perlu menyiapkan skenario konservatif untuk semester II.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.