Ketegangan Internal AS Memuncak Usai Serangan ke Iran
Fakta Gagalnya Misi Pengeboman Iran Dibungkus Retorika Kemenangan Trump
JAKARTA, BursaNusantara.com – Operasi pengeboman Amerika Serikat ke fasilitas nuklir Iran tampaknya jauh dari kata berhasil, meski Presiden Donald Trump tetap mengemasnya seolah kemenangan mutlak.
Presiden AS itu ngotot menyebut fasilitas Iran “hancur total”, meski penilaian Badan Intelijen Pertahanan (DIA) justru menunjukkan sebaliknya.
Laporan yang bocor ke publik ini menelanjangi kenyataan pahit: fasilitas inti Iran seperti Fordow, Natanz, dan Isfahan sebagian besar masih beroperasi.
DIA menyimpulkan dampak serangan hanya menunda program nuklir Iran dalam hitungan bulan, bukan menghancurkannya secara permanen.
Namun bagi Trump, fakta teknis bukan halangan untuk menyusun narasi kemenangan militer yang politis.
Misi Hancurkan Nuklir Iran Gagal, Tapi Diubah Jadi Propaganda
Sumber CNN menyatakan bom penghancur bunker seberat 30.000 pon hanya meluluhlantakkan struktur permukaan.
Infrastruktur bawah tanah—tempat aktivitas nuklir utama dilakukan—diyakini masih bisa difungsikan kembali dalam waktu dekat.
Dengan kata lain, serangan AS gagal mencapai tujuan utamanya: mematikan kemampuan nuklir Iran secara menyeluruh.
Meski begitu, Trump justru menanggapi laporan itu dengan klaim bombastis di Truth Social.
Ia menyebut situs nuklir Iran telah “hancur total”, sebuah pernyataan yang bertolak belakang dengan data dari lembaga resmi AS.
Trump Bungkam Fakta, Perkuat Ilusi Keberhasilan
Pernyataan Trump dibumbui retorika nasionalisme: memuji para pilot tempur, menyanjung akurasi serangan, dan menyalahkan media.
Setiap elemen narasi disusun untuk menutupi kegagalan teknis, dan mengubahnya menjadi kemenangan politik.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, bahkan menyebut laporan intelijen yang bocor sebagai “upaya menjatuhkan presiden”.
Retorika itu tidak membahas substansi—apakah fasilitas Iran betul-betul hancur—tetapi berfokus menyalahkan kebocoran dan media.
Realitasnya, laporan teknis yang bocor memperlihatkan serangan AS gagal mengenai target strategis sesungguhnya.
Retakan Dalam Narasi Gedung Putih Kian Terbuka
Klaim resmi dari Gedung Putih mulai kehilangan kredibilitas di mata publik menyusul kontradiksi ini.
Di satu sisi, Trump dan kabinetnya bersikeras bahwa fasilitas nuklir dihancurkan.
Di sisi lain, laporan DIA mengungkap fasilitas utama Iran—seperti sentrifus bawah tanah dan cadangan uranium—masih aman.
Fakta ini membuka celah besar antara kenyataan di lapangan dan narasi politik yang dibangun presiden.
Bagi pengamat militer, ini bukan sekadar beda interpretasi, tetapi sinyal gagalnya operasi strategis.
Pejabat AS Panas Dingin, Media Dicap Musuh
Menteri Pertahanan Pete Hegseth ikut membela Trump, menyatakan serangan menghancurkan kemampuan nuklir Iran.
Namun argumen itu dibantah data: tidak ada bukti bahwa Iran kehilangan kapasitas nuklir jangka panjang.
Klaim semacam ini lebih mencerminkan tekanan politik daripada analisis strategis berbasis fakta.
Steve Witkoff bahkan menyebut bocoran ini sebagai “pengkhianatan” dan menyerang media seperti CNN dan RNTV.
Namun di balik retorika emosional itu, publik melihat celah: serangan yang gagal diubah jadi pertunjukan politik.
Narasi Kemenangan, Bayangan Kegagalan
Trump membingkai misi sebagai sukses besar untuk memperkuat citra menjelang pemilu dan menepis anggapan lemah dalam kebijakan luar negeri.
Namun data dari dalam pemerintahannya sendiri justru menyajikan realita pahit yang tak bisa ditutupi selamanya.
Fasilitas bawah tanah Iran tetap berdiri, program nuklir hanya tertunda, bukan terhapus.
Dalam politik luar negeri, hasil seperti itu tak bisa disebut kemenangan mutlak—apalagi jika dibalut klaim bombastis.
Narasi politik boleh dikuasai Trump, tapi fakta teknis tetap berbicara: misi gagal, propaganda jalan terus.












