Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Perak Melejit, Emas Tertahan Dolar di Tengah Krisis Iran-Israel

88
×

Perak Melejit, Emas Tertahan Dolar di Tengah Krisis Iran-Israel

Sebarkan artikel ini
Perak Melejit, Emas Tertahan Dolar di Tengah Krisis Iran-Israel
Harga perak melonjak ke level tertinggi dalam 13 tahun, sementara emas hanya naik tipis akibat penguatan dolar dan ketidakpastian geopolitik Iran-Israel.

Pergerakan Komoditas Diwarnai Ketegangan Global dan Spekulasi The Fed

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar logam mulia pada Selasa (17/6/2025) bergerak dalam pola yang kontras di tengah menguatnya ketegangan geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Harga emas spot hanya mencatat kenaikan terbatas sebesar 0,1% ke level US$ 3.388,7 per troy ons.
Namun, kontrak berjangka emas AS justru turun 0,3% ke posisi US$ 3.408,7 per troy ons.

Sponsor
Iklan

Indeks dolar AS menguat 0,8% seiring meningkatnya permintaan terhadap greenback sebagai aset aman.
Kondisi ini menekan harga emas yang cenderung bergerak berlawanan arah terhadap dolar.

Analis Kitco Metals Jim Wyckoff menyebutkan pasar emas sedang berkonsolidasi jelang pengumuman penting dari The Fed.
Situasi Timur Tengah juga menambah unsur ketidakpastian yang ikut mempengaruhi psikologis pelaku pasar.

Ketegangan Iran-Israel Seret Emas, Dorong Perak Melesat

Presiden AS Donald Trump menyatakan siap menuntaskan konflik nuklir dengan Iran melalui jalur diplomatik.
Meski demikian, eskalasi militer terus berlangsung dengan serangan udara antara Israel dan Iran memasuki hari kelima.

Situasi ini biasanya menjadi pemicu naiknya permintaan emas sebagai aset safe haven.
Namun kali ini, penguatan dolar AS membuat lonjakan emas tertahan.

Sebaliknya, perak justru mencatat reli signifikan hingga 2% menjadi US$ 37,08 per ons.
Harga perak bahkan sempat menyentuh level tertingginya sejak Februari 2012.

Citi memproyeksikan harga perak dapat menembus US$ 40 dalam 6–12 bulan ke depan.
Defisit pasokan berulang dan penundaan penjualan oleh pemilik stok menjadi pendorong utamanya.

Bank Sentral Dunia Intensif Tambah Cadangan Emas

Laporan World Gold Council mengungkap tren baru dari bank sentral global.
Sebagian besar institusi memproyeksikan peningkatan porsi emas dalam cadangan devisa mereka dalam lima tahun ke depan.

Lingkungan suku bunga rendah diperkirakan tetap menjadi pendorong minat terhadap emas.
Kombinasi ini menegaskan fungsi logam mulia sebagai pelindung nilai dalam portofolio global.

Rabu (18/6/2025) waktu setempat, The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunganya.
Mayoritas pelaku pasar memperkirakan tingkat suku bunga acuan tetap berada di 4,25%-4,50%.

Pasar tengah menunggu sinyal dari Ketua The Fed Jerome Powell terkait arah kebijakan moneter ke depan.
Komentar yang terlalu hawkish berpotensi membatasi pergerakan emas dalam waktu dekat.

Data Ekonomi AS Tak Banyak Mengubah Sentimen Logam Mulia

Data penjualan ritel AS pada Mei tercatat turun lebih dalam dari ekspektasi pasar.
Meski demikian, konsumsi masyarakat tetap solid berkat pertumbuhan upah yang masih kuat.

Pasar logam selain emas dan perak turut bergerak menguat di tengah sentimen global.
Platinum naik 1,6% ke level US$ 1.264,08 dan palladium melonjak 1,7% ke US$ 1.046,96 per ons.

Permintaan investasi terhadap logam industri tampaknya ikut terdorong oleh prospek suku bunga jangka menengah.


Tekanan pasokan dan ekspektasi terhadap inflasi global juga memberi dorongan tambahan.

Harga logam mulia kini mencerminkan perpaduan antara gejolak geopolitik dan dinamika ekonomi AS.
Investor diperkirakan tetap mencermati arah dolar dan pidato resmi The Fed sebelum membuat reposisi besar.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.