Headline

Perbankan Terjepit! SBN Tarik Dana Nasabah, Likuiditas Makin Ketat

109
Perbankan Terjepit! SBN Tarik Dana Nasabah, Likuiditas Makin Ketat
Persaingan likuiditas memanas! Perbankan kesulitan menarik dana akibat imbal hasil SBN yang lebih tinggi. Bagaimana dampaknya bagi industri keuangan?

Persaingan Likuiditas Memanas, Bank Kalah Saing dengan SBN

JAKARTA, BursaNusantara.com – Industri perbankan tengah menghadapi persaingan ketat dalam merebut dana nasabah, terutama dengan Surat Berharga Negara (SBN) yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan deposito. Meskipun Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan, nyatanya bunga perbankan tetap tinggi karena bank harus berjuang mempertahankan likuiditas.

Sejumlah bank besar, seperti BCA dan Bank Raya, mengakui bahwa daya tarik SBN yang lebih besar membuat mereka harus mencari strategi agar dana nasabah tetap bertahan di bank. Fenomena ini menciptakan dilema besar di sektor keuangan, di mana perbankan terjebak dalam kompetisi dengan instrumen investasi pemerintah yang semakin agresif.

SBN Menawarkan Imbal Hasil Lebih Tinggi

Salah satu penyebab utama ketatnya likuiditas perbankan adalah imbal hasil SBN yang masih di atas 6% hingga Februari 2025, jauh lebih tinggi dibandingkan suku bunga deposito perbankan yang hanya sekitar 4% untuk tenor 2 tahun.

Perbandingan Imbal Hasil SBN vs Deposito Bank

InstrumenTenorImbal Hasil (%)
SBN2 Tahun>6%
SBN10 Tahun>6%
Deposito Bank2 Tahun~4%

Dengan selisih imbal hasil yang cukup besar, nasabah cenderung memindahkan dana mereka ke SBN. Hal ini terlihat dari data yang menunjukkan bahwa kepemilikan individu di SBN meningkat 25,79% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 576,92 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan dari perseorangan turun 2,6% YoY.

Bank Mulai Merasakan Dampaknya

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, mengakui bahwa banknya menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan dana nasabah. Dengan 200.000 nasabah kaya yang berkontribusi 70% dari total pendanaan BCA, ada potensi besar bagi dana mereka berpindah ke SBN.

“Nasabah dengan dana besar tentu mencari instrumen investasi yang lebih menguntungkan. Jika SBN menawarkan bunga lebih tinggi, ada kemungkinan dana mereka akan berpindah,” ujar Jahja.

Sebagai gambaran, deposito BCA pada Januari 2025 tercatat sebesar Rp 195,4 triliun, turun dari Rp 205,93 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran dana dari perbankan ke instrumen investasi lain yang lebih menarik.

Direktur Bisnis Bank Raya, Kicky Andrie Davetra, juga menyoroti bahwa tingginya imbal hasil SBN membuat bank kesulitan bersaing dalam mencari likuiditas. Menurutnya, obligasi yang menawarkan imbal hasil 6% hingga 9% lebih menarik dibandingkan deposito yang mengikuti BI rate 5,75%.

“Saat likuiditas tersedot ke obligasi dengan return lebih tinggi, bank perlu mencari strategi lain agar dana tetap bertahan,” kata Kicky.

Bagaimana Strategi Bank Menghadapi Persaingan Likuiditas?

1. Meningkatkan Suku Bunga Deposito

Beberapa bank mungkin meningkatkan suku bunga deposito mereka agar lebih kompetitif dibandingkan SBN. Namun, ini bisa menekan margin keuntungan karena biaya dana menjadi lebih mahal.

2. Menawarkan Produk Investasi yang Lebih Kompetitif

Bank dapat memperkuat layanan reksa dana, obligasi, atau instrumen investasi lainnya agar nasabah tetap menginvestasikan dananya di dalam bank, bukan langsung ke SBN.

3. Memberikan Insentif kepada Nasabah

Beberapa bank mungkin mulai menawarkan program loyalitas, cashback, atau insentif lainnya bagi nasabah yang tetap menyimpan dana mereka di bank.

Perbankan Harus Beradaptasi dengan Tren Baru

Dengan kenaikan imbal hasil SBN dan ketatnya persaingan likuiditas, bank harus menemukan strategi terbaik untuk mempertahankan dana nasabah. Jika tidak, aliran dana ke instrumen investasi lain akan semakin besar, dan industri perbankan bisa menghadapi tantangan serius dalam pertumbuhan pendanaan mereka.

Apakah bank mampu menahan peralihan dana ini? Persaingan semakin sengit, dan industri keuangan harus cepat beradaptasi!

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version