JAKARTA, BursaNusantara.com – Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater semakin berkembang di Indonesia. Tak hanya perusahaan pembiayaan, kini perbankan juga mulai merambah lini bisnis ini, yang berpotensi memperketat persaingan di sektor tersebut.
Perbankan Masuk ke Bisnis Paylater
Direktur Keuangan PT Akulaku Finance Indonesia, Aan Setiawandi, mengakui bahwa masuknya perbankan ke bisnis paylater menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan pembiayaan. Pasalnya, perbankan memiliki cost of fund (biaya dana) lebih rendah, sehingga lebih kompetitif dalam menawarkan layanan BNPL.
“Masuknya perbankan ke bisnis paylater terjadi karena penetrasi layanan ini masih tergolong rendah, sehingga pangsa pasarnya masih luas. Selain itu, imbal hasil dari layanan BNPL lebih tinggi dibandingkan produk perbankan lainnya, membuat bank tertarik masuk ke bisnis ini,” ujar Aan dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Senin (17/3).
Strategi Akulaku Finance dalam Persaingan BNPL
Untuk menghadapi persaingan dengan perbankan, Akulaku Finance akan fokus pada pengembangan produk dan segmen konsumen yang lebih spesifik.
Fokus pada Kebutuhan Dasar dan Ticket Size Kecil
Layanan paylater Akulaku banyak digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar dengan ticket size relatif kecil, rata-rata di bawah Rp 500 ribu per transaksi.
“Ticket size kami tidak besar karena kebanyakan digunakan untuk pembelian kebutuhan sehari-hari, seperti token listrik. Selain itu, kami juga melayani masyarakat yang kurang terjangkau layanan perbankan (less bankable), yang masih memiliki potensi besar,” jelas Aan.
Porsi Paylater Dominan dalam Penyaluran Pembiayaan
Pada 2024, Akulaku Finance menyalurkan pembiayaan baru sebesar Rp 6 triliun, dengan layanan BNPL sebagai kontributor terbesar. Produk BNPL menyumbang 92% dari total pembiayaan baru perusahaan tahun ini.
Pandangan OJK terhadap Persaingan BNPL
Menanggapi persaingan BNPL antara perbankan dan perusahaan pembiayaan, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, menilai bahwa layanan paylater dari perbankan tidak akan menjadi hambatan bagi perusahaan pembiayaan.
“Dalam sektor keuangan, terutama BNPL, terdapat segmen pasar masing-masing. Selain itu, potensi pasar BNPL juga masih terbilang luas,” ungkapnya dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) di Jakarta Selatan, Selasa (11/2).
Agusman juga mengingatkan agar penyedia layanan paylater tetap berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudent banking).
Tren Pertumbuhan Paylater di Indonesia
Sebagai informasi, OJK mencatat penyaluran pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan meningkat 41,9% secara tahunan (YoY), menjadi Rp 7,12 triliun per Januari 2025. Hal ini menunjukkan bahwa layanan paylater masih memiliki prospek cerah di tengah persaingan yang semakin ketat.










