Geser Kebawah
Internasional

Pertemuan Panas Trump-Zelensky: Masa Depan Dukungan AS untuk Ukraina

107
×

Pertemuan Panas Trump-Zelensky: Masa Depan Dukungan AS untuk Ukraina

Sebarkan artikel ini
Pertemuan Panas Trump-Zelensky Masa Depan Dukungan AS untuk Ukraina
Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih berakhir dengan ketegangan, membahayakan dukungan militer AS unt

Ketegangan Meningkat di Pertemuan Gedung Putih

Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Jumat (28/3) berlangsung dalam suasana panas. Alih-alih mempererat hubungan bilateral, kedua pemimpin terlibat dalam ketegangan yang memicu berbagai reaksi dari pejabat Amerika Serikat dan komunitas internasional.

Menurut Penasihat Keamanan Nasional AS, Mike Waltz, Presiden Trump sedang berusaha mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua negara, tetapi Zelensky dinilai tidak menghargai kontribusi Amerika Serikat. “Terlalu banyak orang yang sekarat untuk terus menuntut lebih,” ujar Waltz di media sosial X.

Sponsor
Iklan

Kritik Tajam dari Politisi AS

Ketegangan ini mengundang berbagai reaksi dari anggota Kongres. Michael McCaul, Ketua Komite Urusan Luar Negeri DPR AS dari Partai Republik, menegaskan harapannya akan perdamaian yang nyata antara Ukraina dan Rusia. Ia juga mendorong Zelensky untuk segera menandatangani kesepakatan mineral dengan AS, yang diyakini dapat memperkuat kemitraan ekonomi kedua negara.

Namun, tidak semua pihak sependapat. Senator Lindsey Graham menilai sikap Zelensky dalam pertemuan tersebut tidak sopan dan mempertanyakan kelayakannya sebagai mitra AS. “Dia harus mengundurkan diri dan mengirim seseorang yang bisa kita ajak berbisnis, atau dia perlu berubah,” tegasnya.

Sementara itu, Don Bacon dari Partai Republik mengkritik pertemuan tersebut sebagai hari yang buruk bagi kebijakan luar negeri AS. “Ukraina menginginkan kemerdekaan, pasar bebas, dan aturan hukum. Kita harus jelas bahwa kita membela kebebasan,” katanya dalam pernyataan tertulis.

@socialfeeds.id

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terlibat perdebatan sengit terkait perang Ukraina-Rusia dalam pertemuan di Gedung Putih, AS, Jumat (28/2/2025) waktu setempat. Ketegangan memuncak di hadapan awak media global ketika Wakil Presiden AS, JD Vance, menekankan pentingnya diplomasi untuk mengakhiri konflik terbesar di Eropa sejak Perang Dunia Kedua. Zelenskyy, dengan tangan terlipat, membalas pernyataan itu dengan menyebut Presiden Rusia, Vladimir Putin tidak bisa dipercaya dan menuding Vance tak pernah mengunjungi Ukraina. Zelenskyy juga mengkritik Trump atas pendekatannya yang lebih lunak terhadap Putin. Trump merespons dengan mengingatkan bahwa Ukraina tidak berada dalam posisi menguntungkan dan memperingatkan Zelenskyy agar tidak mempertaruhkan nyawa rakyatnya. Dikutip dari Reuters, Sabtu (1/3), seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa Zelenskyy akhirnya diminta meninggalkan Gedung Putih usai cekcok tersebut. Insiden ini membuat seremoni penandatanganan perjanjian mineral serta konferensi pers yang telah dijadwalkan terpaksa dibatalkan. Sejumlah pejabat AS menyebutkan bahwa perjanjian tersebut belum sempat ditandatangani sebelum Zelenskyy meninggalkan Gedung Putih #socialfeed #beritahariini #fyp ♬ Epic News – DM Production

Respons Pejabat Demokrat

Di sisi lain, politisi Partai Demokrat justru melihat pertemuan ini sebagai kemunduran bagi kebijakan luar negeri AS. Senator Jeanne Shaheen mengungkapkan keprihatinannya terhadap kebijakan Presiden Trump yang dianggap meninggalkan komitmen terhadap Ukraina. “Tampaknya Presiden tidak mengerti betapa kejamnya diktator Vladimir Putin,” ujarnya.

Hakeem Jeffries, pimpinan Partai Demokrat AS, bahkan lebih keras dalam kritiknya. “Presiden Trump dan pemerintahannya terus mempermalukan Amerika di panggung dunia. Pertemuan Gedung Putih hari ini hanya akan semakin menguatkan Vladimir Putin, seorang diktator yang brutal,” ungkapnya.

Senator Jack Reed juga menyebut pertemuan tersebut sebagai “kegagalan kepemimpinan Amerika yang memalukan.” Ia menegaskan bahwa tindakan Trump dan sekutunya melemahkan posisi AS di mata dunia. “Trump dan Vance menyampaikan kepada dunia bahwa Amerika Serikat tidak dapat dipercaya. Musuh dan sekutu akan memperhatikan,” tambahnya.

Dampak Terhadap Kebijakan AS-Ukraina

Konflik antara kedua pemimpin menimbulkan pertanyaan besar mengenai arah kebijakan AS terhadap Ukraina ke depan. Sejumlah pejabat memperingatkan bahwa ketegangan ini dapat berdampak pada dukungan militer AS untuk Ukraina, yang hingga kini menjadi faktor kunci dalam upaya negara tersebut menghadapi agresi Rusia.

Di sisi lain, politisi Republik seperti Bill Hagarty menegaskan bahwa AS tidak akan lagi dianggap remeh di panggung internasional. “Perbedaan antara empat tahun terakhir dan sekarang sangat jelas. Amerika Serikat tidak boleh terus menerus dimanfaatkan,” ujarnya.

Kesimpulan: Apa Selanjutnya?

Setelah pertemuan yang diwarnai ketegangan ini, nasib hubungan AS-Ukraina masih menjadi tanda tanya besar. Zelensky mungkin perlu melakukan pendekatan baru agar tetap mendapatkan dukungan penuh dari Washington, sementara Trump tampaknya semakin menegaskan bahwa kebijakan luar negeri AS akan lebih pragmatis dan tidak lagi bergantung pada kepentingan negara lain.

Situasi ini bisa berdampak pada kelangsungan bantuan AS untuk Ukraina dan strategi jangka panjang negara tersebut dalam menghadapi Rusia. Keputusan-keputusan yang diambil dalam beberapa minggu ke depan akan sangat menentukan arah hubungan kedua negara ke depan.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru