Kontrak Jumbo PGEO: Strategi Terkonsolidasi Dalam Tubuh Pertamina
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (IDX:PGEO) resmi menandatangani kontrak jumbo bernilai Rp24,3 miliar dengan PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI), dalam transaksi afiliasi yang tak hanya efisien, tapi juga menyiratkan arah konsolidasi internal di tubuh Pertamina Group.
Nilai kontrak untuk pengadaan jasa Mud Logging Unit (MLU) tersebut diumumkan manajemen PGEO pada Rabu, 25 Juni 2025, dengan masa kerja selama 36 bulan.
Secara nominal, nilai kontrak ini hanya mencakup 0,0720% dari ekuitas PGEO, namun signifikansinya terletak pada jangka waktu panjang dan keterlibatan intensif PDSI dalam struktur kerja pengeboran geothermal.
Dengan TKDN mencapai 69,53%, kontrak ini turut menjadi katalisator pemanfaatan jasa domestik, sekaligus refleksi arah belanja modal yang kini lebih terkendali dan in-house.
PGEO-PDSI: Ekspansi Terkurung dalam Lingkaran Internal
Transaksi ini menggambarkan model in-house contracting ala Pertamina: struktur afiliasi yang menciptakan alur jasa internal, menghindari tender terbuka, namun tetap legal dan efisien.
PGEO dan PDSI berada dalam kendali tidak langsung PT Pertamina (Persero), menciptakan sinergi struktural di mana belanja operasional dialihkan ke sesama entitas dalam grup.
Dari sudut pandang pasar, strategi ini mengurangi friksi dan risiko eksternal, namun sekaligus menyisakan ruang diskusi tentang keterbukaan pasar dan kompetisi jasa pengeboran nasional.
Alih-alih membuka lelang terbuka untuk pelibatan pihak ketiga, PGEO justru memperkuat posisi PDSI sebagai pelaksana tunggal dalam proyek pengeboran.
Model ini menandai tren baru: struktur belanja jumbo dalam grup Pertamina yang lebih terkurung, terkontrol, dan ditujukan sebagai proteksi terhadap volatilitas pasar layanan energi.
Efisiensi Harga: Alasan Formal atau Strategi Likuiditas?
PGEO menyebutkan alasan utama transaksi ini adalah efisiensi harga: dari tarif harian operasi (THO) hingga biaya mobilisasi dan demobilisasi.
Namun di balik narasi efisiensi, ada agenda likuiditas internal yang secara diam-diam mengalihkan dana operasional lintas entitas dalam satu payung korporasi.
Dengan menjadikan PDSI sebagai mitra permanen dalam proyek jangka menengah, PGEO memperkecil ketergantungan pada vendor luar dan mengurangi potensi deviasi biaya.
Efisiensi ini bukan hanya soal tarif lebih murah, tetapi juga soal mengunci rencana kerja pengeboran agar tetap berjalan dalam kerangka waktu yang telah ditetapkan.
Secara teknis, MLU memang penting untuk memastikan akurasi pengeboran, namun secara strategis, kontrak ini adalah alat kontrol untuk memperkuat posisi PGEO dalam rantai kerja geothermal nasional.
Kontrak Jumbo sebagai Instrumen Stabilisasi Kapasitas Produksi
Kontrak ini tidak hanya mengatur pengerjaan jasa MLU, tetapi juga menjadi tulang punggung dalam menjaga keberlangsungan produksi listrik geothermal.
PGEO menyatakan bahwa proyek pengeboran, baik eksplorasi maupun make-up well, akan tetap berlanjut sesuai program, menjaga kapasitas pembangkit tetap stabil.
Dalam ekosistem geothermal, data dari unit MLU menjadi fondasi bagi perencanaan eksplorasi lanjutan dan mitigasi risiko teknis saat pengeboran.
Konsistensi data dan minimnya gangguan operasional adalah target jangka panjang dari kontrak ini, yang pada akhirnya bertujuan menstabilkan revenue dari lini pembangkit.
Dengan pendekatan ini, PGEO berupaya menjaga daya saing di tengah tantangan global pada sektor energi baru dan terbarukan yang makin kompleks dan kompetitif.
Potret Arah Baru: PGEO Sebagai Hub Internal Pekerjaan Energi
Melalui kontrak ini, PGEO menunjukkan sinyal transformasi sebagai hub internal pekerjaan geothermal dalam Grup Pertamina.
Di masa depan, kemungkinan model serupa akan diperluas untuk jasa lain seperti well service, cementing, hingga logging yang semua akan berada di bawah bayang-bayang PDSI.
Ini bisa menjadi peta jalan terselubung menuju efisiensi operasional, namun juga menimbulkan tantangan soal keterbukaan dan daya saing nasional di sektor energi.
Munculnya struktur kontrak jumbo terfokus ke afiliasi berpotensi menciptakan dualisme: efisiensi internal di satu sisi, dan eksklusi vendor eksternal di sisi lain.
Dalam konteks transisi energi dan kebutuhan pendanaan jumbo, langkah ini bisa dipandang sebagai taktik bertahan sekaligus bentuk restrukturisasi operasional terselubung.
PGEO, lewat kesepakatan ini, bukan hanya membeli layanan, tetapi juga mengatur ulang peta kekuasaan internal di tubuh Pertamina diam-diam namun strategis.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.








