JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) memberikan bocoran terkait rencana pembagian dividen untuk tahun buku 2024. Direktur Keuangan PGEO, Yurizki Rio, menyatakan bahwa rasio dividen yang akan dibagikan berkisar antara 80 hingga 90 persen dari laba bersih perusahaan.
“Itu masih valid, karena kita mau mempertahankan dividend per share-nya, at least itu walaupun profit kita turun, tapi dividend per share itu kita bisa mengalami kenaikan,” ujar Yurizki dalam acara Media Briefing: Capaian Finansial 2024 & Rencana Pengembangan Bisnis 2025, Rabu (26/3/2025).
Kinerja Keuangan PGEO 2024
Sepanjang tahun 2024, PGEO mencatatkan pendapatan sebesar USD 407,12 juta atau sekitar Rp 6,76 triliun (kurs Rp 16.610 per USD). Angka ini mengalami kenaikan tipis dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar USD 406,29 juta, sejalan dengan meningkatnya permintaan energi bersih di Indonesia.
Namun, laba bersih PGEO pada 2024 sedikit menurun menjadi USD 160,30 juta atau Rp 2,66 triliun dibandingkan laba tahun 2023 yang mencapai USD 163,57 juta. Meski demikian, perusahaan tetap optimis dalam menjaga nilai bagi pemegang saham melalui rasio dividen yang tinggi.
Direktur Utama PGEO, Julfi Hadi, menegaskan bahwa perusahaan akan terus memperkuat posisinya sebagai pemimpin industri panas bumi di Indonesia. “Pada 2024, PGE berhasil mencatat produksi listrik dan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah, yang didukung oleh peningkatan kinerja operasional di beberapa wilayah kerja panas bumi,” ungkap Julfi.
Strategi Belanja Modal 2025
Untuk tahun 2025, PGEO menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (Capex) sekitar USD 319 juta. Dana ini akan difokuskan pada pengembangan organik dan ekspansi bisnis di sektor energi panas bumi.
Menurut Yurizki, pengelolaan keuangan yang prudent dan optimal tetap menjadi prioritas utama perusahaan untuk memastikan keberlanjutan investasi dalam proyek-proyek strategis. “Memang beban operasi meningkat, tetapi ini merupakan bagian dari investasi strategis untuk memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang dan mendukung ekspansi kapasitas lebih besar ke depan,” jelasnya.
Beban pokok pendapatan PGEO pada 2024 meningkat menjadi USD 164,89 juta dari USD 158,35 juta di tahun sebelumnya. Sementara itu, arus kas operasional mengalami kenaikan dari USD 255,19 juta pada 2023 menjadi USD 258,29 juta pada 2024.
Panas Bumi sebagai Katalisator Transisi Energi
Sebagai salah satu perusahaan yang berkomitmen dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT), PGEO menilai panas bumi memiliki peran strategis dalam transisi energi di Indonesia. Hal ini disampaikan dalam konferensi perubahan iklim Conference of the Parties (COP) 29 di Baku, Azerbaijan.
“Sebagai negara dengan potensi panas bumi terbesar kedua di dunia, Indonesia memiliki tanggung jawab dan peluang besar menjadi pemimpin transisi energi global,” kata Julfi Hadi. Ia menambahkan bahwa panas bumi adalah solusi ideal untuk menggantikan bahan bakar fosil dalam mendorong transisi energi bersih dan mengurangi dampak perubahan iklim.
Dalam diskusi di COP29, Julfi Hadi menyoroti tantangan pengembangan energi panas bumi, termasuk dari sisi teknis, regulasi, hingga pembiayaan. Saat ini, dari total potensi panas bumi sebesar 24 GW, baru sekitar 10% yang dimanfaatkan. Oleh karena itu, PGEO menekankan pentingnya kolaborasi global untuk mempercepat pengembangan sektor ini.
Dengan strategi yang terukur, komitmen pada keberlanjutan, dan fokus pada pengembangan energi bersih, PGEO optimis dapat terus memberikan nilai tambah bagi pemegang saham sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












