Pidato Kenegaraan Prabowo Bergaung di Panggung Diplomasi
JAKARTA, BursaNusantara.com – Pidato kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR 2025 tidak hanya menjadi sorotan politik domestik, tetapi juga memicu resonansi diplomatik melalui apresiasi langsung dari perwakilan negara sahabat.
Duta Besar Suriah untuk Indonesia Abdulmonem Annan menilai pidato Prabowo sebagai salah satu yang paling transparan dan berisi, dengan penekanan pada isu-isu fundamental seperti pemberantasan korupsi, pembangunan ekonomi, dan kesejahteraan petani.
Sorotan Positif dari Timur Tengah
“Saya mendengarkan dengan penuh perhatian. Pidatonya luar biasa, sangat transparan,” ujar Annan usai acara di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (15/8/2025). Ia menyebut isi pidato menunjukkan kepemimpinan yang fokus pada kebutuhan rakyat sekaligus membangun arah kebijakan yang jelas.
Dukungan dari Eropa Selatan
Senada, Duta Besar Yunani untuk Indonesia Stella Bezirtzoglou juga mengaku terkesan dengan penyampaian dan substansi pidato. Ia berharap persahabatan panjang antara Indonesia dan Yunani semakin kokoh di bawah kepemimpinan Prabowo.
“Pidato itu luar biasa dan sangat mengesankan. Kami mendoakan yang terbaik untuk Indonesia,” ujarnya, menandai adanya kesan positif yang menembus batas geografis dan budaya.
Momentum Menjelang HUT Ke-80 RI
Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2025 digelar di Gedung Nusantara, Jakarta, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan RI.
Dengan tema “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, Prabowo memaparkan laporan kinerja lembaga negara sekaligus visi untuk periode kepemimpinannya, yang disampaikan di hadapan parlemen, pejabat tinggi negara, dan korps diplomatik.
Implikasi Diplomasi yang Lebih Luas
Apresiasi terbuka dari dua duta besar ini menandakan bahwa pesan yang disampaikan Prabowo tidak hanya relevan untuk audiens nasional, tetapi juga membangun persepsi positif di mata komunitas internasional.
Bagi dunia diplomasi, momen seperti ini menjadi instrumen soft power yang memperkuat posisi tawar Indonesia, baik dalam hubungan bilateral maupun forum multilateral.













Respon (7)