Ekonomi Makro

PMI Masih Kontraksi: Impor China Tekan Industri Lesu

82
PMI Masih Kontraksi Impor China Tekan Industri Lesu
PMI manufaktur Juli 2025 tetap kontraksi di 49,2 akibat lemahnya permintaan domestik dan gempuran impor China yang tekan industri nasional.

Manufaktur Tak Pulih, Daya Saing Terkikis Impor China

JAKARTA, BursaNusantara.com – Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia naik menjadi 49,2 pada Juli 2025, namun belum mampu keluar dari zona kontraksi.

Angka ini meningkat tipis dari posisi 46,9 pada Juni, namun tetap berada di bawah ambang ekspansi 50,0.

Kenaikan ini belum cukup menjadi sinyal pemulihan karena tekanan struktural masih kuat menahan laju industri.

Ekonom Senior Indef, Tauhid Ahmad, menilai dua faktor utama jadi penyebab: permintaan domestik yang lesu dan derasnya arus impor barang dari China.

Lemahnya Konsumsi Pasca Ramadan Hambat Produksi

Setelah Lebaran, konsumsi masyarakat anjlok karena alokasi belanja tersedot biaya pendidikan.

Menurut Tauhid, bulan Juni bertepatan dengan masa pendaftaran tahun ajaran baru yang menguras pengeluaran rumah tangga.

Pembelian barang-barang industri seperti elektronik, pakaian, dan perlengkapan rumah tangga ikut tertahan.

Fenomena ini memicu tekanan pada sisi permintaan yang belum mampu menopang peningkatan output industri.

Tauhid menyebut, permintaan pasar saat ini lebih kecil dibanding bahan baku yang dibeli pabrikan.

Input produksi lebih besar dari output, menciptakan ketidakseimbangan pada rantai pasok.

Inflasi dan Kewaspadaan Konsumen Perpanjang Kontraksi

Lonjakan harga pangan dan BBM nonsubsidi membuat konsumen makin selektif dalam membelanjakan uang.

Kekhawatiran terhadap inflasi yang belum sepenuhnya mereda mendorong perilaku wait and see.

Tauhid menekankan, kondisi ini menyebabkan pembelian produk manufaktur terus tertunda.

Masyarakat menahan konsumsi karena merasa beban biaya hidup terus meningkat.

Kondisi ini membuat sektor manufaktur kehilangan momentum pemulihan yang sempat muncul di kuartal I-2025.

Akibatnya, pertumbuhan output industri kembali stagnan dan belum bisa menopang ekspansi berkelanjutan.

Produk Impor China Kuasai Pasar, Industri Lokal Terdesak

Impor mesin dan peralatan elektronik dari China terus melonjak dalam beberapa bulan terakhir.

Masuknya barang-barang murah dari luar negeri memukul daya saing produk lokal di pasar domestik.

Tauhid menjelaskan, kenaikan impor ini terlihat jelas dalam neraca perdagangan yang semakin timpang.

Tekanan ini mengakibatkan industri dalam negeri sulit bersaing dari sisi harga dan distribusi.

Tanpa perlindungan struktural, sektor manufaktur hanya menjadi pasar bagi barang luar negeri.

Arus masuk barang impor secara berlebihan memperkuat kontraksi dan mengikis keberlanjutan industri nasional.

Harapan Kuartal III: Dorongan Fiskal dan Moneter

Tauhid memproyeksikan adanya peluang pembalikan tren kontraksi di kuartal III-2025.

Faktor utama yang bisa mendorong adalah realisasi bansos dan peningkatan belanja negara pada Agustus.

Stimulus ini diharapkan dapat mendongkrak konsumsi rumah tangga kelas menengah ke bawah.

Namun dampaknya diperkirakan terbatas, karena daya serap fiskal belum merata ke sektor riil.

Selain itu, penurunan suku bunga acuan BI juga mulai dihitung sebagai faktor pendorong jangka menengah.

Efek pelonggaran moneter diperkirakan akan terasa dalam tiga bulan setelah kebijakan diberlakukan.

Artinya, konsumsi dan kredit industri baru akan bergerak lebih aktif menjelang akhir tahun.

Industri Siapkan Strategi Bertahan Jelang Akhir Tahun

Pelaku industri diprediksi akan menahan pembelian bahan baku dan fokus menghabiskan stok.

Langkah ini menjadi strategi efisiensi menghadapi ketidakpastian pasar global hingga kuartal IV-2025.

Tauhid menilai, pelaku usaha akan lebih selektif dalam menyerap input produksi agar menjaga margin.

Meski produksi ditekan, strategi ini dapat membantu menjaga indeks PMI tetap bertahan di kisaran netral.

Tindakan ini juga menjadi bentuk penyesuaian terhadap ketidakpastian arah konsumsi dalam negeri.

Jika bansos, suku bunga rendah, dan belanja pemerintah terealisasi cepat, maka peluang ekspansi tetap terbuka.

Namun jika tidak, PMI berisiko kembali merosot di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version