Geser Kebawah
Nasional

Prabowo Tegaskan Swasembada Pangan Jadi Senjata Geopolitik

91
×

Prabowo Tegaskan Swasembada Pangan Jadi Senjata Geopolitik

Sebarkan artikel ini
Prabowo Tegaskan Swasembada Pangan Jadi Senjata Geopolitik
Presiden Prabowo menyebut surplus beras 4 juta ton dan ekspor pangan sebagai bukti kedaulatan. Kebijakan harga gabah Rp6.500/kg jaga kesejahteraan petani.

Surplus Pangan Jadi Modal Diplomasi Baru Indonesia

JAKARTA, BursaNusantara.com – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa kedaulatan pangan bukan hanya isu ketahanan nasional, tetapi juga senjata strategis dalam diplomasi internasional.

Dalam pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI & DPD RI, Jumat (15/8), Prabowo menyatakan bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu memproduksi pangannya sendiri, tanpa bergantung pada impor.

Sponsor
Iklan

Ekstensifikasi dan Intensifikasi Berjalan Paralel

Prabowo memaparkan strategi ganda yang kini dijalankan pemerintah. Program ekstensifikasi lahan dimulai di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatra, Papua, hingga sentra-sentra baru yang dinilai potensial.

Di sisi lain, intensifikasi dilakukan melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) dan produktivitas, termasuk perbaikan distribusi pupuk yang kini disalurkan langsung dari pabrik ke petani tanpa jalur birokrasi berbelit.

Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) disalurkan secara masif untuk mempercepat tanam-panen, memotong ongkos produksi, dan menekan ketergantungan petani pada tenaga kerja manual.

Harga Gabah Naik, Petani Tersenyum

Prabowo menegaskan, keberhasilan pangan tidak hanya soal angka produksi, tapi juga kesejahteraan produsen. Pemerintah menetapkan harga pembelian gabah Rp 6.500/kg, memberi margin keuntungan yang stabil bagi petani.

Kebijakan ini dinilai menghidupkan gairah produksi di sentra-sentra pertanian, sekaligus menjadi bantalan ekonomi desa dari fluktuasi harga pasar global.

Rekor Surplus dan Kembalinya Ekspor

Untuk pertama kalinya dalam sejarah NKRI, cadangan beras nasional menembus lebih dari 4 juta ton, menjadi stok tertinggi sepanjang masa. Surplus ini membuka kembali jalur ekspor beras dan jagung yang telah lama vakum.

Langkah ini bukan hanya soal pendapatan negara, tapi juga posisi tawar Indonesia di peta pangan dunia. Di tengah tren krisis pangan global, kemampuan menjadi pemasok menjadikan Indonesia pemain strategis di pasar internasional.

Dampak Langsung ke Desa

Presiden mengaku melihat perubahan nyata di lapangan. “Para petani tersenyum. Harga gabah stabil, penghasilan meningkat, dan rasa percaya diri tumbuh. Mereka tahu negara berdiri di belakang mereka,” ujarnya.

Sentimen positif ini diyakini akan mendorong regenerasi petani, mengingat selama ini profesi di sektor pertanian kerap ditinggalkan generasi muda karena dianggap kurang menjanjikan.

Implikasi Strategis

Surplus pangan dan ekspor kembali menempatkan Indonesia pada jalur swasembada yang pernah hilang selama puluhan tahun. Dalam konteks geopolitik, keberhasilan ini dapat menjadi alat diplomasi yang kuat, khususnya di kawasan ASEAN dan pasar Afrika yang tengah membutuhkan pasokan stabil.

Kedaulatan pangan di era Prabowo bukan sekadar target pembangunan, melainkan fondasi kedaulatan ekonomi dan politik yang akan mengubah posisi Indonesia di mata dunia.