JAKARTA, BursaNusantara.com – Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) memproyeksikan produksi nikel nasional akan mencapai 3,74 juta ton pada tahun 2030. Angka ini mencerminkan kenaikan signifikan sekitar 95% dibandingkan produksi pada tahun-tahun sebelumnya.
Dominasi Indonesia di Pasar Nikel Global
Dewan Penasihat Pertambangan APNI, Djoko Widajatno, mengungkapkan bahwa nikel tetap menjadi komoditas strategis Indonesia. Tidak hanya sebagai andalan ekspor, nikel juga menjadi penyumbang pendapatan penting bagi negara, terutama dalam konteks transisi energi global.
“Pada tahun 2023–2024, Indonesia menguasai sekitar 65% pasar nikel dunia. Ini membuktikan posisi kita yang dominan dalam rantai pasok global,” ujar Djoko.
Baca Juga: APNI Tolak Kenaikan Royalti Nikel, Surati Presiden & DPR
Namun di balik dominasi tersebut, APNI mencatat masih ada tantangan besar yang harus segera diatasi, salah satunya adalah struktur ekspor yang masih terfokus ke satu negara utama.
Ketergantungan Ekspor ke China Dinilai Berisiko
Djoko menyoroti bahwa sepanjang tahun 2023, sekitar 89% ekspor nikel Indonesia dikirim ke China. Ketergantungan ini dinilai berisiko tinggi, terutama bila terjadi perubahan kebijakan atau penurunan permintaan dari pihak Tiongkok.
“Ketahanan ekspor kita sangat rentan jika terlalu tergantung pada satu negara. Ini bisa menjadi ancaman bagi kestabilan pendapatan nasional dari sektor tambang,” jelasnya.
Baca Juga: Pemerintah Siap Naikkan Tarif Royalti Minerba, Ini Daftar Komoditasnya
Untuk mengatasi hal tersebut, APNI mendorong diversifikasi pasar ekspor ke wilayah lain, seperti Amerika Serikat dan Eropa. Diversifikasi dianggap sebagai langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan ekspor di tengah dinamika geopolitik global yang terus berubah.
Hilirisasi dan Potensi Kobalt untuk Energi Masa Depan
Lebih lanjut, APNI juga menekankan pentingnya memperhatikan potensi mineral lainnya seperti kobalt, yang kini semakin dibutuhkan dalam industri baterai kendaraan listrik. Menurut Djoko, nilai pasar kobalt sangat tinggi dan memiliki prospek cerah untuk mendukung pertumbuhan sektor energi berbasis mineral.
Ia menyebutkan bahwa penguatan industri hilir berbasis nikel dan kobalt menjadi kunci untuk menciptakan nilai tambah, serta memperkuat daya saing Indonesia dalam sektor teknologi dan energi masa depan.
Baca Juga: Bappebti Siapkan Harga Acuan Nikel, Bakal Ubah Perdagangan Global?
“Hilirisasi harus diarahkan untuk menunjang pertumbuhan industri dalam negeri, menciptakan nilai tambah, serta memperkuat daya saing Indonesia di sektor energi dan teknologi berbasis nikel,” tandasnya.
Dengan proyeksi produksi yang terus meningkat dan strategi hilirisasi yang matang, Indonesia berada di jalur strategis untuk menjadi pemain utama dalam industri logam energi global yang berkelanjutan.






