PasarSaham

Prospek Emiten Migas Tertekan, Harga Minyak Turun & Pasokan Melimpah

153
prospek emiten migas tertekan, harga minyak turun & pasokan melimpah kompres
Prospek emiten migas masih tertekan akibat penurunan harga minyak dan pasokan berlebih. Simak analisis lengkapnya dan dampaknya pada pasar global di sini.

Prospek Emiten Migas Tertekan: Harga Minyak Turun, Pasokan Melimpah, dan Dampaknya pada Pasar Global

JAKARTA, BursaNusantara.com – Prospek emiten minyak dan gas (migas) masih tertekan akibat penurunan harga minyak dan pasokan yang berlebih.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya, memaparkan bahwa OPEC+ telah mengakui pelemahan yang sedang berlangsung di pasar minyak. Hal ini menyebabkan OPEC+ menunda rencana peningkatan produksi sebesar 2,2 juta barel per hari hingga April 2025 hingga September 2026.

Selain itu, permintaan minyak dari China juga mengalami pergeseran struktural, sementara produksi minyak dari Amerika Serikat (AS) terus meningkat. Bagaimana dampaknya pada pasar global? Simak analisis lengkapnya berikut ini.

OPEC+ Menunda Peningkatan Produksi

OPEC+ telah memutuskan untuk menunda rencana peningkatan produksi minyak sebesar 2,2 juta barel per hari.

Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap pelemahan yang sedang berlangsung di pasar minyak global. Menurut Timothy Wijaya, OPEC+ memperpanjang periode pengurangan produksi dari 12 bulan menjadi 18 bulan, yang akan berlaku hingga September 2026.

Langkah ini diharapkan dapat menstabilkan harga minyak yang terus mengalami penurunan.

Pergeseran Struktural Permintaan Minyak di China

China, sebagai salah satu konsumen minyak terbesar di dunia, sedang mengalami pergeseran struktural dalam permintaan gasoil. Penjualan kendaraan listrik (EV) yang mencapai rekor pada Juli 2024 dan substitusi bahan bakar gasoil alat berat dengan LNG telah mengurangi permintaan minyak sulingan China sebesar 22%. Hal ini tentu berdampak pada pasar minyak global, mengingat China merupakan salah satu penggerak utama permintaan minyak dunia.

Produksi Minyak AS yang Kuat

Di sisi lain, produksi minyak dari Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan kekuatan. Pada tahun 2024, produksi minyak AS mencapai 13 juta barel per hari, dan diperkirakan akan terus meningkat. Peningkatan produksi ini turut berkontribusi pada pasokan minyak global yang melimpah, yang pada akhirnya menekan harga minyak.

Proyeksi Permintaan dan Pasokan Minyak Global

Menurut laporan bulanan International Energy Agency (IEA), permintaan minyak global diperkirakan akan tumbuh sebesar 1,1 juta barel per hari (mbpd) menjadi 103,9 mbpd pada tahun 2025. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh India dan langkah-langkah stimulus yang mendukung pemulihan ekonomi China. Namun, pasokan minyak juga diperkirakan akan tumbuh sebesar 1,9 mbpd menjadi 104,8 mbpd pada tahun 2025. Akibatnya, IEA memperkirakan pasar minyak akan mengalami surplus sebesar 900 ribu barel per hari (kbpd) pada tahun 2025.

Dampak pada Harga Minyak

Dengan adanya surplus pasokan minyak, IEA menurunkan asumsi harga minyak menjadi US$ 75 per barel. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi emiten migas, terutama yang bergerak di sektor hulu. Penurunan harga minyak akan mempengaruhi pendapatan dan profitabilitas perusahaan-perusahaan migas.

Prospek Migas di Indonesia

Di dalam negeri, produksi migas diperkirakan akan meningkat. Pada Agustus 2024, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM No.13/2024 mengenai kontrak bagi hasil dalam kegiatan hulu migas. Aturan ini bertujuan untuk menarik lebih banyak investasi migas dengan menyederhanakan persyaratan proyek serta meningkatkan porsi gross split kepada kontraktor.

Selain itu, SKK Migas telah mengumumkan 15 proyek hulu migas yang akan mulai berproduksi pada tahun fiskal 2025 dengan potensi produksi sebesar 191 ribu barel per hari (kbpd). Upaya-upaya pemerintah ini bertujuan untuk mencapai produksi nasional sebesar 1 juta barel per hari (mbpd) dan 12 miliar standar kaki kubik per hari (bscfd) pada tahun 2030.

Kebijakan Ekspor Gas Indonesia

Menteri ESDM menyebutkan potensi penangguhan ekspor gas alam untuk memprioritaskan penggunaan domestik.

Permintaan konsumsi gas diperkirakan meningkat sebesar 1.471 TBTU pada 2025, dan kekhawatiran PLN tentang kekurangan LNG pada kuartal pertama 2025 telah mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan larangan ekspor gas di masa depan. Namun, kontrak ekspor gas jangka panjang yang ada harus tetap dipenuhi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, terdapat empat pelabuhan yang mengekspor LNG di Indonesia, yaitu LNG Badak di Bontang, ladang gas Tangguh di Bintuni, Donggi Senoro di Luwuk, dan Simenggaris di Tarakan. Selain itu, terdapat dua pelabuhan yang mengekspor gas melalui pipa, yaitu dari blok Corridor melalui Batam, dan blok Natuna melalui Kepulauan Riau.

Implikasi Kebijakan Energi Nasional

Berdasarkan Peraturan Presiden No. 22 tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Kementerian ESDM menargetkan untuk mengurangi ekspor gas sebesar 20% dari tingkat tahun fiskal 2016 dan meniadakan ekspor gas sepenuhnya pada tahun fiskal 2036.

Data dari Kementerian ESDM menunjukkan bahwa ekspor gas Indonesia telah turun dari 2.860 BBTUD pada FY16 menjadi 1.905 BBTUD pada 2024, yang merupakan penurunan sebesar 33,4% dalam 9 tahun terakhir.

Serambi My Pertamina Aktif Kembali, Liburan Nataru Lebih Nyaman

Rekomendasi Investasi

Secara keseluruhan, BRI Danareksa Sekuritas memberikan pandangan netral untuk sektor migas. Namun, perusahaan seperti WINS dan MEDC tetap menjadi pilihan dengan rekomendasi “buy”, masing-masing dengan target harga Rp 610 dan Rp 1.400.

Prospek emiten migas masih tertekan akibat penurunan harga minyak dan pasokan yang berlebih. Meskipun demikian, upaya pemerintah Indonesia untuk meningkatkan produksi migas dan mengurangi ekspor gas dapat menjadi langkah positif dalam jangka panjang. Investor perlu mempertimbangkan berbagai faktor ini sebelum mengambil keputusan investasi di sektor migas.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version