BisnisEnergi

Proyek PLTU Baru China Jadi Angin Segar Bagi Ekspor Batubara RI

155
Proyek PLTU Baru China Jadi Angin Segar Bagi Ekspor Batubara RI
Rencana pembangunan PLTU baru di China hingga 2027 berpotensi dongkrak ekspor batubara Indonesia sebesar 10% tiap tahun menurut Aspebindo.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Keputusan China untuk terus menambah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batubara hingga 2027 dinilai akan membawa angin segar bagi industri batubara Indonesia.

Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) menyatakan, ekspor batubara ke China berpotensi meningkat hingga 10% per tahun dalam beberapa tahun ke depan.

Hal ini terutama dipicu oleh rencana China untuk menambah kapasitas PLTU secara signifikan, guna mendukung pertumbuhan industri domestik mereka.

Proyeksi Lonjakan Ekspor

Wakil Ketua Umum Aspebindo, Fathul Nugroho mengatakan bahwa bila kebijakan pembangunan PLTU China berjalan konsisten, Indonesia berpeluang menambah ekspor hingga 25 juta ton batubara per tahun sampai 2027.

Namun, ia mengingatkan bahwa proyeksi ini tetap harus dikaji ulang jika terjadi penurunan permintaan dari sektor industri China akibat eskalasi perang tarif dengan Amerika Serikat.

“Jika China konsisten menambah kapasitas PLTU dan mengoptimalkan pembangkit baru, maka ekspor batubara Indonesia berpotensi tumbuh signifikan,” ujar Fathul.

Pembangunan PLTU Baru

Menurut data Aspebindo, China akan menambah kapasitas PLTU sebesar 60 GW antara 2026 hingga 2027.

Tambahan tersebut di luar dari 95 GW PLTU yang diperkirakan sudah beroperasi pada 2025.

Pertumbuhan ini akan mempertahankan posisi China sebagai pasar utama bagi batubara thermal asal Indonesia.

Dampak pada Harga Global

Fathul menilai, meningkatnya permintaan batubara dari China juga akan berdampak pada stabilitas dan potensi kenaikan harga batubara global.

Ia memproyeksikan harga batubara thermal akan berada pada kisaran US$ 60 hingga US$ 80 per ton untuk GAR 4.200, dan US$ 120 hingga US$ 150 per ton untuk GAR 6.300.

“Lonjakan harga bisa terjadi jika terjadi gangguan pasokan global atau permintaan mendadak dari negara-negara pengimpor besar,” jelasnya.

Tantangan dan Strategi Pelaku Usaha

Meskipun peluang ekspor terbuka lebar, Fathul menekankan bahwa pelaku usaha tetap harus mewaspadai tantangan regulasi, fluktuasi biaya operasional, dan tekanan dari energi alternatif.

Oleh karena itu, Aspebindo mendorong perusahaan tambang untuk meningkatkan efisiensi dan mulai berinvestasi dalam teknologi rendah emisi.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga daya saing di pasar global dan memenuhi tuntutan transisi energi.

“Perusahaan batubara Indonesia harus adaptif dan inovatif agar bisa terus tumbuh dalam dinamika pasar yang cepat berubah,” tutup Fathul.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version