Dino Patti Djalal Peringatkan RI: Jangan Terjebak "Proyek Real Estate" Trump di Gaza!
DAVOS – Di sela-sela kemegahan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, sebuah langkah besar diambil. Presiden RI Prabowo Subianto bersama Presiden AS Donald Trump resmi menandatangani Piagam Dewan Perdamaian Gaza.
Namun, di balik optimisme “kesempatan bersejarah” tersebut, kritik pedas datang dari pakar diplomasi sekaligus pendiri FPCI, Dino Patti Djalal.
Dino menyuarakan kekhawatiran mendalam melalui media sosial X, mempertanyakan apakah inisiatif ini benar-benar untuk rakyat Palestina atau sekadar manuver bisnis terselubung.
Jebakan “Iuran US$1 Miliar” dan Proyek Real Estate?
Salah satu poin paling krusial yang disorot Dino adalah permintaan iuran keanggotaan dari Donald Trump sebesar US$1 miliar. Dino secara tegas mengingatkan agar Indonesia tidak perlu membayarkan dana fantastis tersebut.
Lebih jauh, ia mempertanyakan jaminan bahwa dewan ini tidak akan berubah menjadi upaya ‘real estate’ yang justru mengesampingkan hak-hak dasar rakyat Palestina atas tanah mereka sendiri. “Apakah ini perdamaian, atau sekadar pembersihan lahan untuk proyek komersial?” menjadi pertanyaan besar yang membayangi publik.
Kehadiran Netanyahu dan Dilema Dua Negara
Dino meragukan komitmen dewan tersebut dalam mencapai Two-State Solution (Solusi Dua Negara). Keraguan ini bukan tanpa alasan, mengingat kehadiran Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di dalam dewan tersebut.
“Bagaimana mungkin perdamaian yang adil tercapai jika pemimpin rezim yang saat ini memimpin agresi di Gaza justru duduk di kursi kemudi dewan?” ungkapnya.
Diplomasi Tandingan: Jangan Saingi PBB
Dino mendorong agar Dewan Perdamaian Gaza tidak menjadi organisasi pesaing yang melemahkan peran PBB.
Ia juga mendesak keterlibatan yang lebih taktis dari Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, untuk memastikan diplomasi Indonesia tetap tegak lurus melindungi kepentingan Palestina tanpa terjebak dalam kepentingan politik AS.










