BisnisPerdagangan & Industri

PT GNI Terancam Bangkrut, Bank Siap Atasi Risiko Kredit

224
PT GNI Terancam Bangkrut, Bank Siap Atasi Risiko Kredit
PT GNI terancam bangkrut, potensi kredit macet beban bank; penyelesaian kredit sindikasi jadi kunci stabilitas sektor.

JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Gunbuster Nickel Industry (PT GNI), perusahaan smelter asal China yang berlokasi di Marowali, Sulawesi Tengah, kini menghadapi ancaman serius.

Produksinya yang memangkas produksi dan kondisi keuangan induk, Jiangsu Delong Nickel Industry Co., telah menimbulkan spekulasi bahwa PT GNI berpotensi bangkrut.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bagi bank-bank besar tanah air yang terlibat dalam penyaluran kredit sindikasi ke PT GNI.

Kredit Sindikasi dan Kondisi Keuangan PT GNI

Detail Kredit Sindikasi

Berdasarkan data Bloomberg, pada tanggal 26 Mei 2023, terjadi dua deal kredit sindikasi untuk PT GNI, masing-masing sebesar US$432,33 juta dan US$429,99 juta.

Ketiga bank besar tanah air, yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Mandiri Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), turut menyalurkan kredit dalam jumlah yang relatif kecil per bank, yakni sekitar US$1,30 juta dan US$1,29 juta. Meskipun demikian, belum ada kepastian apakah seluruh kredit tersebut telah lunas atau masih ada sisa kredit macet.

Isu Restrukturisasi Utang

Induk PT GNI, Jiangsu Delong Nickel Industry Co., pada tahun 2024 sempat menghadapi masa sulit dengan kasus restrukturisasi utang besar yang kini masih dalam proses pengadilan di China. Hal ini menimbulkan keraguan atas kemampuan PT GNI untuk melunasi kewajibannya, sehingga menambah risiko kredit yang berpotensi memburuk.

Risiko Kredit dan Dampaknya bagi Bank

Potensi Kredit Macet yang Menggantung

SVP Kepala Riset LPPI, Trioksa Siahaan, menyatakan bahwa jika PT GNI berakhir tutup dan masih terdapat sisa utang yang belum terbayar, hal tersebut bisa menyebabkan perburukan kredit bank. “Akan berdampak pada peningkatan cadangan kerugian kredit bank (CKPN).

Untuk itu, bank-bank yang terlibat dalam sindikasi kredit perlu bersama-sama mencari solusi penyelamatan,” ungkap Trioksa kepada Kontan, Minggu (23/2/2025).

Trioksa menekankan pentingnya evaluasi mendalam terhadap penyebab perburukan kredit pada sektor smelter. Menurutnya, bank harus segera melakukan analisis risiko dan menyiapkan strategi antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang di sektor bisnis yang sama.

Kinerja Pencadangan Kredit Bank

Laporan keuangan tahun buku 2024 dari ketiga bank besar menunjukkan bahwa pencadangan untuk kredit bermasalah telah diperkuat.

Misalnya, BCA meningkatkan cadangan kerugian kredit sebesar 51,3% YoY menjadi Rp2 triliun, dengan NPL coverage mencapai 208,5% dan LAR coverage 76,9%. BNI juga mencatat peningkatan pencadangan sebesar 50,3% YoY menjadi Rp2,8 triliun, dengan NPL coverage 255,8% dan LAR coverage 48,8%.

Sementara itu, Bank Mandiri melaporkan NPL coverage dan LAR coverage masing-masing mencapai 304% dan 43%, serta menyalurkan kredit sebesar Rp185,2 triliun ke sektor hilirisasi mineral dan batubara yang tumbuh 14,3% YoY.

Data ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat risiko kredit dari PT GNI, bank-bank tersebut telah mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengantisipasi potensi kerugian. Penguatan cadangan tersebut diharapkan dapat menahan goncangan apabila kondisi PT GNI semakin memburuk.

Implikasi dan Langkah Penanganan

Upaya Bersama Menyelesaikan Masalah Kredit

Jika PT GNI akhirnya dinyatakan bangkrut, bank-bank yang terlibat dalam kredit sindikasi harus bekerja sama mencari solusi. Langkah penyelamatan kredit menjadi kunci untuk mengurangi dampak negatif terhadap cadangan kerugian kredit (CKPN) bank.

Bank perlu menggali penyebab mendasar dari perburukan kredit di sektor smelter, sehingga bisa menerapkan strategi mitigasi yang tepat untuk menghadapi risiko serupa di masa depan.

Evaluasi Kelayakan Bisnis Smelter

Pengamat perbankan menekankan bahwa selain masalah kredit, bank juga harus menilai prospek kelayakan bisnis smelter.

Meski sektor ini menghadapi tantangan, evaluasi mendalam terkait potensi pertumbuhan dan pengelolaan risiko menjadi penting.

Keputusan apakah bisnis smelter masih layak untuk dibiayai akan mempengaruhi keputusan kredit bank di sektor tersebut ke depan.

Tindakan Preventif dan Kebijakan Bank

Bank-bank besar, seperti BCA, Bank Mandiri, dan BNI, harus terus meningkatkan sistem pengawasan dan evaluasi risiko untuk mengantisipasi potensi kegagalan pembayaran dari perusahaan seperti PT GNI.

Kebijakan internal untuk memperkuat pencadangan kredit dan monitoring berkala terhadap sektor bisnis yang bermasalah akan menjadi langkah preventif yang esensial.

Hal ini tidak hanya menjaga stabilitas keuangan bank, tetapi juga melindungi investor dan nasabah dari risiko yang tidak terduga.


Meski PT Gunbuster Nickel Industry (PT GNI) tengah menghadapi ancaman kebangkrutan akibat penurunan produksi dan masalah restrukturisasi utang, bank-bank besar di Indonesia telah mengambil langkah proaktif dengan meningkatkan pencadangan untuk mengantisipasi potensi kredit macet.

Kerjasama antar bank dan evaluasi menyeluruh terhadap risiko di sektor smelter menjadi kunci untuk menjaga stabilitas keuangan nasional.

BursaNusantara.com akan terus memantau perkembangan kasus ini dan memberikan analisis mendalam agar para pembaca dan investor mendapatkan informasi yang akurat serta terpercaya mengenai dinamika risiko kredit di sektor industri smelter.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version