Pemerintah Diminta Realistis Hadapi Tantangan Ekonomi 2026
JAKARTA, BursaNusantara.com – Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional dalam kisaran 5,2% hingga 5,8% pada RAPBN 2026, namun sejumlah ekonom menilai target ini terlalu optimis jika dibandingkan dengan risiko yang menghadang.
Prospek Global Masih Dibalut Ketidakpastian
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai target tersebut cukup ambisius mengingat ketidakpastian eksternal masih sangat tinggi.
Menurutnya, perekonomian Tiongkok belum menunjukkan pemulihan kuat yang bisa menopang permintaan ekspor Indonesia ke depannya.
Faktor lain yang turut mengaburkan arah ekonomi ialah kebijakan suku bunga AS yang belum pasti, berpotensi menekan arus modal masuk ke negara berkembang termasuk Indonesia.
Kondisi ini dapat melemahkan ekspor, menekan nilai tukar, dan memperbesar tantangan dalam menarik investasi asing langsung (FDI).
Daya Beli Masyarakat Kelas Menengah Rentan Tergerus
Di dalam negeri, konsumsi rumah tangga memang tetap jadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun daya beli masyarakat berpendapatan rendah dan menengah diprediksi akan lebih rentan jika inflasi meningkat akibat naiknya harga pangan dan energi tahun depan.
Jika konsumsi terhambat, maka kontribusi domestik terhadap PDB pun akan melemah dan mempersulit pencapaian target 5,8%.
Yusuf menekankan perlunya perlindungan sosial yang lebih efektif dan antisipasi terhadap tekanan harga yang bisa menggerus pendapatan riil masyarakat.
Belanja Negara Rp3.800 T Tidak Menjamin Hasil Maksimal
Pemerintah menganggarkan belanja negara sebesar Rp3.800 triliun dalam RAPBN 2026 sebagai stimulus untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi.
Namun Yusuf mengingatkan, anggaran besar bukan jaminan bagi hasil besar jika implementasinya tidak efisien dan tepat sasaran.
Kegagalan menyerap anggaran secara maksimal atau dominasi proyek-proyek jangka pendek demi kepentingan politik bisa membuat belanja tak produktif.
Ia juga menyoroti potensi risiko fiskal jika belanja besar tidak dibarengi peningkatan rasional dari sisi penerimaan negara.
Target Inflasi dan Kurs Dolar Terlalu Idealistis?
Target inflasi yang dipatok 1,5%–3,5% dinilai terlalu optimistis oleh Yusuf karena volatilitas pangan dan energi masih tinggi secara global.
Cuaca ekstrem dan gejolak harga komoditas bisa dengan mudah mendorong inflasi di atas batas atas target tersebut.
Jika inflasi melebihi target, tekanan pada rupiah akan membesar dan sulit menjaga kurs tetap dalam kisaran Rp16.500–16.900 per dolar AS.
Dampak lebih lanjutnya bisa merembet pada naiknya biaya impor serta membengkaknya beban pembayaran utang luar negeri Indonesia.











