Ekonomi Makro

RAPBN 2026, Ujian Keseimbangan Era Prabowo

116
RAPBN 2026, Ujian Keseimbangan Era Prabowo
RAPBN 2026 jadi ujian pertama pemerintahan Prabowo untuk menyeimbangkan ambisi pertumbuhan dengan disiplin fiskal di tengah risiko global.

RAPBN 2026, Antara Ambisi Pertumbuhan dan Ancaman Global

JAKARTA, BursaNusantara.com – Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 bukan sekadar lembaran angka, melainkan peta jalan ekonomi yang akan menguji keseimbangan antara ambisi dan realitas pada tahun pertama penuh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah merancang arah ganda: memperluas belanja negara untuk memacu pertumbuhan, namun tetap menahan defisit agar keberlanjutan fiskal terjaga.

Ekspansi dan Disiplin di Persimpangan

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menegaskan RAPBN 2026 akan membuktikan apakah pemerintah mampu memisahkan belanja produktif dari belanja politis. Program seperti makan bergizi gratis, Koperasi Desa Merah Putih, sekolah rakyat, dan pembangunan tiga juta rumah akan menjadi ujian konkret efektivitas alokasi dana.

“Bukan desainnya yang sulit, tapi eksekusinya,” ujarnya, menyoroti pentingnya output nyata, efektivitas penutupan celah perpajakan, koordinasi fiskal-moneter, dan respon terhadap tarif AS di bawah Presiden Donald Trump.

Angka Makro dan Defisit

RAPBN 2026 mematok pendapatan negara Rp 3.094–3.114 triliun, belanja negara Rp 3.800–3.820 triliun, dan defisit 2,53% PDB atau sekitar Rp 706 triliun. Target pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,2–5,8%, inflasi 1,5–3,5%, nilai tukar Rp 16.500–16.900 per dolar AS, dan harga minyak US$ 60–80 per barel.

Bagi Syafruddin, keseimbangan ini hanya mungkin tercapai bila reformasi pajak dijalankan secara serius, bukan sekadar optimisme di atas kertas. Pendapatan yang kuat menjadi bantalan untuk mencegah defisit berubah menjadi “bom waktu”.

Optimisme dengan Syarat Realisme

RAPBN 2026 membawa nada optimis: pertumbuhan tinggi, inflasi terkendali, rupiah stabil, dan defisit aman. Namun, semua itu bisa goyah jika belanja tidak produktif atau pendapatan gagal memenuhi target.

Syafruddin mengingatkan, kebijakan resiprokal AS adalah contoh bagaimana guncangan eksternal dapat memporak-porandakan asumsi makro. “Optimisme penting, tapi realisme fiskal adalah pondasi,” tegasnya.

Momentum atau Beban?

Dengan kombinasi ekspansi dan disiplin, RAPBN 2026 berpotensi menjadi momentum emas bila dijalankan presisi: pertumbuhan tercapai, infrastruktur sosial menguat, dan stabilitas fiskal terjaga. Sebaliknya, bila salah langkah, beban defisit akan membatasi ruang gerak ekonomi di tahun-tahun berikutnya.

Tahun anggaran 2026 akan menjadi panggung ujian apakah APBN era Prabowo benar-benar instrumen pembangunan berkelanjutan atau hanya rutinitas tahunan yang kehilangan arah di tengah gejolak global.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version