GOTO Diakumulasi Asing, Aksi Senyap Menuju Rebound?
JAKARTA, BursaNusantara.com – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tampak stagnan di level Rp65 pada penutupan Jumat (1/8/2025), namun fakta di balik layar menunjukkan adanya akumulasi senyap dari investor besar, terutama asing.
Dalam seminggu terakhir, GOTO melonjak 12,07% secara mingguan, dengan aksi beli asing mencapai Rp334 miliar angka yang cukup signifikan untuk saham berkapitalisasi besar seperti GOTO.
Tak hanya itu, broker CGS International mencatatkan net buy jumbo sebesar Rp46,4 miliar hanya dalam sehari, sementara dana asing yang masuk mencapai Rp34,3 miliar.
Anomali Harga: Tekanan Lama, Akumulasi Baru
Fenomena teknikal menunjukkan bahwa lonjakan GOTO belum sepenuhnya mencerminkan fundamental yang tengah membaik.
Analis JPMorgan dan Aletheia Capital sepakat bahwa perbaikan operasional GOTO masih tertinggal dari respons pasar, menciptakan gap yang bisa menjadi peluang beli bagi investor cerdas.
Menurut Henry Wibowo dari JPMorgan, koreksi harga dalam beberapa bulan terakhir justru memberi ruang revaluasi ulang, apalagi jika ditopang laporan keuangan yang solid.
Saham GOTO sendiri telah jatuh hampir 90% sejak IPO pada 2022, dari puncak Rp442 ke titik terendah Rp50 (gocap) pada 30 Agustus 2024.
Laporan Keuangan 13 Agustus Jadi Momentum Uji Validasi
Manajemen GOTO akan merilis laporan keuangan kuartal II 2025 pada 13 Agustus mendatang dalam format conference call berbahasa Inggris, diikuti paparan resmi kepada publik.
Kinerja yang akan diumumkan meliputi hasil konsolidasi semester I-2025 yang sudah direviu sesuai ketentuan OJK dan BEI.
Investor akan menyoroti beberapa hal krusial: keberlanjutan EBITDA positif, efisiensi pengeluaran pasca migrasi cloud ke Alibaba, serta pertumbuhan unit fintech yang kini jadi tulang punggung bisnis.
Fintech Jadi Mesin Utama, E-Commerce Tinggal Sejarah
Unit fintech GOTO mencatat pertumbuhan mengesankan, dengan lonjakan pendapatan 90% secara tahunan dan lebih dari 20 juta pengguna aktif bulanan.
EBITDA yang disesuaikan pada kuartal terakhir tercatat Rp393 miliar, membalikkan kerugian Rp101 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Namun, kehilangan Tokopedia akibat divestasi ke ByteDance pada 2023 dinilai mengurangi daya saing GOTO di ranah regional e-commerce.
Analis Morningstar, Kai Wang, menyebut ketergantungan pada fintech belum cukup untuk menandingi pertumbuhan Grab atau SEA Group yang tetap menjaga keseimbangan antara fintech, e-commerce, dan transportasi.
Spekulasi Merger Grab Kembali Hidup
Rumor akuisisi GOTO oleh Grab kembali mencuat di pasar sejak awal Juli 2025, dipicu langkah Grab menerbitkan obligasi konversi yang ditafsirkan sebagai langkah penghimpunan dana.
Valuasi merger disebut-sebut bisa mencapai lebih dari US$7 miliar, meski sejumlah hambatan regulasi lintas negara membayangi proses tersebut.
Jika terjadi, merger ini akan menciptakan entitas super-app terbesar di Asia Tenggara, menggabungkan kekuatan Grab di ride-hailing dan layanan keuangan dengan basis pengguna GOTO di Indonesia.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari kedua pihak.
Investor Besar Mulai Kumpul: Sinyal Reversal?
Dalam tiga bulan terakhir, investor asing telah mengakumulasi saham GOTO senilai Rp1,24 triliun.
Aksi ini menandakan kepercayaan terhadap pemulihan GOTO, sekaligus menjadi katalis diam-diam bagi potensi technical reversal.
“Perusahaan berada di jalur strategis yang tepat, hanya saja investor masih skeptis,” kata Nirgunan Tiruchelvam dari Aletheia Capital, menegaskan adanya disconnect antara operasional dan valuasi pasar.
Menurut SGMC Capital, GOTO memiliki peluang untuk menjadi “kuda hitam” fintech regional, dengan disiplin finansial yang lebih kuat pasca program buyback dan efisiensi biaya internal.
Risiko Masih Tinggi, Tapi Reward Tak Lagi Nol
Meski sinyal rebound mulai terlihat, sejumlah risiko tetap harus dicermati.
Pertama, ketiadaan lini e-commerce membuat GOTO harus lebih agresif dalam monetisasi unit fintech, atau memperluas vertikal lain seperti logistik dan cloud service.
Kedua, meski laporan keuangan menunjukkan perbaikan, tantangan makroekonomi seperti pelemahan daya beli dan kenaikan suku bunga dapat membatasi margin pertumbuhan.
Ketiga, ekspektasi investor terhadap merger dengan Grab bisa menjadi pedang bermata dua: tanpa aksi korporasi besar, potensi rally lanjutan bisa tertahan.
Namun, Mohit Mirpuri dari SGMC Capital menilai bahwa GOTO tidak perlu menunggu merger untuk bangkit.
“Profitabilitas jangka pendek dan eksekusi disiplin sudah cukup untuk menarik investor institusi global,” ujarnya.
Revaluasi Valuasi: Murah, Tapi Bukan Tanpa Alasan
Harga saham GOTO di level Rp65 dinilai beberapa analis sebagai undervalued, namun bukan tanpa alasan.
Selama GOTO belum mampu menunjukkan roadmap pertumbuhan pasca kepergian Tokopedia, skeptisisme masih akan membayangi.
Meski begitu, laporan keuangan 13 Agustus bisa menjadi momen pembuktian.
Jika EBITDA kembali positif dan pendapatan tumbuh dua digit, investor ritel dan institusi kemungkinan akan mulai membuka posisi secara agresif.
Timeline Kebangkitan atau Perangkap Rally?
Dalam analisis teknikal jangka menengah, GOTO tengah membentuk pola double bottom dengan support kuat di level gocap.
Breakout konsisten di atas Rp70 akan menjadi konfirmasi reversal yang kuat, dengan target jangka menengah di kisaran Rp90–Rp100.
Namun jika laporan keuangan mengecewakan atau rumor merger tak terbukti, peluang terjebak false breakout tetap terbuka lebar.
Bukan Lagi Soal Sentimen, Tapi Eksekusi
Kebangkitan GOTO tak lagi ditentukan oleh narasi besar merger atau fantasi super-app.
Pasar kini menuntut validasi angka laba nyata, pertumbuhan pengguna, dan efisiensi operasional.
Momentum akumulasi asing, pertumbuhan fintech, serta rumor merger hanya akan bertahan jika perusahaan mampu menunjukkan bahwa langkah-langkah efisiensi yang telah dilakukan benar-benar menghasilkan fundamental yang solid.
Investor yang masuk saat ini bukan hanya mencari peluang jangka pendek, tapi bertaruh pada transformasi struktural GOTO sebagai perusahaan teknologi Indonesia yang bisa bicara di panggung Asia Tenggara.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












