JAKARTA, Bursa Nusantara Official – PT Resource Alam Indonesia Tbk. (KKGI) dan PT Trans Power Marine Tbk. (TPMA) resmi membentuk usaha patungan melalui PT Trans Bahtera Pioneer (TBP). Langkah strategis ini bertujuan menciptakan solusi logistik batu bara yang efisien dan andal, dengan fokus utama di Kalimantan Timur.
TBP merupakan kolaborasi 50%-50% antara KKGI dan TPMA, dengan penyetoran modal awal sebesar Rp 51,5 miliar. Dana tersebut masing-masing berasal dari KKGI dan TPMA sebesar Rp 25,75 miliar, menggunakan dana internal kedua perusahaan. “Kami percaya bahwa sinergi ini akan memberikan manfaat besar dalam jangka panjang, baik bagi perusahaan maupun pemangku kepentingan,” ujar Wakil Direktur Utama TPMA Daniel Wardojo, Sabtu (21/12/2024).
Investasi Besar untuk Efisiensi Logistik
Direktur Keuangan KKGI, Agoes Soegiarto Soeparman, mengungkapkan bahwa TBP berencana menginvestasikan Rp 200 miliar pada tahun pertama. Investasi ini akan digunakan untuk pembelian enam set tugboat & barge, baik baru maupun bekas. Ke depan, rencana ekspansi akan memperbesar armada hingga 20 set di tahun-tahun mendatang.
“Pembiayaan ini akan bersumber dari arus kas internal TBP sebesar 20%, sisanya dari pinjaman bank,” ungkap Agoes.
Bagi KKGI, usaha patungan ini memberikan akses langsung ke layanan logistik, mengurangi ketergantungan pada penyedia eksternal, serta meningkatkan efisiensi biaya transportasi. “Kami optimistis langkah ini akan mendukung kelancaran rantai pasokan batu bara kami,” tambah Agoes.
Keuntungan Sinergi untuk KKGI dan TPMA
Kolaborasi ini juga memberikan keuntungan besar bagi TPMA. Dengan kepastian pasokan batu bara dari anak perusahaan KKGI, TPMA dapat mengoptimalkan aset dan meningkatkan efisiensi operasional. “Dengan keahlian logistik TPMA dan potensi besar KKGI, kolaborasi ini diharapkan memperkuat daya saing kami di pasar,” jelas Daniel.
Langkah ini mempertegas posisi KKGI sebagai salah satu pemain utama di industri batu bara, sekaligus memperluas jaringan layanan logistik TPMA. “Kami sangat antusias dengan peluang besar yang ditawarkan oleh usaha patungan ini,” kata Daniel.
Fokus pada Kalimantan Timur
Kalimantan Timur menjadi fokus utama usaha patungan ini. Pada tahun 2023, wilayah ini menyumbang sekitar 210 juta ton batu bara atau hampir 30% dari total produksi nasional. “Sinergi ini membuka peluang besar untuk menciptakan nilai tambah jangka panjang dan memperkuat rantai pasokan batu bara di Indonesia,” tambah Daniel.
Komitmen pada Keberlanjutan
Selain efisiensi logistik, usaha patungan ini juga menegaskan komitmen KKGI dan TPMA untuk memberikan solusi yang berkelanjutan bagi industri batu bara. Dengan investasi strategis dan sinergi yang kuat, keduanya optimistis akan memberikan dampak positif tidak hanya bagi perusahaan tetapi juga bagi industri secara keseluruhan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











