Strategi Agresif TOWR Menjaring Dana dan Aset Baru
JAKARTA, BursaNusantara.com – Emiten menara milik Grup Djarum, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), kembali menjadi sorotan pelaku pasar usai mengumumkan rencana rights issue jumbo senilai Rp5,5 triliun.
Lewat skema penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD), TOWR akan melepas 8,1 miliar saham baru setara 13,91% dari total saham beredar.
Harga pelaksanaan ditetapkan pada Rp680 per saham, jauh di bawah level pasar saat ini, menjadikan saham TOWR sebagai yang paling diskon di sektor infrastruktur telekomunikasi.
Skema ini berisiko menciptakan efek dilusi yang cukup besar, namun juga membuka potensi capital gain hingga 88% menurut proyeksi valuasi.
Dengan rasio 619:100, aksi korporasi ini dirancang bukan hanya untuk penguatan modal, tetapi juga sebagai sinyal bahwa ekspansi bisnis akan berlanjut agresif ke sektor yang lebih terpadu.
Arah Baru Menuju Lini B2B-B2C: DATA Jadi Pijakan Strategis
TOWR tak sekadar mengandalkan pertumbuhan organik.
Akuisisi tambahan 20% saham PT Remala Abadi Tbk (DATA) senilai Rp267,8 miliar memperkuat pengendalian entitas digital yang dinilai menjanjikan dari sisi pertumbuhan pengguna.
Dengan total kepemilikan mencapai 60%, TOWR kini memegang kendali mayoritas yang membuka peluang konsolidasi pendapatan.
Total investasi Rp804 miliar menjadi fondasi penguatan bisnis B2B dan B2C secara vertikal—strategi yang semakin penting di tengah persaingan tarif sewa menara yang makin ketat.
Langkah ini juga menyiapkan TOWR dalam menghadapi potensi margin pressure akibat integrasi XL Smart dan perang harga yang melanda penyedia infrastruktur jaringan.
Kinerja Kuartalan Stabil Meski Margin Tertekan Kurs
Dari sisi fundamental, TOWR masih menjaga daya tahan keuangan sepanjang kuartal pertama 2025.
Pendapatan mencapai Rp3,2 triliun atau tumbuh 5,3% dibanding tahun lalu, walau mengalami penurunan musiman sebesar 2,4% secara kuartalan.
EBITDA tetap tinggi di angka Rp2,67 triliun dengan margin solid 83,5%, sebuah performa impresif dalam lanskap industri yang makin kompetitif.
Namun, laba bersih hanya tumbuh tipis 0,7% secara tahunan menjadi Rp803 miliar dan tertekan 9,6% secara kuartalan akibat rugi selisih kurs.
Meski demikian, margin laba bersih 25% menunjukkan TOWR masih sangat efisien dalam skala operasi.
Bagi investor jangka menengah, fundamental ini menunjukkan pondasi kuat, dan bagi trader harian, harga rights issue yang jauh di bawah nilai pasar menjadi magnet utama spekulasi cuan cepat.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












