Kredit Bermasalah Bank Besar Masih Jadi Ancaman
JAKARTA, BursaNusantara.com – Saat industri perbankan mulai menunjukkan perbaikan rasio kredit bermasalah, dua raksasa bank Tanah Air justru harus berjibaku dengan tekanan kualitas kredit yang meningkat.
Data OJK menunjukkan rasio NPL gross nasional turun tipis ke 2,22% per Juni 2025 dari 2,26% pada periode sama tahun lalu.
Namun, rasio NPL net justru naik dari 0,78% menjadi 0,84%, memberi sinyal bahwa risiko kredit belum benar-benar mereda.
UMKM Jadi Titik Paling Rentan di Tengah Kuatnya Tekanan Kredit
BRI sebagai pemimpin pasar pembiayaan UMKM mencatatkan kenaikan rasio NPL secara bank only menjadi 3,23%, naik tipis dari 3,21% pada Juni 2024.
Namun, sorotan utama justru datang dari segmen mikro, yang kini mencatat NPL di level 3,86%, melonjak dari 2,95% setahun sebelumnya.
Kondisi ini menegaskan bahwa tekanan kredit paling serius justru berada di lapisan bawah pelaku usaha kecil.
Akibatnya, BRI terpaksa menaikkan beban pencadangan sebesar 25,8% YoY menjadi Rp 23,2 triliun, sebagai bentuk antisipasi kerugian.
Langkah ini mencerminkan kehati-hatian sekaligus tekanan beban operasional yang semakin besar di tengah meningkatnya risiko pembiayaan.
Direktur Manajemen Risiko BRI Mucharom menyebut pihaknya telah menyempurnakan model asesmen risiko dan memperkuat sistem early warning.
BRI juga memperluas digitalisasi pada proses collection untuk meningkatkan efektivitas penagihan dan pemulihan kredit bermasalah.
Dengan fokus utama tetap pada segmen UMKM, BRI mencoba menyeimbangkan antara ekspansi dan proteksi risiko, agar tidak terjebak pada jebakan pertumbuhan semu.
BCA Pun Tak Luput, Kredit Bermasalah Naik Tajam Kuartalan
BCA sebagai bank dengan citra risiko konservatif juga mencatat peningkatan NPL secara kuartalan.
NPL gross per Juni 2025 stagnan di level 2,2% secara tahunan, tapi memburuk dari 2% di kuartal I-2025 menjadi 2,2% di kuartal II-2025.
Ini menandakan tekanan kualitas kredit yang kian nyata, meski masih dalam batas wajar untuk bank dengan profil risiko rendah seperti BCA.
Namun stagnasi tahunan tidak cukup menenangkan, sebab akselerasi risiko secara kuartalan sering kali menjadi awal dari tren kenaikan jangka menengah.
BCA perlu mengevaluasi segmen mana yang mulai melemah secara fundamental dan memperketat seleksi debitur baru di sektor terdampak.
Pasar saat ini memberi perhatian besar terhadap kemampuan bank besar menjaga kualitas aset di tengah tekanan makroekonomi dan konsumsi domestik yang belum pulih sepenuhnya.
Kredit Bermasalah Bukan Lagi Masalah Teknis, Tapi Strategi
Dalam lanskap saat ini, risiko kredit bukan semata masalah kualitas debitur, melainkan cerminan strategi ekspansi yang terlalu agresif pascapandemi.
Bank yang terlalu cepat mendorong pertumbuhan kredit di segmen bawah tanpa sistem mitigasi yang solid kini mulai merasakan dampaknya.
Peningkatan beban pencadangan akan memangkas margin laba bersih, bahkan berpotensi menekan dividen jika berlanjut pada semester II-2025.
Para analis memperingatkan bahwa perlambatan kualitas kredit dapat menjadi pemicu tekanan valuasi saham perbankan dalam jangka pendek.
Investor akan semakin selektif, membedakan antara ekspansi yang sehat dan pertumbuhan yang penuh risiko.
Dengan tekanan kredit yang mulai terasa dari mikro hingga korporasi, perbankan tidak bisa lagi mengandalkan momentum belaka.
Ke depan, strategi pemulihan aset dan efisiensi beban operasional menjadi penentu apakah bank tetap tumbuh atau justru terpukul tekanan dari dalam.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.













Respon (7)