HeadlinePasarSaham

Ritel Serbu CDIA, Kontrol Tetap di Konglomerat

152
Ritel Serbu CDIA, Kontrol Tetap di Konglomerat
CDIA milik Prajogo Pangestu dibanjiri 363 ribu investor ritel, namun kendali saham tetap di tangan korporasi besar TPIA dan Phoenix Power BV.

Ritel Dominan Jumlah, Bukan Kepemilikan di CDIA

JAKARTA, BursaNusantara.com – Gelombang minat investor ritel terhadap saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) pasca-IPO 9 Juli 2025 terlihat luar biasa, namun kendali perusahaan tetap terkonsentrasi di tangan segelintir korporasi besar.

Data registrasi pemegang saham per 31 Juli 2025 mencatat total 363.493 pihak memiliki saham CDIA. Dari jumlah itu, 363.053 di antaranya adalah investor ritel lokal.

Meski secara jumlah mendominasi, porsi kepemilikan ritel lokal hanya 2,78% dari total saham beredar. Artinya, sebagian besar kendali perusahaan berada jauh dari tangan mayoritas investor ini.

Korporasi Lokal Jadi Pengendali Utama

Sebanyak 251 entitas berbadan hukum Indonesia menguasai 65,72% saham CDIA. Dari angka tersebut, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memegang kendali absolut dengan kepemilikan 60% saham.

Posisi TPIA sebagai induk sekaligus pengendali memberikan sinyal kuat bahwa arah strategis CDIA sangat dipengaruhi oleh kebijakan grup Prajogo Pangestu ini.

Kontrol mayoritas seperti ini lazim di struktur perusahaan publik milik konglomerasi, di mana ritel kerap menjadi pelengkap likuiditas tanpa signifikan mempengaruhi keputusan korporasi.

Pemain Asing Masuk Lewat Phoenix Power BV

Selain korporasi lokal, 15 badan usaha asing menguasai 31,40% saham CDIA. Porsi terbesar, yakni 30% saham, dikuasai Phoenix Power BV, entitas yang menjadi mitra strategis grup di tingkat global.

Sementara itu, ritel asing berjumlah 157 pihak, dengan kepemilikan sangat kecil di 0,08%. Kehadiran mereka lebih sebagai partisipan likuiditas ketimbang pengendali arah perusahaan.

Komposisi kepemilikan ini menunjukkan CDIA adalah perusahaan publik yang tetap berada di bawah kendali terpusat, meski dibuka lebar bagi partisipasi investor publik.

Perjalanan Saham Pasca-FCA

Performa saham CDIA mengalami gejolak pada pekan lalu setelah keluar dari papan pemantauan khusus full call auction (FCA) pada 5 Agustus 2025.

Tekanan jual membuat harga sempat tertekan, namun pada Jumat (8/8/2025), saham berhasil menutup perdagangan di zona hijau, naik tipis 0,96% ke Rp 1.580.

Kondisi ini mencerminkan volatilitas yang masih tinggi di fase awal perdagangan pasca-IPO, di mana aksi ambil untung (profit taking) ritel dan manuver investor besar sama-sama mempengaruhi arah harga.

Prospek Harga Menurut Analis

Analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menilai prospek saham CDIA masih positif di tengah dinamika pasar jangka pendek.

Sejak sebelum listing di BEI, Ekky sudah memproyeksikan harga wajar CDIA di kisaran Rp 2.000, dengan potensi melesat hingga Rp 2.350 jika momentum pasar mendukung.

Area support kuat berada di Rp 1.600–Rp 1.650, sementara jika harga gagal bertahan di zona ini, ada risiko koreksi lebih dalam menuju Rp 1.300.

Sudut Pandang Baru: Aset Strategis di Balik Kepemilikan Terkonsentrasi

Melihat struktur kepemilikan CDIA, jelas bahwa saham ini lebih tepat dipandang sebagai aset strategis grup, bukan sekadar saham publik biasa.

Dominasi TPIA dan Phoenix Power BV memberi stabilitas arah bisnis, namun di sisi lain membatasi ruang investor ritel untuk mempengaruhi kebijakan perusahaan.

Bagi investor jangka panjang, posisi pengendali yang kuat sering diartikan sebagai kepastian arah strategis, selama kepentingan pemegang saham minoritas tetap diperhatikan.

Namun, bagi trader, komposisi kepemilikan seperti ini berarti pergerakan harga lebih sensitif terhadap aksi dari segelintir pemain besar, bukan semata sentimen pasar ritel.

Navigasi di Tengah Struktur Kepemilikan Solid

Memahami bahwa likuiditas saham CDIA mayoritas dipengaruhi oleh ritel, sementara arah bisnis ditentukan oleh pengendali, menjadi kunci bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang di saham ini.

Kinerja harga akan sangat bergantung pada sentimen grup, realisasi rencana bisnis pasca-IPO, dan kondisi industri yang menaungi lini usaha CDIA.

Bagi investor yang mampu membaca pola aksi korporasi TPIA dan Phoenix Power BV, CDIA bisa menjadi pintu masuk strategis ke dalam ekosistem bisnis konglomerasi Prajogo Pangestu.

Saham ini berpotensi menarik bukan hanya dari sisi fundamental, tetapi juga sebagai instrumen spekulasi bagi mereka yang memahami dinamika pengendali pasar.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version