Geser Kebawah
Aksi KorporasiPasar

Rugi Triliunan, AMMN Tersandung di 2025 Meski Aset Melonjak

265
×

Rugi Triliunan, AMMN Tersandung di 2025 Meski Aset Melonjak

Sebarkan artikel ini
Rugi Triliunan, AMMN Tersandung di 2025 Meski Aset Melonjak
AMMN rugi bersih US$153,51 juta di semester I-2025, anjlok dari laba tahun lalu. Pendapatan merosot tajam, tapi aset justru meningkat signifikan.

Aset Tumbuh Saat Rugi Menjulang, Amman Mineral Terjepit Dua Arah

JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencetak performa paling kontras dalam sejarah kinerjanya pada paruh pertama 2025, ketika pertumbuhan aset tidak mampu mengimbangi longsornya pendapatan yang menyebabkan kerugian bersih fantastis.

Hingga akhir Juni 2025, emiten tambang milik grup Salim dan keluarga Panigoro ini mencatat rugi bersih senilai US$153,51 juta atau sekitar Rp2,52 triliun, padahal setahun sebelumnya AMMN masih menorehkan laba bersih sebesar US$443,63 juta.

Sponsor
Iklan

Laporan keuangan interim yang dirilis ke publik menggambarkan gejolak besar dalam model bisnis perusahaan tambang tembaga dan emas ini, yang dulunya menjadi salah satu primadona emiten sektor komoditas di bursa.

Pendapatan Amblas, Core Bisnis AMMN Diguncang

Penurunan drastis pendapatan menjadi biang utama di balik anjloknya kinerja laba AMMN sepanjang semester I-2025, dengan pendapatan hanya mencapai US$182,6 juta.

Angka ini mencerminkan penurunan sebesar 88,12% dibandingkan semester I-2024 yang mencatatkan pendapatan US$1,54 miliar, sebuah lonceng darurat bagi sektor produksi dan penjualan perseroan.

Efek domino dari kejatuhan pendapatan juga terasa pada laba kotor yang ikut longsor menjadi US$55,7 juta, padahal tahun lalu masih sebesar US$851,89 juta, yang artinya terdapat penyusutan 93% secara tahunan.

Efisiensi dan pengendalian biaya nyatanya tidak cukup untuk mengimbangi turunnya volume penjualan maupun harga jual rata-rata komoditas yang diproduksi AMMN.

Beban pokok penjualan yang tetap tinggi memperparah tekanan margin, membuat kinerja operasional tergelincir hingga mencatat rugi usaha sebesar US$30,21 juta, berbeda tajam dari laba usaha US$785,18 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Lini Operasional Terhenti, Tapi Aset Justru Melejit

Di tengah terpaan rugi yang membengkak, AMMN mencatatkan pertumbuhan aset cukup signifikan yang menimbulkan tanda tanya di kalangan analis pasar dan investor.

Per 30 Juni 2025, total aset perusahaan tumbuh 14,03% menjadi US$12,68 miliar dibandingkan posisi akhir tahun 2024, didorong oleh peningkatan saldo kas dan setara kas sebesar US$247,89 juta menjadi total US$1 miliar.

Likuiditas yang lebih kuat ini mencerminkan upaya manajemen mengamankan permodalan dalam menghadapi tekanan operasional, serta mempertebal bantalan keuangan jika koreksi pasar komoditas terus berlanjut.

Namun, di sisi lain, lonjakan aset ini disertai peningkatan liabilitas signifikan sebesar US$1,75 miliar, menjadikan total kewajiban mencapai US$7,62 miliar pada pertengahan tahun.

Kenaikan kewajiban ini bisa berasal dari tambahan pinjaman untuk modal kerja, pembayaran utang masa depan, atau strategi restrukturisasi keuangan yang tengah ditempuh oleh emiten.

Pertaruhan Strategis di Tengah Harga Komoditas Labil

Langkah ekspansi dan konsolidasi aset saat pendapatan sedang melemah memperlihatkan posisi spekulatif AMMN dalam mempertahankan daya saing dan portofolio tambangnya.

Pasar komoditas yang volatil, terutama harga tembaga dan emas dunia, menjadi faktor eksternal yang sangat memengaruhi arus kas dan profitabilitas perseroan.

Manajemen kemungkinan tengah mengantisipasi pemulihan harga global dalam jangka menengah, sekaligus menyusun ulang rantai pasok dan strategi penjualan yang lebih adaptif.

Namun, tekanan jangka pendek tetap besar karena kinerja semester pertama mencerminkan pola kerentanan terhadap fluktuasi pasar dan ketergantungan pada ekspor komoditas mentah.

Risiko Bagi Investor dan Posisi Emiten di Bursa

Dengan kerugian bersih sebesar US$153 juta, posisi saham AMMN di mata investor menjadi rentan terhadap tekanan jual, apalagi jika tidak ada pernyataan strategis dari manajemen terkait arah kinerja kuartal III.

Kejatuhan laba dalam tempo 12 bulan menunjukkan adanya kemungkinan kegagalan mitigasi risiko bisnis, yang berisiko menurunkan persepsi kelayakan investasi jangka pendek di saham ini.

Meski demikian, sebagian investor dengan profil agresif bisa memandang peningkatan aset dan saldo kas sebagai sinyal potensi pemulihan, khususnya bila sektor tambang global kembali pulih pada akhir tahun.

Posisi AMMN sebagai salah satu aset konglomerasi besar di bawah Anthoni Salim dan keluarga Panigoro juga tetap menjadikannya sorotan utama pelaku pasar.

Keseimbangan Rapuh Antara Ekspansi dan Efisiensi

Di tengah tekanan keuangan, strategi AMMN untuk tetap mempertahankan ekspansi aset menunjukkan dualitas langkah mendorong pertumbuhan jangka panjang namun dengan konsekuensi arus kas dan beban utang yang kian berat.

Risiko keberlanjutan bisnis ke depan tidak hanya terletak pada faktor global, tetapi juga pada efektivitas strategi internal untuk menekan kerugian, mengembalikan margin usaha, dan menyesuaikan struktur biaya produksi.

Investor kini menanti apakah semester kedua 2025 akan menjadi titik balik atau justru mengukuhkan tren negatif baru dalam siklus bisnis perusahaan ini.

AMMN harus menghadirkan narasi pemulihan yang lebih kuat, bukan hanya dalam angka laporan keuangan, tetapi juga dalam aksi nyata di lapangan produksi, operasional, dan efisiensi manajemen.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.