Geser Kebawah
KomoditasPasar

Rupiah Fluktuatif, Berpotensi Dekati Rp 17.000 di Kuartal II

78
×

Rupiah Fluktuatif, Berpotensi Dekati Rp 17.000 di Kuartal II

Sebarkan artikel ini
Rupiah Fluktuatif, Berpotensi Dekati Rp 17.000 di Kuartal II
Rupiah melemah di akhir kuartal I 2025. Analis menilai intervensi BI akan menentukan pergerakan rupiah di kuartal II, dengan potensi menyentuh Rp 17.000.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di akhir kuartal I 2025. Pergerakan yang fluktuatif dan cenderung melemah menimbulkan kekhawatiran mengenai kelanjutan trennya di kuartal II. Analis menilai bahwa intervensi Bank Indonesia (BI) akan menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas rupiah dalam beberapa bulan mendatang.

Pergerakan Rupiah di Akhir Kuartal I

Penguatan Tipis Sebelum Libur Lebaran

Pada perdagangan Kamis (27/3), rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI tercatat menguat tipis ke Rp 16.566 per dolar AS, naik 0,13% secara harian. Namun, secara mingguan, rupiah masih melemah 0,39%.

Sponsor
Iklan

Selama libur lebaran, transaksi rupiah di pasar spot domestik terhenti karena BI tidak beroperasi penuh. Meski demikian, transaksi rupiah tetap berlangsung di pasar offshore dengan likuiditas yang lebih rendah dan tanpa intervensi signifikan dari BI.

Baca Juga: Rupiah Tertekan, Sentuh Rp 16.575 per Dolar AS di Perdagangan Senin

Rupiah Kembali Melemah di Awal Kuartal II

Per Rabu (2/4) pukul 10.24 WIB, rupiah melemah ke Rp 16.706 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring dengan turunnya indeks dolar spot (DXY) ke level 104,1580.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyebut bahwa sentimen eksternal menjadi faktor utama yang mempengaruhi nilai tukar rupiah saat pasar domestik kembali dibuka pasca-libur lebaran.

Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Rupiah

Sentimen Global Mendominasi

Menurut Lukman, rupiah pada kuartal II akan sangat bergantung pada sentimen global, khususnya kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan China.

Baca Juga: China Respon Kebijakan AS dengan Tarif 15%, Perang Dagang II Kian Memanas

“Kebijakan dari AS paling dominan saat ini, sementara dari China juga berpengaruh, terutama jika ada stimulus baru yang dapat menopang rupiah,” ujar Lukman.

Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan kebijakan tarif balasan terhadap berbagai negara, yang mulai berlaku pada Rabu (2/4). Meski detail kebijakan belum diumumkan, kekhawatiran akan eskalasi perang dagang kembali meningkat.

Jika negara-negara utama merespons kebijakan tarif ini dengan tindakan serupa, indeks dolar (DXY) bisa melemah. Hal ini berpotensi memberi ruang bagi mata uang lain, termasuk rupiah, untuk menguat.

Baca Juga: IHSG Naik 65 Poin, Pilarmas Rekomendasikan BBCA untuk Sesi II

Negara-Negara Mulai Merespons Tarif Trump

Beberapa negara besar telah memberikan respons terhadap kebijakan tarif Trump:

  • China mengancam akan mengambil langkah balasan atas tarif 20% yang dikenakan AS terhadap barang-barangnya.
  • Kanada akan mengenakan tarif 25% terhadap produk AS senilai US$ 15 miliar.
  • Meksiko juga berencana membalas kebijakan tarif tersebut.

Ketegangan dagang ini telah menyebabkan indeks dolar melemah, yang bisa memberi sedikit ruang bagi penguatan rupiah.

Prediksi Rupiah di Kuartal II

Potensi Mendekati Rp 17.000

Lukman menilai bahwa arah pergerakan rupiah di kuartal II masih sulit diprediksi, terutama karena ketidakpastian kebijakan tarif AS dan respons negara-negara lain.

Namun, ia memperkirakan rupiah masih cenderung tertekan dengan potensi mendekati level Rp 17.000 per dolar AS. Meski demikian, Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi guna menjaga volatilitas tetap terkendali.

“Tanpa intervensi BI, rupiah berpeluang besar menembus level tertinggi sepanjang masa (ATH) di atas Rp 17.000,” ujar Lukman.

Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga akan berperan dalam menentukan arah rupiah. Menurutnya, pemerintah perlu meyakinkan investor mengenai posisi fiskal negara agar tidak terjadi kepanikan di pasar keuangan.

Dengan kombinasi intervensi BI dan kebijakan fiskal yang tepat, rupiah masih memiliki peluang untuk tetap stabil di tengah ketidakpastian global.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.