Geser Kebawah
BisnisOtomotif

Rupiah Melemah, Industri Otomotif Siapkan Strategi

169
×

Rupiah Melemah, Industri Otomotif Siapkan Strategi

Sebarkan artikel ini
Rupiah Melemah, Industri Otomotif Siapkan Strategi
Melemahnya rupiah di pasar NDF tekan industri otomotif RI. GAIKINDO sebut perusahaan siapkan bumper agar harga mobil tetap stabil.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Kurs rupiah mengalami tekanan berat di pasar non-deliverable forward (NDF), dengan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat terjun bebas hingga menyentuh level Rp17.006 per dolar pada Jumat (4/4).

Kondisi ini memicu kekhawatiran di sektor industri otomotif nasional yang selama ini sangat bergantung pada impor bahan baku dari luar negeri.

Sponsor
Iklan

Kurs Anjlok, Biaya Produksi Otomotif Terancam Naik

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), Kukuh Kumara, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah ini dapat berdampak cukup signifikan terhadap biaya produksi otomotif, mengingat mayoritas komponen seperti baja, aluminium, plastik, hingga chip elektronik masih diimpor.

Baca Juga: Strong Dollar Bangkit: Perang Dagang AS Kembali Membara

“Mengenai nilai tukar ini, dampaknya jangka panjang ya. Tentu tiap-tiap perusahaan punya strategi sendiri yang tidak bisa disatukan satu sama lain,” ujar Kukuh dalam keterangan resminya kepada media, Minggu (6/4).

Setiap perusahaan, lanjut Kukuh, telah menyiapkan skenario mitigasi risiko nilai tukar dengan tahapan yang berbeda, termasuk kapan harus bertahan dan kapan melakukan penyesuaian harga.

Harga Mobil Tak Bisa Langsung Naik

Meskipun tekanan terhadap biaya impor meningkat, GAIKINDO menegaskan bahwa menaikkan harga kendaraan bukanlah langkah bijak dalam situasi saat ini. Menurut Kukuh, kenaikan harga mobil justru bisa memperburuk daya beli masyarakat dan melemahkan pasar domestik.

Baca Juga: Hyundai Targetkan 15 Model Baru hingga 2028, Perluas Dominasi EV di Indonesia

“Kalau kita menaikkan harga itu bukan malah memperbaiki, tapi malah memperburuk kondisi karena masyarakat nggak mau beli sebab harganya mahal banget,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipatif, Kukuh menyebut bahwa pelaku usaha menyiapkan “cushion” atau “bumper” sebagai penyangga sementara untuk menjaga harga jual tetap kompetitif, setidaknya dalam jangka pendek hingga ada kepastian dari pergerakan nilai tukar.

GAIKINDO Harap Negosiasi Dagang Segera Membuahkan Hasil

Lebih lanjut, GAIKINDO menyoroti urgensi langkah pemerintah dalam melakukan negosiasi dagang, khususnya dengan Amerika Serikat. Kukuh menyebut bahwa tarif resiprokal yang diberlakukan era Presiden Trump turut menjadi faktor yang menekan nilai tukar rupiah saat ini.

Baca Juga: Alamtri (ADRO) Umumkan Dividen Interim US$ 200 Juta

“Kita pelajari dulu sampai sejauh mana, karena saat ini pemerintah sedang negosiasi dengan Amerika ya. Tapi yang jelas kita ingin melindungi industri dalam negeri kita,” tegas Kukuh.

Situasi volatilitas nilai tukar ini membuat sektor otomotif harus bersikap adaptif, tanpa mengorbankan pertumbuhan pasar nasional yang selama ini menjadi tulang punggung industri kendaraan bermotor Tanah Air.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru