JAKARTA, BursaNusantara.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa pagi (11/3). Berdasarkan data pasar, rupiah spot tercatat berada di level Rp 16.415 per dolar AS pada pukul 09.12 WIB, turun 0,29% dari posisi sebelumnya di Rp 16.367 per dolar AS.
Rupiah Tertekan di Tengah Dominasi Dolar AS
Melemahnya rupiah terjadi di tengah dominasi dolar AS yang masih kuat di pasar global. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga mengalami pelemahan. Ringgit Malaysia mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,32%, disusul rupiah yang turun 0,29%. Dolar Taiwan dan won Korea juga mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,13% dan 0,02%.
Sebaliknya, beberapa mata uang Asia lainnya berhasil menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang memimpin penguatan dengan kenaikan 0,17%, diikuti dolar Singapura yang naik 0,14%, yuan China yang menguat 0,12%, serta baht Thailand dan peso Filipina yang mencatatkan penguatan tipis.
Indeks Dolar AS dan Dampaknya pada Rupiah
Indeks dolar AS yang mencerminkan pergerakan mata uang Negeri Paman Sam terhadap sejumlah mata uang utama dunia berada di level 103,71. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan posisi sehari sebelumnya di 103,90, namun masih cukup kuat untuk memberikan tekanan terhadap rupiah dan mata uang lainnya di kawasan.
Para pelaku pasar saat ini masih mencermati kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) dan data ekonomi terbaru dari AS. Perkembangan ini menjadi faktor utama dalam pergerakan nilai tukar rupiah yang masih berada dalam tren pelemahan.
Prospek Rupiah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian turut memengaruhi pergerakan rupiah. Kebijakan suku bunga AS, inflasi global, serta sentimen investor terhadap aset berisiko menjadi faktor yang terus dipantau oleh pasar.
Sejumlah analis memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak dalam rentang Rp 16.350 hingga Rp 16.450 per dolar AS dalam waktu dekat. Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus mengoptimalkan kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.
Pergerakan kurs rupiah dalam beberapa waktu ke depan akan sangat bergantung pada sentimen global dan langkah kebijakan yang diambil oleh otoritas moneter dalam negeri.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










