Geser Kebawah
KomoditasPasar

Rupiah Melemah, Trump Perpanjang Gencatan Tarif AS–China

109
×

Rupiah Melemah, Trump Perpanjang Gencatan Tarif AS–China

Sebarkan artikel ini
Rupiah Melemah, Trump Perpanjang Gencatan Tarif AS–China
Rupiah melemah ke Rp16.302 per dolar AS usai Trump memperpanjang gencatan tarif AS–China 90 hari, di tengah antisipasi kenaikan inflasi AS.

Dampak Langsung Perpanjangan Gencatan Tarif pada Rupiah

JAKARTA, BursaNusantara.com – Rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa (12/8/2025) siang, seiring sentimen negatif dari kabar perpanjangan gencatan tarif Amerika Serikat (AS) terhadap China yang justru memicu penguatan dolar.

Data Bloomberg pada pukul 10.13 WIB mencatat rupiah melemah 22,5 poin atau 0,14% menjadi Rp 16.302 per dolar AS di pasar spot exchange.

Sponsor
Iklan

Pada saat bersamaan, indeks dolar AS turun tipis 0,05% ke 98,46, namun tetap mempertahankan tren penguatan setelah kabar perpanjangan penundaan tarif diumumkan.

Strategi Tarif AS–China yang Berubah Arah

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipicu rebound dolar AS menyusul keputusan pemerintah AS untuk memperpanjang masa penundaan tarif terhadap produk asal China selama 90 hari.

Keputusan itu diambil setelah Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif pada Senin (11/8/2025) malam waktu setempat, menunda penerapan tarif tambahan 24% yang semula akan berlaku per 12 Agustus 2024.

Perpanjangan ini merupakan kelanjutan dari gencatan perang tarif yang telah disepakati sejak pertengahan Mei, ketika AS dan China sepakat menahan tarif tinggi melalui kesepakatan di Jenewa.

Saat ini, kedua negara masih menerapkan tarif 10% dari rencana kenaikan 34%, sementara sisanya masih dalam tahap perundingan.

Negosiasi Panjang dan Risiko Baru

Menurut laporan Kyodo, perpanjangan gencatan tarif tersebut diputuskan setelah pembicaraan tingkat tinggi antara AS dan China di Stockholm, Swedia, akhir Juli lalu.

Meski memberikan ruang bagi kedua pihak untuk kembali bernegosiasi, keputusan ini juga memunculkan ketidakpastian baru terkait arah kebijakan perdagangan global.

Dampaknya, pasar mata uang bergerak defensif, dengan investor cenderung memindahkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Lukman menegaskan bahwa efek gencatan tarif ini justru lebih terasa pada perekonomian AS, sehingga secara jangka pendek memperkuat permintaan dolar.

Inflasi AS Jadi Sentimen Lanjutan

Selain faktor tarif, pelaku pasar kini menaruh perhatian besar pada rilis data inflasi AS. Ekspektasi pasar memprediksi inflasi umum akan naik ke 2,8% dari 2,7%, dan inflasi inti naik ke 3% dari 2,9%.

Kenaikan inflasi berpotensi membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed, yang berarti suku bunga tinggi bisa bertahan lebih lama.

Situasi ini menjadi alasan tambahan bagi investor untuk memperkuat posisi di aset dolar AS, sehingga menekan ruang penguatan rupiah.

Sudut Pandang Baru: Dolar Menguat Saat Tekanan Justru di AS

Meski tampak paradoks, penguatan dolar dalam konteks perpanjangan gencatan tarif terjadi bukan karena kondisi ekonomi AS yang membaik, tetapi akibat persepsi pasar terhadap risiko global.

Dolar tetap menjadi mata uang utama pilihan investor ketika ketidakpastian memuncak, meskipun kebijakan tarif itu sendiri dinilai berpotensi menekan perekonomian AS dalam jangka panjang.

Rupiah pun terkena imbas bukan karena fundamental domestik yang memburuk, tetapi karena pergeseran arus modal global yang mencari “safe haven” di tengah negosiasi dagang yang belum pasti.

Proyeksi Pergerakan dan Strategi Pasar

Dengan kondisi ini, peluang rupiah untuk bergerak stabil pekan ini dinilai terbatas. Sentimen global mendominasi pergerakan, sementara faktor domestik hanya berperan sebagai penyeimbang.

Investor institusional kemungkinan akan tetap melakukan lindung nilai (hedging) untuk meminimalkan risiko, sambil mencermati setiap perkembangan negosiasi AS–China dan rilis inflasi AS.

Apabila data inflasi AS melampaui perkiraan, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, bisa semakin besar.

Sebaliknya, jika inflasi ternyata melandai, pasar bisa kembali spekulatif terhadap peluang pemangkasan suku bunga The Fed, yang dapat memberi napas bagi rupiah.

Peran Kebijakan Dalam Negeri

Bank Indonesia diharapkan menjaga stabilitas rupiah dengan memanfaatkan cadangan devisa dan mengatur likuiditas pasar.

Koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga kepercayaan investor tetap menjadi kunci, terutama di tengah ketidakpastian global yang tinggi.

Ruang intervensi tetap ada, namun penggunaannya akan sangat bergantung pada arah sentimen global dalam beberapa pekan mendatang.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.