Penguatan Rupiah Dibayangi Ketegangan The Fed dan Trump
JAKARTA, BursaNusantara.com – Kurs rupiah melesat signifikan ke level Rp16.209 per dolar AS pada Kamis (26/6/2025), mencatatkan penguatan harian 91 poin atau 0,56%.
Lonjakan ini terjadi usai pernyataan mengejutkan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan telah menyiapkan kandidat pengganti Ketua The Fed Jerome Powell.
Pernyataan Trump langsung mengguncang pasar global dan memperlemah indeks dolar yang jatuh 0,58% ke level 97,11.
Penguatan rupiah hari ini melanjutkan tren sejak Rabu sebelumnya, ketika ditutup menguat 53,5 poin ke posisi Rp16.300 per dolar AS.
Trump vs Powell: Independensi The Fed Dipertaruhkan
Ketegangan antara Gedung Putih dan bank sentral AS kembali memuncak di hadapan Kongres AS pada Rabu.
Ketua The Fed Jerome Powell memperingatkan bahwa penurunan suku bunga secara prematur berisiko memicu inflasi yang lebih tinggi dan bertahan lama.
Trump justru mengkritik Powell secara terbuka, menyebutnya “buruk” dan menyatakan telah menyiapkan pengganti.
Menurut laporan Wall Street Journal, nama-nama seperti Kevin Warsh, Kevin Hassett, Scott Bessent, dan Christopher Waller masuk dalam radar Trump sebagai calon Ketua The Fed.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pernyataan Trump menciptakan ketidakpastian atas independensi bank sentral AS.
Kondisi ini meningkatkan volatilitas di pasar uang global dan mendorong pelaku pasar mengalihkan perhatian ke aset emerging market seperti rupiah.
Arah Kebijakan The Fed Ditentukan Data Ekonomi AS
Pasar kini menanti rilis data penting dari Amerika Serikat, termasuk Produk Domestik Bruto (PDB), ketenagakerjaan, dan inflasi.
Data-data ini akan menjadi petunjuk penting terkait arah kebijakan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Powell menyiratkan kehati-hatian, namun tekanan politik dari Trump bisa menimbulkan gangguan terhadap kredibilitas The Fed.
Ibrahim menyebut, setiap sinyal pelonggaran yang berlebihan dapat menimbulkan efek berantai terhadap nilai tukar dan imbal hasil obligasi global.
Asia Bergerak: China dan Indonesia Dorong Stimulus Domestik
Dari kawasan Asia, China dilaporkan bersiap meluncurkan kebijakan untuk mendorong konsumsi domestik yang lemah.
Langkah Beijing ini menjadi respons atas perlambatan ekonomi yang masih membayangi pasca pandemi dan tensi perdagangan global.
Sementara di Indonesia, stimulus fiskal kembali digelontorkan oleh pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Salah satunya melalui penyaluran Bantuan Subsidi Upah (BSU) senilai Rp600 ribu untuk 17,3 juta pekerja dengan gaji di bawah Rp3,5 juta.
Ibrahim menilai, stimulus ini berpotensi mendongkrak konsumsi rumah tangga dan menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Penyaluran BSU dilakukan dalam dua tahap pada Juni dan Juli, masing-masing Rp300 ribu per bulan.
Geopolitik Memanas: Selat Hormuz dan Dampaknya ke Industri
Dinamika pasar turut dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel.
Parlemen Iran memberi lampu hijau penutupan Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Amerika ke situs nuklir Iran.
Langkah ini bisa menjadi pemicu lonjakan harga minyak dan gas dunia, sebab Selat Hormuz adalah jalur vital distribusi energi global.
Ibrahim memperingatkan, penutupan selat akan berdampak langsung ke industri dalam negeri.
Naiknya harga energi, terutama gas, bisa menurunkan kinerja manufaktur nasional yang tercermin dalam Purchasing Managers Index (PMI) dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI).
Tingginya biaya energi juga bisa memukul daya saing industri pengolahan dan mendorong tekanan terhadap neraca perdagangan.
Dilema Iran dan Respons Global
Ancaman Iran bisa berbalik menjadi bumerang yang merugikan mereka sendiri di kancah geopolitik internasional.
Penutupan Selat Hormuz berisiko membuat Iran dijauhi oleh negara tetangga dan mitra dagang utama.
Meskipun keputusan akhir berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Iran, tekanan internasional mulai meningkat.
Pemerintah AS dilaporkan meminta bantuan China untuk mencegah penutupan jalur strategis tersebut.
Langkah diplomatik ini menandakan urgensi tinggi dan kekhawatiran bersama atas potensi krisis energi global.
Proyeksi Rupiah: Fluktuatif dengan Sentimen Luar Negeri
Mengakhiri analisanya, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (30/6/2025).
Rentang pergerakan diprediksi berada antara Rp16.150 hingga Rp16.210 per dolar AS.
Ketidakpastian kebijakan moneter The Fed, data ekonomi AS, serta eskalasi geopolitik akan menjadi penentu utama arah pergerakan rupiah.
Sementara di sisi domestik, efektivitas stimulus fiskal akan menjadi bantalan penting menghadapi tekanan dari eksternal.
Pelaku pasar disarankan tetap mencermati perkembangan global dengan cermat dan waspada terhadap dinamika kebijakan AS yang tidak terduga.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










