KomoditasPasar

Rupiah Menguat di Tengah Kekhawatiran Perlambatan Ekonomi AS

101
Rupiah Menguat di Tengah Kekhawatiran Perlambatan Ekonomi AS
Rupiah menguat terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi AS dan dampak kebijakan tarif Presiden Trump. Simak analisis lengkapnya di sini.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada Jumat sore (7/3/2025). Hal itu didorong oleh meningkatnya kekhawatiran akan perlambatan ekonomi AS.

Mata uang rupiah ditutup menguat 45 poin (0,28%) berada di level Rp 16.294,5 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar turun 0,35 poin menjadi 103,7. Sebelumnya, pada Kamis (6/3/2025), nilai tukar rupiah sempat ditutup melemah 27 poin (0,17%) di level Rp 16.339,5 per dolar AS.

Dampak Kebijakan Trump terhadap Dolar AS

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa dolar AS mengalami tekanan akibat meningkatnya kekhawatiran terkait perlambatan ekonomi AS. Ketidakpastian ini semakin diperparah oleh dampak kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump.

“Hal itu setelah Presiden AS Donald Trump membuat konsesi untuk Kanada dan Meksiko dari tarif 25% yang baru-baru ini dikenakannya,” kata Ibrahim, Jumat (7/3/2025).

Presiden The Fed Atlanta, Raphael Bostic, pada Kamis (6/3/2025) menyatakan bahwa kebijakan Trump mengaburkan prospek ekonomi AS. Ia juga memperingatkan bahwa tarif tersebut dapat meningkatkan inflasi. Saat ini, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah sembari menunggu kejelasan lebih lanjut terkait kondisi ekonomi AS.

Data Ekonomi AS dan Pengaruhnya terhadap Rupiah

Menurut Ibrahim, data nonfarm payrolls Februari, yang akan dirilis pada Jumat, diharapkan memberikan lebih banyak petunjuk mengenai kondisi ekonomi AS.

“Sementara pasar tenaga kerja sejauh ini tetap kuat, tanda-tanda pendinginan di sektor ini dapat semakin merusak sentimen terhadap ekonomi AS,” tambah Ibrahim.

Di sisi lain, ekspor China tumbuh lebih lambat dari yang diharapkan pada periode Januari-Februari, sementara impor tiba-tiba anjlok. Namun, neraca perdagangan China tetap tumbuh lebih dari perkiraan. “Ekspor yang lemah mencerminkan beberapa hambatan dari tarif perdagangan Trump, yang mulai berlaku sejak awal Februari,” jelasnya.

Kenaikan Tarif Trump dan Respons China

Trump menaikkan tarif impor dari China menjadi 20% minggu ini, yang langsung dibalas oleh Beijing dengan serangkaian tindakan serupa. Hal ini diperkirakan turut memengaruhi angka impor China yang lebih rendah. Meskipun demikian, surplus perdagangan China masih kuat, menandakan adanya keseimbangan dalam perdagangan global.

Stabilitas Harga Pangan di Indonesia

Dari faktor domestik, Ibrahim menyatakan bahwa pasar merespons positif langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan selama Ramadan 2025. Meskipun ancaman cuaca ekstrem berpotensi mengganggu pasokan, pemerintah memastikan harga pangan pokok tetap stabil.

Pemerintah bersama pelaku usaha terus berupaya menjaga harga pangan di tingkat konsumen agar tetap sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) dan harga acuan penjualan (HAP). Langkah ini penting untuk menjaga inflasi pangan tetap terkendali.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan akan mengalami fluktuasi. Namun, rupiah ditutup melemah dalam rentang Rp 16.280-16.340 per dolar AS,” tutup Ibrahim.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version