KomoditasPasar

Rupiah Menguat Didukung Data Inflasi AS dan Sentimen Pasar

89
Daya Beli Lemah Bayangi Penguatan Rupiah Hari Ini
Rupiah menguat 0,39% ke Rp16.561 per dolar AS pada 14 Mei, didorong pelemahan dolar dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.

Inflasi AS Melemah, Rupiah Menguat ke Rp16.561 per Dolar

JAKARTA, BursaNusantara.com – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 14 Mei 2025. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot tercatat menguat 0,39% ke level Rp16.561 per dolar AS.

Penguatan ini didorong oleh pelemahan dolar AS yang dipicu data inflasi Amerika yang lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Inflasi AS di Bawah Prediksi

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan dolar terjadi seiring rilis indeks harga konsumen (CPI) AS bulan April yang hanya tumbuh 0,2%. Ini menurunkan laju inflasi tahunan AS ke level 2,3%, lebih rendah dari prediksi pasar sebesar 2,4%.

“Itu memicu ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed,” kata Lukman, Rabu (14/5).

Ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga turut mendorong arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sentimen Positif Masih Terbatas

Di sisi lain, pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa rilis data inflasi AS juga turut meredakan kekhawatiran terhadap dampak kebijakan tarif Donald Trump terhadap ekonomi global.

Namun, ia mengingatkan bahwa dari dalam negeri masih ada tekanan, khususnya dari sisi konsumsi masyarakat.

“Penurunan penjualan ritel diperkirakan berlanjut hingga kuartal ketiga, yang mencerminkan daya beli masyarakat masih lemah,” ujar Ibrahim dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (14/5).

Ia menilai hal ini bisa menjadi sentimen negatif bagi rupiah ke depan, meskipun dalam jangka pendek potensi penguatan masih terbuka.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Kamis, 15 Mei

Lukman memperkirakan bahwa rupiah akan tetap cenderung menguat pada Kamis (15/5), dengan rentang pergerakan antara Rp16.500 hingga Rp16.600 per dolar AS.

Sementara itu, Ibrahim memproyeksikan rentang yang lebih sempit, yakni Rp16.500–Rp16.570.

Dengan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS yang melunak, tekanan eksternal terhadap rupiah saat ini cenderung menurun. Namun, kinerja sektor domestik tetap menjadi kunci daya tahan mata uang Garuda dalam jangka menengah.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version