JAKARTA, BursaNusantara.com – Rupiah menunjukkan performa yang kuat di awal Maret 2025. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat 115 poin di level Rp16.480 per dolar AS pada Senin sore (3/3/2025), setelah sebelumnya sempat berada di Rp16.595 per dolar AS pada akhir Februari. Penguatan ini dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE), ekspansi sektor manufaktur, dan deflasi Februari 2025.
Faktor Pendukung Penguatan Rupiah
1. Kebijakan DHE Berlaku 1 Maret 2025
Pemerintah resmi memberlakukan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) per 1 Maret 2025. Dengan aturan ini, eksportir diwajibkan menyimpan 100% DHE SDA di dalam negeri selama satu tahun. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pasokan valas dan memperkuat cadangan devisa Indonesia.
“Aturan baru ini bisa memperkuat cadangan devisa Indonesia di tengah gejolak pasar saat ini,” kata Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi.
2. PMI Manufaktur Indonesia Meningkat
Sektor manufaktur Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan pada Februari 2025. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke 53,6 dari sebelumnya 51,9 pada Januari. Ini merupakan level tertinggi dalam hampir satu tahun terakhir.
“Kenaikan ini mencerminkan perbaikan signifikan di sektor produksi barang. Permintaan baru meningkat, aktivitas pembelian tumbuh, dan tenaga kerja bertambah,” jelas Ibrahim.
3. Deflasi Februari 2025
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,48% secara bulanan (month to month/mtm) pada Februari 2025. Indeks Harga Konsumen (IHK) turun dari 105,99 pada Januari menjadi 105,48 pada Februari.
Deflasi ini terjadi akibat penurunan harga pada beberapa kelompok barang, terutama bahan makanan. Penurunan tekanan inflasi dapat memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Dinamika Global: Dampak Kebijakan AS dan China
1. Ketidakpastian Kebijakan Tarif AS
Investor masih menunggu kebijakan tarif perdagangan yang akan diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump dalam beberapa hari ke depan. Trump sebelumnya mengumumkan tarif tambahan 10% untuk China serta menegaskan jadwal tarif 25% untuk Meksiko dan Kanada. Namun, ada indikasi bahwa kebijakan ini masih dapat berubah.
“Trump akan menentukan tingkat tarif yang tepat pada Selasa (4/3/2025), yang bisa mengindikasikan kelonggaran atau penyesuaian lebih lanjut,” ujar Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick.
2. Pertumbuhan Manufaktur China dan Dampaknya
Sektor manufaktur China menunjukkan pertumbuhan lebih tinggi dari ekspektasi. PMI Manufaktur Caixin China mencapai titik tertinggi dalam tiga bulan terakhir, didorong oleh langkah-langkah stimulus ekonomi yang dilakukan pemerintah sejak tahun lalu.
Sementara itu, investor global juga akan mencermati pertemuan tahunan Dua Sesi China, yang mencakup Kongres Rakyat Nasional (NPC) dan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China (CPPCC). Pertemuan ini berpotensi menghadirkan kebijakan-kebijakan baru untuk menstabilkan perekonomian China, yang tentunya juga berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia.
Proyeksi Rupiah ke Depan
Menurut Ibrahim, rupiah diperkirakan masih akan mengalami fluktuasi dalam perdagangan jangka pendek, dengan rentang pergerakan di Rp16.430 – Rp16.490 per dolar AS untuk perdagangan Selasa (4/3/2025).
Meski demikian, dengan kombinasi kebijakan DHE, ekspansi sektor manufaktur, dan deflasi, rupiah berpotensi tetap stabil dan mendapat dukungan fundamental yang kuat. Pelaku pasar diharapkan terus memantau perkembangan global, terutama kebijakan tarif AS dan langkah-langkah ekonomi China, yang dapat memberikan sentimen baru bagi pergerakan mata uang rupiah.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











