Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Rupiah Minggu Depan: Menuju Rp 16.250–16.375, Siapkah BI?

133
×

Rupiah Minggu Depan: Menuju Rp 16.250–16.375, Siapkah BI?

Sebarkan artikel ini
Rupiah Minggu Depan Menuju Rp 16.250–16.375, Siapkah BI
Proyeksi rupiah pekan depan berada di kisaran Rp 16.250–16.375/USD. Analisis terbaru menunjukkan tekanan inflasi dan tarif regional menjadi sentimen utama.

Analisis Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Pekan Depan

JAKARTA, BursaNusantara.com – Setelah mencatat penguatan 1,33% dalam sepekan, rupiah menunjukkan sinyal stabil pada pekan yang akan datang meski tantangan seperti inflasi global dan tarif AS masih mengintai pasar.

Rupiah spot menutup perdagangan Jumat (8 Agustus 2025) pada level Rp 16.293 per dolar AS, terkoreksi tipis 0,04%, namun mencatat apresiasi mingguan yang solid. Secara paralel, kurs Jisdor BI juga mencatat penguatan 0,08% menjadi Rp 16.299 per dolar AS, mendukung momentum positif sepekan.

Sponsor
Iklan

Inflasi AS dan Tarif AS Jadi Fokus Sentimen

Menurut Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, penguatan rupiah minggu ini banyak didorong oleh harapan penurunan suku bunga The Fed, sejalan dengan data ketenagakerjaan AS yang melambat. Namun, lanjutnya, risiko pelemahan terbatas masih membayangi pekan depan akibat potensi kenaikan data inflasi tahunan baik dari sisi konsumen maupun produsen.

Selain itu, sentimen global dari pengenaan tarif AS terhadap negara-negara Asia, termasuk Indonesia, juga menjadi katalis tekanan hebat. Meskipun pasar telah mulai beradaptasi, ketidakpastian mengenai implikasi jangka panjang tetap mengemuka.

Rentang Pergerakan Diperkirakan Di Rentang Rp 16.250–16.375

Dalam menghadapi risiko tersebut, prediksi Josua menunjukkan rupiah akan bergerak secara terbatas, dengan kisaran antara Rp 16.250 – Rp 16.375 per dolar AS pada pekan mendatang kontan.co.id. Rentang ini mencerminkan ekspektasi pasar yang melihat kondisi stabil, namun tetap waspada terhadap guncangan eksternal.

Sudut Pandang Baru: Keseimbangan Risiko dan Peluang

Berbeda dari narasi sebelumnya yang menyorot penguatan semata, sudut pandang terbaru ini lebih menekankan keseimbangan antara risiko eksternal seperti inflasi dan tarif AS, serta ketahanan fundamental rupiah. Meskipun tekanan dari luar tidak seketat minggu sebelumnya, pelaku pasar kini lebih selektif dalam memosisikan aset.

Investor institusional cenderung mengkombinasikan strategi lindung nilai (hedging) dengan eksposur rupiah sebagai bagian dari portofolio diversifikasi. Di tengah volatilitas global, stabilitas seperti ini adalah oase bagi pasar negara berkembang.

Bank Indonesia dan pemerintah juga turut berada di garda depan menjaga stabilitas. Penguatan koordinasi kebijakan fiskal-moneter dan ketersediaan cadangan devisa yang sehat menjadi fondasi penting untuk menopang rupiah, terutama saat arus modal asing kembali mengendur.

Navigasi Pasar: Fokus pada Inflasi Konsumen dan Produsen AS

Di awal pekan depan, perhatian pasar global akan tertuju pada data inflasi AS terutama Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Produsen (PPI) yang menjadi acuan utama The Fed. Data ini diperkirakan memberi sinyal arah suku bunga dan menentukan tekanan selanjutnya terhadap rupiah.

Simultan, sentimen terhadap tarif AS tetap akan menjadi indikator penting. Konsumen dan pelaku pasar ASEAN, termasuk Indonesia, akan terus mencermati perkembangan kemunculan atau pelonggaran kebijakan tarif tersebut.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.